Kamis, 30 Maret 2017

Koleksi Museum Pos Indonesia, Tak Hanya Prangko


Rencana awal berkunjung ke Museum Geologi harus ditunda karena waktu itu penuh banget anak sekolah yang berwisata. Mereka datang dari berbagai kota dengan puluhan bus, jelas saya ngalah karena sudah pasti bakalan ramai banget. Makanya saya buru-buru mengganti destinasi yang nggak jauh dari Museum Geologi, yaitu Museum Pos Indonesia.


Beralamat di Jl. Cilaki 73 Bandung, museum ini berada di sayap kanan kantor pusat PT. Pos Indonesia. Letaknya pun cukup strategis, dekat dengan Gedung Sate, Lapangan Gasibu, dan di depannya adalah Taman Lansia.

Museum Pos Indonesia berdiri tahun 1931 dengan nama Museum PTT (Pos, Telepon, Telegrap). Semula hanya menyajikan benda koleksi sebatas prangko-prangko. Menyadari arti pentingnya peran dan fungsi museum sebagai sarana pendidikan, informasi, dan rekreasi, maka dilakukan upaya renovasi museum dengan tujuan agar dapat memelihara serta melestarikan kekayaan warisan budaya dalam pelayanan pos.

Bertepatan dengan Hari Bhakti Postel tanggal 27 September 1983 hasil renovasi tersebut diresmikan oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi dengan nama Museum Pos dan Giro. Kali ini benda koleksi tidak hanya terbatas pada prangko saja, akan tetapi diperluas dengan menambah benda-benda yang bernilai sejarah.

Seiring dengan perubahan status perusahaan dari perusahaan umum (Perum) Pos dan Giro menjadi PT. Pos Indonesia pada tanggal 20 Juni 1995 maka museum berganti nama menjadi Museum Pos Indonesia.


Seperti yang sudah saya tulis di atas tadi, ruang pameran museum berada di sayap kanan kantor pusat PT. Pos Indonesia. Lebih tepatnya di basement / bawah tanah. Jadi jangan heran kalau masuk ke museum ini kesannya lembab dan penerangan hanya seadanya. Tapi aman kok, saya aja sendirian masuk museum ini berani :D

Memasuki bangunan museum, pengunjung akan disambut oleh replika prangko pertama Hindia Belanda yang terbit pada 1 April 1864 dengan gambar Raja Willem III. Menariknya di museum ini adalah tidak dipungut tiket masuk alias gratis.


Benda-benda koleksi Museum Pos Indonesia terbagi menjadi 3 jenis yaitu koleksi sejarah, koleksi filateli, dan koleksi peralatan.

Koleksi Sejarah
Yang termasuk dalam koleksi ini adalah surat emas raja-raja (golden letter).
Pameran surat emas ini mempunyai 2 tujuan yaitu memperingati lebih dari empat ratus tahun hubungan Inggris – Indonesia , dan sebagai penghormatan terhadap keragaman dan kekayaan budaya tulis dan sarana komunikasi tradisional di Indonesia.


Surat-surat emas ini dialamatkan kepada raja dan pejabat tinggi Inggris dari para raja dan bangsawan berbagai daerah Nusantara. Ditulis dalam berbagai bahasa daerah, dengan wahana tulis antara lain kertas, daun lontar dan nipah, kulit kayu, bambu, perunggu, bahkan emas. Reproduksi yang dipamerkan sama ukurannya dengan naskah asli.

Selain itu juga maket gedung kantor pos Dili Timor Leste, foto-foto pimpinan perusahaan dari masa ke masa, ruang mini Mas Soeharto, dan lain-lain.


Mas Soeharto adalah Kepala PTT yang diculik oleh tentara Belanda pada masa Agresi Militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta. Sejak malam tersebut hingga kini jejak maupun jenazahnya tidak pernah ditemukan. Ia menghilang tanpa jejak, meninggalkan kesan yang tak pernah hilang dari sejarah Pos dan Telekomunikasi Indonesia.

Koleksi Filateli
Berbagai prangko menjadi koleksi Museum Pos Indonesia, baik prangko dalam negeri maupun luar negeri. Adapun koleksi prangko pertama Hindia Belanda. Koleksi filateli ini disusun dengan sangat rapi dalam bentuk album, ada juga yang disimpan dalam vitrin berdiri.





Koleksi Peralatan
Peralatan pos yang menjadi koleksi di Museum Pos Indonesia seperti bis surat, timbangan surat, timbangan paket, gerobak alat angkut pos, mesin stensil, mesin hitung, dan banyak lagi macamnya.



Bis surat biasanya diletakkan di tempat-tempat strategis seperti pinggir jalan, sehingga pengirim cukup memasukkan suratnya ke dalam bis surat, tidak perlu datang ke kantor pos. Bentuk dan ukurannya bermacam-macam.


Gerobak ini adalah alat angkut pos untuk barang dan surat. Digunakan di Kantor Pos Maluku pada masa kolonial Belanda sekitar tahun 1870.


Adapun sepeda roda dua merk Falter buatan 1938. Untuk mengangkut barang-barang pos dari stasiun kereta api, digunakan sekitar tahun 1950-an.

Berikut adalah diorama Pos Keliling Desa yang ada di Museum Pos Indonesia:


Sungguh, betapa mulianya jasa pak pos pada jaman dimana teknologi belum secanggih sekarang. Adakah yang pernah menunggu-nunggu pak pos mampir ke rumah untuk menyampaikan balasan surat yang telah dinanti selama berhari-hari? :D

Waktu kunjungan :       Senin – Jumat pukul 09.00 – 16.00 ; Sabtu pukul 09.00 – 13.00
(Minggu dan hari libur nasional tutup)
Tiket Masuk : Gratis

2 komentar:

  1. WAh dahulu mau ngirim surat aja lama banget ya mbak, nggak kayak sekarang :D

    BalasHapus
  2. jadi teringat zaman dulu kalo mau kirim surat.. nggak seperti skrang yg sdh canggih

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)