Sabtu, 14 Februari 2015

Rasa itu aku sebut, cinta


Untuk kamu,
Lelaki yang kerap kali kusapa dengan inisial,

Hai, bagaimana kabarmu? Sehat kan? 5 hari tanpa pesanmu rasanya sudah terlalu biasa. Bahkan aku sanggup menunggumu kurang lebih satu setengah tahun, dengan rasa yang selalu sama seperti hari pertama kamu meninggalkanku.

Kamu sekarang sibuk apa? Apakah di seberang pulau sana kau sedang bersantai-santai di hari libur? Atau mungkin sedang menikmati cuti di kota kelahiranku? Semoga dimanapun kamu berada, Tuhan selalu melindungimu. Jangan lupa pakai jaket kalau kemana-mana, kau tak ingin membuat kulitmu gosong karena sinar matahari kan? Jangan lupa pula memakai baju hangat supaya tidak kedinginan di malam hari. Aku tahu, mungkin kau terlalu malas, tapi aku peduli padamu makanya aku mengingatkanmu. Lelaki yang terlampau sederhana, yang pernah membuatku nyaman dengan memandang senyumnya.

#30HariMenulisSuratCinta kali ini bertema “Just Say It!”. Entah kenapa, kupilih mengirimi kamu dengan rangkaian kalimat ini, yang sebenarnya juga bingung apa yang ingin aku sampaikan. Hehee.

Ratusan hari setelah kau pergi, aku masih sendiri. Kusesap tetesan kenangan manis yang kau beri melalui pesan-pesan singkat dalam handphoneku. Kutelan pula pil pahit hasil kebersamaan denganmu tanpa mengecap sedikitpun rasanya. Kukira baru kemarin kau menemaniku, kini sudah tak ada lagi canda tawa mesra yang keluar dari setiap percakapan denganmu.  Meski begitu, aku tidak pernah berniat melupakanmu, pun belum mampu mengganti tempatmu dengan orang baru.

Mata sipit yang dengannya aku pernah mampu melihat ketulusan, kini sudah tak tergapai lagi. Kamu pergi dengan membawa kekecewaanmu karenaku. Jujur, aku menyesal sudah membiarkanmu melenggang pergi tanpa bisa kutahan lagi. Setelah hari itu, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk memperbaiki hal-hal yang membuatmu muak dengan tingkahku. Hingga saat ini, aku masih berjuang menjadi lebih baik untukmu. Meski aku tahu, kau tidak lagi memandangku dengan rasa yang sama.

Menyayangimu adalah hal paling indah dalam hidupku. Aku mengerti rasanya memiliki keluarga kedua, keluargamu yang hangat padaku. Aku belajar menyatu denganmu, dengan keluargamu. Yang sekarang entah bagaimana kabarnya. Hei, apakah keluargamu sudah kau beri tahu kalau kita menempuh ‘jalan yang berbeda’ sejak lama? Sampaikan pula maafku pada keluargamu kalau aku sudah lama sekali tidak berkunjung ke rumah. Aku merindukan mereka, aku merindukanmu juga beserta setiap kenangan yang terukir rapi.

Aku masih yakin dengan rasa yang aku punya untukmu. Sejak saat itu dan sampai saat ini. Meskipun kamu pernah membangun tembok yang tinggi diantara kita, dan aku membangun pagar agar tidak bisa mengintip melalui celahnya, aku masih percaya jika selalu kamu yang memenuhi hatiku. Tidak mudah membohongi perasaan sendiri. Rasa itu aku sebut, cinta.
Dan mencintaimu adalah hal yang paling kompleks dalam hidupku.

Kamu masa laluku, akankah menjadi masa kini serta masa depanku?


Dari aku,
Yang tidak lupa melewatkan hari-hari dengan memikirkanmu, walau kau tak pernah tahu.




Dibuat untuk #30HariMenulisSuratCinta Hari ke-16

1 komentar:

  1. ya ampun aku kelewatan baca suratnyaaa
    semangat terus yaaaa

    BalasHapus

Terima kasih dan selamat datang kembali :)