Senin, 21 Agustus 2017

Mengenal Kawasan Cagar Budaya Jogjakarta di Festival Jogjakarta Tempo Doeloe


Setelah sukses menggelar Pasar Kangen Jogja (PKJ) dengan tema tempo dulu-nya, Yogyakarta kembali menggelar event yang hampir serupa yaitu Festival Jogjakarta Tempo Doeloe (FJTD). Bertempat di Benteng Vredeburg Jl. A. Yani No. 6 Yogyakarta pada tanggal 10 - 14 Agustus 2017. Kegiatan ini gratis, tiket masuk Benteng Vredeburg saat itu pun gratis.


Festival Jogjakarta Tempo Doeloe (FJTD) merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh UPT Balai Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan mengambil tema "Riuh Eksotika Pelataran", Festival Jogjakarta Tempo Doeloe tahun 2017 berusaha mempopulerkan kembali Kawasan Cagar Budaya (KCB) yang ada di Yogyakarta.


Banyak kegiatan yang diselenggarakan dalam Festival Jogjakarta Tempo Doeloe, utamanya yaitu Pameran Kawasan Cagar Budaya. Pameran tersebut menampilkan beberapa cagar budaya yang ada di Yogyakarta, diantaranya yaitu Kraton Yogyakarta, Pakualaman, Museum Sonobudoyo, Museum Sejarah Purbakala Pleret, dan lain-lain. Beberapa koleksi dari masing-masing cagar budaya ditampilkan supaya pengunjung dapat melihat langsung benda-benda dari masa lampau.

Stand Kraton Yogyakarta

Stand Pura Pakualaman

Stand Museum Sonobudoyo

Panggung hiburan

Adapun berbagai macam perlombaan yang diselenggarakan oleh pihak panitia. Diantaranya yaitu lomba lukis, lomba esai, lomba vlog, lomba poster, lomba stand up comedy, lomba maket, dan lomba foto instagram. Hadiah yang menggiurkan ini pun membuat banyak orang mendaftarkan diri sebagai peserta. Pawai sepeda onthel turut memeriahkan Festival Jogjakarta Tempo Doeloe yang digelar pada Minggu pagi, 13 Agustus 2017 mulai pukul 06.00.

Waktu itu, saya datang di hari terakhir Festival Jogjakarta Tempo Doeloe. Suasana di Benteng Vredeburg lumayan ramai. Tak hanya dikunjungi oleh wisatawan nusantara, tetapi beberapa wisatawan mancanegara juga melihat-lihat pameran yang sedang diselenggarakan. Saya pun berkeliling melihat-lihat beberapa stand  yang buka.


Di teras ruang diorama Museum Benteng Vredeburg diletakkan maket-maket yang menjadi hasil karya para peserta lomba. Maket-maket tersebut berupa bangunan atai struktur cagar budaya yang terletak di 6 Kawasan Cagar Budaya (KCB) Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi KCB Kraton, KCB Malioboro, KCB Kotagede, KCB Imogiri, KCB Kotabaru, dan KCB Pakualaman.

Peserta lomba maket
 
Selain pameran cagar budaya, Festival Jogjakarta Tempo Doeloe juga menggandeng kuliner lawas / kuliner tempo dulu. Beberapa kuliner tersebut bisa dijumpai saat event Pasar Kangen Jogja.


Di antara kuliner-kuliner yang ada, saya tertarik untuk mencoba makanan bernama songgo buwono. Tidak yakin apakah makanan ini termasuk kuliner tempo dulu. Songgo buwono ini semacam burger tapi dengan bahan-bahan yang berbeda seperti roti sus yang di dalamnya diisi daging ayam, kentang, wortel, dan kuah, di atasnya diberi telur dan mayones sementara bagian bawah dialasi dengan daun selada. Makanan yang katanya adalah kesukaan Sri Sultan Hamengku Buwono VII itu bisa ditebus seharga Rp 10.000,- saja. Murah, enak, dan bebas bahan pengawet.

Songgo Buwono

Di sudut lain, benda-benda lawas khas pasar klithikan turut serta juga di Festival Jogjakarta Tempo Doeloe.



Puluhan sepeda onthel terparkir rapi di salah satu sudut. Ada satu stand yang bisa digunakan oleh pengunjung untuk berfoto bersama sepeda onthel.



Dengan adanya kegiatan ini, harapannya semoga masyarakat mengenali, menyadari, dan ikut serta melestarikan warisan budaya dan cagar budaya khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta — yang dikenal sebagai kota budaya.

Kegiatan ini sudah bagus, namun menurut saya, dalam pameran cagar budaya, materi yang ditampilkan terlalu sedikit dan kurang informatif. Saya rasa hal ini tidak ada bedanya ketika pameran museum beberapa waktu yang lalu. Ambil contoh, misalnya saja pameran di stand Kraton Yogyakarta dan stand Pakualaman, koleksi yang ditampilkan sama persis ketika pameran museum dengan pameran cagar budaya. Menurut saya, ketika pameran museum bolehlah menampilkan koleksi benda-benda yang ada di Kraton atau Pakualaman, tetapi ketika pameran cagar budaya akan lebih baik jika mengangkat tema struktur bangunan yang menjadi cagar budaya. Misalkan bangunan tersebut bergaya apa, filosofinya apa, dan sebagainya. Ini hanya menurut saya sebagai pengunjung lho ya :D

1 komentar:

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)