Selasa, 29 Agustus 2017

Candi Baru; Lantai Dua Kota Semarang


Minggu pagi (2 April 2017) sebelum pukul 08.00 saya sudah berada di Taman Gajah Mungkur Semarang untuk ikut jalan-jalan pagi bersama Bersukariawalk. Karena dirasa masih terlalu pagi dan peserta lain belum ada yang datang, maka saya manfaatkan fasilitas internet gratis dari Pemerintah Kota Semarang yang disediakan di Taman Gajah Mungkur. FYI, Kota Semarang sedang menerapkan program Semarang Smart City, dimana untuk mendukung program tersebut, Pemkot memasang wifi di taman-taman kota serta fasilitas publik untuk digunakan masyarakat dalam mengakses internet secara gratis.


Bersukariawalk adalah suatu kegiatan walking tour yang ada di Kota Semarang, tujuannya mengajak dan memberi informasi pesertanya mengenai tempat-tempat bersejarah khususnya di Kota Semarang. Sampai tulisan ini diterbitkan, mereka sudah merilis 9 rute diantaranya yang sudah saya ulas di blog ini adalah Pecinan Semarang, Spoorweg, dan Radja Goela.

Pagi itu, kami para peserta yang berjumlah 7 orang dipandu oleh mas Dimas akan menyusuri rute Tjandi Baroe (atau dalam bahasa sekarangnya: Candi Baru).

Kawasan ini pada abad ke-20 diciptakan untuk menampung kelebihan / kepadatan penduduk yang saat itu terkonsentrasi di kawasan Kota Semarang bawah. Pada saat itu, arsitek yang ditugasi untuk membangun wilayah elite di Candi Baru adalah Ir. Herman Thomas Karsten. Beliau adalah arsitek ternama pada masanya yang berseberangan pendapat dengan orang Belanda pada umumnya yang memisahkan / mengelompokkan pemukiman berdasarkan ras. Karsten lebih memilih untuk memisahkan / mengelompokkan pemukiman berdasarkan sosial ekonomi. Dan daerah Candi Baru ini diperuntukkan bagi orang-orang yang sosial ekonominya ke atas. Hal ini bisa dilihat dari bentuk rumahnya yang megah-megah. Kawasan Candi Baru berupa dataran yang lebih tinggi dibanding Kota Semarang bawah, bisa dibilang kawasan ini adalah lantai duanya Kota Semarang.

Meninggalkan meeting point di Taman Gajah Mungkur, tujuan pertama walking tour kami hanya berjarak sangat dekat. Cukup menyeberang jalan saja untuk sampai di Ereveld Candi. Seperti yang dijelaskan oleh mas Dimas, Ereveld Candi tidak ada hubungannya dengan rute Tjandi Baroe, akan tetapi ada cerita unik dari makam ini. Ereveld Candi dibangun tahun 1946, hal ini terbukti dari angka romawi yang tertera di gerbang depan makam. Ternyata Ereveld Candi ini masih bagian dari tanah Kerajaan Belanda. Salah satu buktinya yaitu tiang-tiang pembatas yang diberi cat berwarna merah putih biru.


Dulu, bendera Belanda masih sering berkibar, tapi karena banyak protes dari warga maka bendera teraebut hanya dikibarkan satu tahun sekali setiap tanggal 15 Agustus yang bertepatan dengan kekalahan Jepang di perang pasifik.


Di Semarang sendiri, ereveld ada dua yaitu Ereveld Candi dan Ereveld Kalibanteng. Meski tanah tersebut milik Kerajaan Belanda, tapi tidak semua yang dimakamkan adalah orang Belanda.

Seperti yang sudah disinggung di awal tadi, Ir. Herman Thomas Karsten mengelompokkan pemukiman berdasarkan ras, maka kawasan Candi Baru tak hanya diperuntukkan bagi orang-orang Eropa yang tinggal di Indonesia saja. Tujuan kedua walking tour kami adalah sebuah bangunan yang kini difungsikan sebagai restoran.



Dulu, rumah ini adalah milik orang Tionghoa, Thio Tiam Cong. Beliau adalah seorang saudagar kaya raya, bapaknya adalah pemilik yayasan Chinese English School (sekarang SMA N 5 Semarang). Hingga kini, makam orang tua Thio Tiam Cong masih bisa kita saksikan, letaknya berada di tepi Jl. Sriwijaya. Namun tak banyak orang yang paham mengenai makam dengan bongpay mewah tersebut.

Tak jauh dari tujuan kedua, kami menjumpai bangunan Puri Gedeh yang beralamat di Jl. Gubernur Boediono. Gubernur Boediono adalah gubernur Jawa Tengah setelah Mr. Wongsonegoro — yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di Kota Semarang. Puri Gedeh adalah rumah dinas gubernur Jawa Tengah. Sebetulnya tahun 90-an — pada masa Gubernur Soewardi dibangun Wisma Perdamaian di dekat bundaran Tugu Muda Semarang sebagai rumah dinas gubernur Jawa Tengah, akan tetapi hingga kini gubernur-gubernur Jawa Tengah lebih memilih tinggal di Puri Gedeh  dibanding di Wisma Perdamaian. Dari segi kenyamanan memang kawasan Puri Gedeh suasananya lebih tenang, tidak terlalu bising, juga banyak pepohonannya.


Bangunan Cagar Budaya yang bisa kita jumpai di sepanjang rute Tjandi Baroe adalah Hotel Candi Baru. Hotel ini dibangun tahun 1919 dan kini menjadi hotel tertua di Semarang menggantikan Hotel Jansen di Kota Lama Semarang yang sudah rata dengan tanah.


Hotel dengan warna dominan putih ini awalnya bernama Bellevu dan sempat beberapa kali berganti nama ketika berpindah kepemilikan, hingga setelah kemerdekaan diambil alih orang Indonesia dan namanya menjadi Hotel Candi  Baru.

Menjauh dari Hotel Candi Baru, tibalah kami di rute bonus (lagi) yaitu Pura Girinatha. Tetenger yang ngawe-ngawe di dekat pertigaan SPBU Gajah Mungkur membawa langkah kaki kami mendekat ke Pura.
Pura ini dibuka untuk umum, tetapi ada suatu bagian yang hanya diperuntukkan bagi umat yang bersembahyang saja. Karena di sini adalah tempat ibadah, hendaknya pengunjung harus mematuhi tata tertib di sana. Sambil beristirahat sejenak, kami jajan di kantin Pura yang menyediakan hidangan khas Bali.

Jauh meninggalkan Pura Girinatha, akhirnya kami sampai di tujuan terakhir yaitu Taman Diponegoro. Dulu dikenal dengan nama Raadsplein atau De Iongh Plein. Taman Diponegoro adalah salah satu bagian dari pengembangan kawasan Candi Baru yang dirancang juga oleh Thomas Karsten. Konsepnya dulu adalah sebuah taman kota, maka dari itu di sepanjang rute walking tour terasa rindang karena banyak pepohonannya.

Berdiri di tengah-tengah Taman Diponegoro, pikiran melayang seolah tengah berada di masa-masa Sekolah Dasar. Saat itu ketika tiba bulan Ramadhan, menjelang fajar terutama ketika hari libur, taman ini selalu penuh dengan orang yang berjalan-jalan, berolahraga, atau bersepeda memutari taman. Sungguh sebuah nostalgia yang menyenangkan.
Namun, sekarang Taman Diponegoro lebih sering sepi. Hanya sesekali saja dimanfaatkan untuk olahraga pagi. Padahal taman tersebut sudah dibangun menjadi lebih baik dan lebih indah. Sampai sekarang, yang masih dipertahankan adalah bangkunya yang hanya dicat saja, tak pernah diganti. Mungkin kalau Pemkot Semarang memasang wifi di taman ini, akan menjadi ramai seperti halnya di Taman Gajah Mungkur :D


Karena tujuan terakhir walking tour di Taman Diponegoro, maka saya memutuskan untuk memisahkan diri dari rombongan peserta lain yang kembali ke Taman Gajah Mungkur karena rumah saya sudah dekat dengan Taman Diponegoro.

Hingga walking tour berakhir, saya merasa bangga karena telah memanfaatkan fasilitas publik karya arsitek ternama pada masanya — Ir. Herman Thomas Karsten — selama bertahun-tahun yaitu di Taman Diponegoro.
Hal ini berkat Bersukariawalk dengan kegiatan positifnya. Bagi yang ingin ikut walking tour bareng Bersukaria, bisa banget kepo-in instagramnya di @bersukariawalk karena setiap weekend mereka akan ajak kamu jalan-jalan dengan sistem Pay as You Want. Nambah  pengetahuan sekaligus nambah temen baru. Kurang positif gimana lagi coba? :D

2 komentar:

  1. Masih nungguin rute ini :D
    Dua bulan ini gak ada jadwal candi baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu hari Minggu besok rutenya Candi Baru :D

      Hapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)