Rabu, 15 Maret 2017

Melihat Perjuangan Jenderal Sudirman Lebih Dekat di Museum Jenderal Besar Sudirman


“…Yang Sakit Adalah Sudirman,
Panglima Besar Tidak pernah Sakit…”
– Yogyakarta, 19 Desember 1948


Lokasinya yang strategis di Jalan Bintaran Wetan No. 3 Yogyakarta menarik minat saya untuk singgah sejenak di Museum Jenderal Besar Sudirman. Siapa sih yang belum kenal Jenderal Besar yang satu ini? Beliau dikenal sebagai pemimpin perang gerilya meskipun keadaannya saat itu sedang sakit dan harus ditandu.

Di bagian depan museum terdapat patung jenderal Sudirman sedang menaiki kuda dengan 2 buah meriam di sisi-sisinya. Bangunan rumah utama memiliki atap berbentuk sirap dengan pintu-pintu tinggi dan besar. Di kawasan museum ini juga terdapat prasasti sebagai tanda dimulainya perang gerilnya Jenderal Sudirman melawan tentara Belanda

 
Prasasti

Sebelum menjadi museum seperti sekarang, bangunan yang didirikan sekitar tahun 1890 ini beberapa kali beralih fungsi. Menjadi rumah kediaman resmi Jenderal Sudirman pada tanggal 18 Desember 1945 sampai tanggal 19 Desember 1948 setelah beliau dilantik menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat.


Museum Jenderal Besar Sudirman memiliki koleksi yang berkaitan dengan Jenderal Sudirman semasa hidupnya. Benda-benda bersejarah tersebut ditata menjadi 13 ruangan. Di antaranya yaitu ada 6 ruangan yang letaknya di rumah utama terdiri dari ruang tamu, ruang santai, ruang kerja, ruang tidur tamu, ruang tidur Pangsar Sudirman, dan ruang tidur putra-putri.


Sebagai seorang tokoh besar, benda-benda milik Jenderal Sudirman terlihat sederhana. Seperti meja, kursi, tempat tidur dan beberapa perabot makan serta minum.

Ruang Tamu

Ruang Kerja

Museum ini memang tidak banyak ragamnya dalam menyimpan benda-benda koleksi pribadi Jenderal Sudirman. Akan tetapi pengunjung disuguhkan jiwa besar dan keberanian beliau ketika mempertahankan kemerdekaan bangsa kita.

Di salah satu ruangan terdapat replika bangsal RS Panti Rapih yang pernah digunakan untuk merawat Jenderal Sudirman. Lengkap dengan meja dan kursinya.


Di museum ini juga terdapat ruang koleksi kendaraan. Selain mobil sedan, adapun dokar. Uniknya, dokar ini tidak ditarik oleh kuda melainkan oleh para pengawal Jenderal Sudirman.


Sedangkan di ruang koleksi Gunung Kidul dan Sobo terdapat benda-benda bersejarah yang pernah digunakan Jenderal Sudirman pada saat memimpin perang gerilya melawan Belanda. Dari benda-benda ini dapat digambarkan bagaimana penderitaan dan pengabdian Jenderal Sudirman dalam mempertahankan dan menegakkan kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Di akhir kunjungan, pengunjung akan menemukan tandu asli yang digunakan untuk mengusung Jenderal Sudirman dalam perjalanan gerilya memimpin perjuangan tahun 1948 – 1949. Dilengkapi dengan peta rute pada saat gerilya jenderal Sudirman.

Tandu

Koleksi pribadi Jenderal Sudirman


Setiap sudut ruangan dalam Museum Jenderal Besar Sudirman adalah saksi perjuangan beliau memerangi penjajah. Walaupun dalam keadaan sakit parah, sang jenderal tetap bersikeras melakukan gerilya untuk menyerang Belanda yang saat itu sudah menguasai Yogyakarta.


Waktu Kunjungan : Senin – Jumat ; Pukul 08.00 – 14.00
(Hari besar nasional dan hari Minggu tutup)
Tiket Masuk : Gratis, hanya mengisi buku tamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)