Selasa, 09 Februari 2016

Rekam Perkembangan Pers di Monumen Pers Nasional


Selamat Hari Pers Nasional!

Hari Minggu kemarin (7 Februari 2016) saya diberi kesempatan untuk jalan-jalan ke Solo. Selain mengunjungi Pasar Gede yang sedang ada acara Grebeg Sudiro dan Keraton Surakarta Hadiningrat, ada 1 tempat lagi yang sudah agak lama pengen saya kunjungi. Tempat tersebut adalah Monumen Pers Nasional, beralamat di Jl. Gajah Mada No. 59 Surakarta, Jawa Tengah. Saya kenal tempat ini pada saat acara Museum Mart 2015 di Museum Ranggawarsita Semarang. Nah, kebetulan sedang berada di Solo, jadi nggak ada salahnya mampir kan?


Foto di atas adalah gedung induk Monumen Pers Nasional. Di depannya terdapat 4 buah patung naga dengan badannya telentang ciptaan seniman Solo terkenal, Udiyanto Kusrin. Naga melambangkan kebijaksanaan, pun juga pujangga. Sedangkan filosofi naga telentang mempunyai arti agar masyarakat pers selalu introspeksi diri terhadap semua perilakunya.
Masing-masing memiliki arti simbolik:
1.       Proklamasi Republik Indonesia, 17-8-1945
2.      Lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), 9-2-1946
3.       Peresmian Monumen Pers Nasional oleh Presiden Soeharto, 9-2-1978
4.      Penyerahan gedung pelengkap (annex-building), 26-4-1980

Maket gedung Monumen Pers Nasional

Sebelum memasuki gedung induk, pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu terlebih dahulu. Biaya masuk? Gratis.

Sebelum menjadi Monumen Pers Nasional, gedung ini dulunya bernama Gedung Sasana Suka atau Societeit (Sositet) Mangkunegaran, semula merupakan gedung pertemuan bagi kerabat Mangkunegaran oleh pendirinya, Mangkunegara VII tahun 1918.

Di gedung ini pula, organisasi profesi kewartawanan pertama yaitu PWI terbentuk pada tanggal 9 Februari 1946, sehingga tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Pers Nasional.

Pada peringatan 4 windu usia PWI, tanggal 9 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan Monumen Pers Nasional. Pada gedung induk, terdapat prasasti peresmian sebagai bukti sejarah peresmian sekaligus perubahan nama dari Societeit / Sasana Suka menjadi Monumen Pers Nasional.


Memasuki Gedung Induk, pengunjung akan disuguhi sebuah aula yang tidak terlalu luas. Di ujungnya terdapat panggung. Ketika saya berkunjung, terdapat replika kapal di tengah-tengahnya dan sisi kanan-kiri dipajang beberapa berita dari surat kabar beberapa tahun silam mengenai perairan di Indonesia. Kemungkinan ini akan digunakan untuk Pameran Ekspose Media dalam rangka Hari Pers Nasional yang mengusung tema Pers, Maritim, dan Kesejahteraaan Rakyat pada 10-16 Februari 2016.


Di gedung ini pula terdapat 10 (sepuluh) patung dada  tokoh perintis pers Indonesia. 5 buah patung di lorong sebelah kanan dan 5 lainnya di lorong sebelah kiri.


Di antara kesepuluh tokoh tersebut, hanya ada 1 yang saya kira familiar. Beliau adalah Dr. Danudirdja Setiabudi (E.F.E Douwes Dekker), meskipun dilahirkan sebagai warga Belanda tetapi jiwa dan pikirannya diperuntukkan seluruhnya bagi bangsa Indonesia. Karir jurnalistiknya diawali dari kedudukannya sebagai reporter “Bataviaasch Nieuwsblad”. Tidak berapa lama, karena kebolehannya beliau menjadi redaktur pertama. Di Solo beliau menerbitkan “De Beweging”. Di Semarang beliau menerbitkan “Niewe Express”.

Adapun 6 (enam) diorama yang menggambarkan perkembangan pers di Indonesia. Perkembangan Pers tersebut sejak zaman pra sejarah sampai kerajaan Indonesia, zaman pendudukan Belanda (Kolonial), zaman penjajahan Jepang, zaman Kemerdekaan, Orde Baru, hingga Reformasi. 3 buah diorama di lorong sebelah kanan dan sisanya di lorong sebelah kiri.


Contohnya yaitu pada diorama pertama, digambarkan mulai zaman nabi, berita tentang berbagai peristiwa dibawa oleh burung. Hingga zaman kerajaan di Indonesia pemberitaan sudah menggunakan alat komunikasi kentongan dan daun lontar seperti “Nawala” (surat kabar yang dibaca raja).

Diorama 1

Masih di gedung induk, terdapat dua ruangan yaitu Ruang VIP / ruang rapat dan Ruang Media Center. Di Ruang Media Center, pengunjung dipersilakan menggunakan komputer yang tersedia untuk mengakses berbagai informasi. Kabarnya di sini tersedia internet dan ada WIFI-nya. Saya nggak nyoba sendiri sih :D

Ruang Media Center

Untuk menuju Ruang Koleksi Benda Pers, pengunjung bisa menuju ke pintu sebelah kiri. Sayangnya, ketika saya ke sana museumnya sedang tutup. Jadi hanya bisa menerawang isi museum lewat pintu kaca. Menurut satpam, buka hanya jam kerja saja. Ah, seharusnya museum ini ramah wisatawan dengan menerapkan jam buka di hari Minggu.

Mengintip bagian dalam museum pers

Menurut buku panduan yang saya baca, di dalamnya terdapat beberapa mesin ketik seperti milik Bakrie Soeraatmadja. Pemancar radio SRV / RRI “Kambing” karena dulu pernah diletakkan di kandang kambing saat berada di Balong, Kec. Jenawi, Karanganyar. Baju wartawan perang senior TVRI, Hendro Subroto. Peralatan terjun payung wartawan TVRI, Trisno Yuwono. Kamera wartawan milik Udin / Fuad Muhammad Syafruddin. Dan lain sebagainya.

Jika berbicara mengenai pers, tentu saja tidak luput tentang media cetak seperti surat kabar dan majalah. Di sini juga terdapat bukti fisik koleksi-koleksi surat kabar dan majalah lama.

Surat kabar dan majalah lama

Ruangan lain yang saya kunjungi (dan buka di Hari Minggu) adalah Perpustakaan Monumen Pers Nasional. Terletak di lantai 2. Perpustakaan ini mempunyai koleksi buku-buku di bidang pers, komunikasi, dan informatika, serta beberapa buku yang lainnya seperti fiksi.
Perpustakaan ini nggak luas, tetapi nyaman. Beberapa bangku serta meja dipersiapkan sebagai tempat yang digunakan untuk pengunjung jika ingin membaca. Buku-buku di sini juga bisa dipinjam asalkan sudah terdaftar sebagai anggota dengan melengkapi persyaratan dan mematuhi ketentuan yang berlaku.

Perpustakaan

Di depan gedung Monumen Pers Nasional disediakan papan baca yang bisa diakses oleh seluruh masyarakat yang ingin membaca berita. Beberapa koran lokal dan nasional dipajang di sini, diantaranya yaitu Solo Pos, Suara Merdeka, dan lain-lain.


Mengunjungi Monumen Pers Nasional sangat menarik. Selain refreshing, bisa juga sebagai ajang pendidikan. Mengenal perjuangan dan perkembangan pers zaman dulu hingga sekarang ini. Mungkin, suatu saat jika saya diberi kesempatan untuk berkunjung ke Solo saat weekday, saya akan berkunjung ke sini lagi. Atau mungkin suatu saat Monumen Pers Nasional memiliki kebijakan baru, buka di hari Minggu. Semoga yaa.. :D


5 komentar:

  1. Aku baru tahu ada momoenut pers :-(
    kudet banget ya :-D

    BalasHapus
  2. wah lengkap sekali informasi mengenai gedung persnya. bener ya itu refreshing sekalian mengenal sejarah..

    BalasHapus
  3. wah tempat ini keren juga yah mantap euuuyyy

    BalasHapus
  4. Kalo masuk ke sana bayar ga yah :)

    BalasHapus
  5. Pengen banget kesana, ajak dong. Ajak dong!

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)