Sabtu, 13 Februari 2016

Keraton Surakarta, Kemegahan pada Masanya


Katanya, jalan-jalan di kota Solo belum lengkap tanpa mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Baiklah, saat kunjungan sehari tanggal 7 Februari 2016 yang lalu, akhirnya saya menyempatkan diri berkeliling Keraton Surakarta agak pagi sekitar pukul 09.30 setelah mampir sebentar di Pasar Gedhe.

Sepeda motor langsung saya arahkan menuju Gapura Gladak melewati Alun-alun Lor (Utara) yang digunakan untuk pasar sementara Pasar Klewer yang kebakaran beberapa waktu yang lalu. Jalan terus ke selatan, masuk melalui Kori Brojonolo Lor. Karena banyak yang parkir di area depan Kori Kamandungan, saya pun ikut memarkirkan sepeda motor di sana. Tepat di depan loket pembelian tiket masuk keraton. Untuk memasuki keraton, membayar tiket sebesar Rp 10.000,- jika ingin menggunakan jasa pemandu nambah bayar Rp 50.000,- belum termasuk tips-nya lho.

Kori Kamandungan

Karena saya sendirian, oleh bapak pemandunya dibarengkan sama Ibu-ibu (maaf, lupa namanya). Beliau sendirian juga, ke keraton dengan suatu maksud tertentu, dan ternyata sudah kenal juga sama bapak pemandu yang tak lain adalah abdi dalem keraton.

Ternyata, untuk memasuki keraton harus berjalan kaki lagi ke arah timur melewati gapura berwarna putih (maaf, saya nggak tahu namanya :D). Di sepanjang jalan, banyak orang-orang yang berjualan. Setelah berjalan kurang lebih 150 meter, maka di kanan jalan akan dijumpai pintu masuk keraton. Disambut oleh patung Susuhunan Paku Buwono X. Di sini pengunjung harap berhati-hati karena ada beberapa fotografer yang mencari mangsa untuk difoto di depan patung tersebut, yang kemudian akan dicetak dan diminta bayarannya ketika kita selesai mengunjungi keraton.

Keraton Surakarta atau lebih dikenal dengan Keraton Solo terletak di Kelurahan Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah. Dibangun oleh Susuhunan Paku Buwono II setelah istana yang sebelumnya di Kartasura hancur akibat pemberontakan orang-orang Cina yang dikenal dengan Geger Pecinan tahun 1740. Untuk lebih lengkapnya, bisa melihat silsilah Dinasti Mataram yang ada di dekat pintu masuk keraton.
Jaman keemasan Keraton Surakarta dialami pada masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono X. keraton Surakarta melakukan restorasi besar-besaran dengan percampuran gaya arsitektur antara Jawa dan Eropa dalam nuansa putih dan biru.

Untuk menuju ke pelataran keraton, yang merupakan bangunan inti dari seluruh bangunan yang keraton, pengunjung wajib mematuhi tata tertib yang diberlakukan. Contohnya tidak boleh memasuki pelataran keraton dengan menggunakan sandal, kalau sepatu sih boleh. Sandal harus dilepas (ada tempat penitipan sandal) alias tidak memakai alas kaki / nyeker. Peraturan lainnya bisa dibaca pada foto di bawah ini.



Pelataran ini seperti sebuah taman dengan banyak pepohonan. Sebagian besar yang ditanam adalah sawo kecik yang sudah berusia dua ratusan tahun. Bagi Kasunanan Surakarta, sawo kecik memiliki makna tersendiri. Pepohonan tersebut tumbuh di atas hamparan pasir yang konon diambil dari Pantai Parangkusumo. Di pelataran ini, pengunjung tidak bisa berjalan-jalan ke sembarang tempat karena sudah ada batas-batasnya.



Bangunan paling mencolok di sini adalah Bangsal Maligi. Di depannya terdapat beberapa patung bergaya  Eropa. Di sebelahnnya ada bangunan berkaca untuk tamu VIP.
Jika sedang beruntung, pengunjung bisa berfoto dengan prajurit keraton.




Masih ingat kan menara yang terlihat di foto Kori Kamandungan atas tadi? Nah, pintu masuknya berada di sebelah utara pelataran ini. Namanya Panggung Songgo Buwono. Menara dengan tinggi kurang lebih 30 meter tersebut berbentuk segi delapan. Susuhunan Paku Buwono III mendirikannya sebagai tempat meditasi bersama dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sebenarnya fungsi menara tersebut sebagai tempat mengintai gerak-gerik Belanda yang berpusat di Benteng Vastenburg dan sekitarnya.


Keluar dari pelataran keraton, saya diajak ke sebuah museum. Di museum ini terdapat 2 bangunan dengan 12 ruangan yang memanjang dan saling berhubungan. Beraneka ragam peninggalan bersejarah yang dipajang di dalam ruang museum. Dimulai dari ruangan pertama yang berisi foto-foto raja yang pernah berkuasa di Kasunanan Surakarta. Menurut bapak pemandu, yang paling terkenal adalah Susuhunan Paku Buwono X yang memiliki 42 istri berupa 2 permaisuri dan 40 selir.

Teras Museum

Ruangan dalam museum


Sebenarnya banyak benda-benda yang menarik dan menyimpan sejarah panjang di sini. Sayangnya, museum ini terlihat usang dan tidak terawat dengan penerangan yang seadanya serta cat yang sudah kusam. Koleksi-koleksi tersebut di antaranya yaitu alat kesenian tradisional. Beberapa contoh wayang kulit, aneka bentuk topeng, serta relief kesenian tayub dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga koleksi benda-benda pusaka seperti keris, pedang, senapan, tombak, dan lain-lain.

Wayang kulit & topeng

Krobongan

Di dalam museum terdapat 2 kereta kencana. Salah satunya bernama Kyai Groedo. Kereta ini adalah pemberian dari VOC kepada Susuhunan Paku Buwono II, pernah dinaiki oleh beliau ketika berpindah dari Kartasura ke Surakarta. Ada beberapa lagi yang ditempatkan di teras museum. Serta ada 2 kereta jenazah yang penah digunakan untuk membawa jenazah Susuhunan Paku Buwono X.

Kyai Groedo

Menurut penjelasan dari bapak pemandu, ada beberapa benda-benda yang dikeramatkan dan tidak boleh difoto. Di antaranya adalah sebuah gong yang rata bernama Gong Beri. Konon, gong tersebut bisa berbunyi sendiri (silakan bagi yang percaya atau tidak). Benda lain yang tidak boleh difoto adalah hiasan perahu Kyai Rajamala. Perahu ini digunakan sejak masa pemerintahan Susuhunan Paku Buwono IV dan pernah dibawa ke Madura.
Penjelasan tersebut saya dapatkan dari pemandu. Akan tetapi di benda-benda tersebut tidak ada keterangannya boleh difoto atau tidak. Jadi bagaimana jika ada pengunjung yang tidak mengetahui aturan tersebut dan malah menjadikan benda-benda itu sebagai latar belakang fotonya?

Di halaman museum, tepatnya di bawah pohon beringin besar terdapat sumur. Dikenal dengan nama sumur songo. Konon, dulunya di atas sumur tersebut Susuhunan Paku Buwono IX pernah bertapa selama 40 hari tanpa tidur dan makan. Sumur ini masih masih bisa digunakan, dan katanya air ini sangat jernih sehingga bisa diminum langsung.
Di dekatnya ada peninggalan yang lain berupa potongan kayu jati Kyai Dhanalaya yang berasal dari hutan Donoloyo.


Sumur Songo


Kiranya hanya itu yang bisa saya bagikan dalam tulisan ini. Sebenarnya banyak banget koleksi-koleksi museum yang menarik untuk diulas sejarahnya. Tapi ya masa iya saya tulis semua? Capek dong. Hahaa :D

Mengunjungi tempat-tempat cagar budaya seperti Keraton Surakarta merupakan cara belajar sejarah dan kebudayaan dengan efektif. Membayangkan betapa beruntungnya kita hidup di masa sekarang yang sudah tidak ada lagi peperangan untuk memperluas kekuasaan.

2 komentar:

  1. Jalan2nya seru banget. Museumnya juga cukup gede ya? dan foto-able banget. Aku belum pernah ke solo sama sekali, :D

    BalasHapus

Terima kasih dan selamat datang kembali :)