Jumat, 13 Februari 2015

Untukmu, yang masih enggan kusebut



Kau tahu betapa sulitnya aku menghindari rasa yang memuakkan ini?
Rindu, begitu aku menyebutnya. Entah kamu. Kurasa tak pernah ada rindu dalam deru dadamu. Rindu yang memaksaku untuk memendam segala emosi yang perlahan akan meluap. Rindu yang hadir tanpa ucapan permisi, tanpa untaian kata. Tahu-tahu sudah memuncak dan membuat perih. Kau bahkan tak tahu bagaimana sulitnya memandangmu hanya melalui kenangan semu. Memikirkanmu saja sulit. Sulit untuk diterima kenyataan bahwa kau hanyalah seseorang di masa lalu yang mungkin saja tidak akan hadir kembali di masa yang akan datang. Tapi, tetap saja aku merindukanmu. Dengan segala perasaan yang kupunya, dengan segala suasana hati yang membuncah, memandang wajahmu melalui sosial media pun tak pernah sesederhana mengucap rindu. Namun, tak memikirkanmu itu jauh lebih sulit lagi, sepertinya malam selalu bersekongkol untuk menampakkan bayangmu.

Bukankah rindu yang terpendam itu lebih baik?
Aku cukup bahagia kau masih mau mengenalku, masih ingin berbincang denganku. Meski sangat singkat, meski tak bersahabat. Kurasa aku harusnya tetap berterima kasih padamu yang sempat mendengarkan suara hatiku. Berterima kasih untuk segala rasa dan lara oleh sebabku. Aku terima kenyataan ini, mungkin suatu saat kau akan luluh juga. Aku masih berharap selama ini, kau tahu? Ya, mungkin saja kau tahu karena aku pernah mengutarakannya. Tetapi tentu saja kadar tak pedulimu lebih terlihat nyata. Hahaa. Aku masih sanggup kok menyenangkan hatiku sendiri. Membuatmu seolah-olah ada di sisiku, berbincang hangat, hanya melalui angan, mimpi.

Kalau kau bertanya, apa yang membuatku selalu mengingatmu.
Aku akan menjawab Jogja. Sebuah kota istimewa yang sangat-sangat membuat hatiku terpana. Kota tempatku melepas penat, kota tempatku merindukanmu, kenangan bersamamu. Begitu juga kah kau? Ah sepertinya tidak. Jogja memang hanya tempatmu berpulang. Bodohnya aku yang masih saja berharap kau mengingat hal-hal beberapa tahun silam. Aku baru ingat, kau sudah dewasa, tentu saja lebih tahu siapa yang terbaik untukmu, yang pantas bersanding denganmu. Seseorang yang ada di depan, bukan di belakang, bukan masa lalu.

Ah maaf, aku memang suka melantur untuk membicarakan soal hati. Tentang kamu, tentang kita aku dan kamu, serta kenangan. Rindu ini sudah parah, dan tulisan adalah salah satu mediaku untuk menyampaikannya padamu yang entah berada dimana dengan keadaan yang bagaimana. Semoga kamu sehat selalu.


Dari:
Aku yang tak pernah bisa menyebutmu dengan panggilan nama. Aku yang tak pernah mengejamu dalam kalimat mesra. Maaf. Aku tak bisa. Cukuplah kau kusebut dengan kata “kamu, kau, atau seseorang”. Seseorang yang mempunyai pengaruh besar terhadap perasaan rindu di hati. Seseorang yang hanya sanggup kucintai dalam diam. Seseorang yang telah membuat hatiku tak karuan. Kamu.
Tetapi, kurasa kau paham siapalah aku ini.




Dibuat untuk #30HariMenulisSuratCinta Hari ke-15

3 komentar:

  1. Terkadang orang yang paling menderita adalah orang yang tersakiti akan rindu di dada :))

    BalasHapus
  2. aku juga biasa panggil dia dengan sebutan "kamu". lebih ngena aja. :D

    BalasHapus
  3. semoga suatu hari ada yang merasakan hal ini dan berani mengungkapkannya ke kamu. semangat yaaa.
    selamat Hari Kasih Sayang <3

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)