Sabtu, 18 Februari 2017

Asyiknya Berjalan Kaki Menyusuri Pecinan Semarang


Masih dalam rangka Imlek dan hujan melulu setiap hari, bikin mager. Termasuk nyelesaiin tulisan ini yang seharusnya terbit di akhir Januari tapi molor sampai pertengahan Februari. Gapapa kan ya? Nggak ada deadline-nya juga :D

Jadi ceritanya pas Imlek kemarin tanggal 28 Januari 2017 saya ikut gabung dengan @bersukariawalk yang mengadakan walking tour sekitar Pecinan Semarang. Kapan lagi coba tahu lebih banyak mengenai Pecinan kalau nggak ikut kegiatan yang seru ini?

Image : pecinansemarang

Sabtu itu adalah kegiatan kedua yang aku ikuti bersama @bersukariawalk. Keuntungannya ikut acara ini adalah bisa mengerti tentang sejarah bahkan seluk beluk bangunan di Kota Semarang sesuai dengan tema yang diambil. Namanya ‘walking tour’ ya! Jadi kita ya jalan kaki. Nggak begitu capek sih, kurang lebih 2 jam jalan. Selama berjalan kaki itu, kita didampingi seorang tour guide yang akan menjelaskan mengenai bangunan-bangunan apa saja yang kita lewati.

Nah, kalau biasanya kita didampingi Mas Dimas selama walking tour,  waktu jelajah Pecinan ini @bersukariawalk memakai tour guide baru, namanya Mas Fauzan. Dua-duanya sama-sama informatif dan pembawaannya santai kalau sedang menjelaskan.
Pukul 15.00 ditentukan sebagai jam dimulainya kegiatan. Waktu itu hujan deras tiba-tiba mengguyur, tapi nggak masalah bagi kami. Kegiatan tetap berlangsung karena para peserta walking tour sudah diingatkan untuk membawa payung / jas hujan selama kegiatan berlangsung.

Diiringi oleh rintik-rintik hujan yang dengan ributnya turun dari langit, Mas Fauzan bercerita mengenai ‘pecinan’ itu sendiri. Kenapa sih disebut kawasan pecinan? Karena banyak orang Cina? Karena banyak klenteng? Bukan.
Pecinan Semarang awalnya dimulai ketika Belanda menerapkan sistem Wijkenstelsel yaitu pemisahan orang-orang Tionghoa dengan pribumi. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya serangan lanjutan ketika orang-orang Tionghoa kalah dalam pemberontakan yang dikenal dengan nama Geger Pecinan pada tahun 1740. Hingga ratusan tahun kemudian, kawasan itu membentuk Pecinan Semarang seperti yang kita lihat sekarang. Ciri-ciri dari pecinan adalah bentuk bangunan rumah itu sendiri, salah satunya yaitu atap rumah yang khas berbentuk seperti pelana dengan ujung melengkung ke atas.


Pada masa Orde Baru, orang Tionghoa yang tinggal di Pecinan harus menghilangkan bangunan khas ke-Cina-annya. Jadi setiap rumah dibangun bertingkat 2, sehingga atap yang berbentuk pelana mau tidak mau harus dipotong. Akan tetapi sampai saat ini masih ada beberapa bangunan yang mempertahankan ciri khas tersebut.

Meeting point kami waktu itu adalah di Klenteng Tay Kak Sie. Otomatis pelajaran pertama kami adalah segala hal mengenai Klenteng Tay Kak Sie. Diceritakan bahwa dulunya klenteng ini letaknya di Gang Gambiran, namun kemudian dirubuhkan dan dibangun kembali di Gang Lombok tepatnya menghadap ke Kali Semarang – yang kini dikenal dengan Klenteng Tay Kak Sie.

Klenteng Tay Kak Sie disebut juga “istana para dewa” atau klenteng besar karena memiliki dewa yang paling banyak / paling lengkap. Ketika ada salah satu dewa yang berulang tahun, maka di halaman Klenteng Tay Kak Sie akan diselenggarakan pertunjukan wayang potehi. Meskipun tidak ada yang menonton, pertunjukan tetap dimainkan karena fungsinya untuk persembahan dewa.


Dari Gang Lombok, kami berjalan menuju Jalan Petudungan tepat di tepi Kali Semarang. Siapa sangka di sebuah bengkel las ini digunakan sebagai tempat latihan barongsai?

Atraksi khas Tionghoa ini paling dikenal oleh masyarakat pada umumnya dan menjadi tontonan yang sangat menarik. Barongsai sudah ada sejak abad ketiga sebelum Masehi, yaitu pada masa pemerintahan Dinasti Chin. Nama barongsai sendiri hanya dikenal di Indonesia, bukankah dalam bahasa Inggris disebut Lion Dance?

Walaupun hujan masih mengguyur, kami tetap bersemangat untuk berjalan menyusuri kawasan Pecinan Semarang. Kali ini kami sudah memasuki Gang Pinggir. Beberapa klenteng berdiri di sepanjang Gang Pinggir, akan tetapi hanya satu yang biasa disebut Klenteng Gang Pinggir yaitu Klenteng Tong Pek Bio. Klenteng ini juga ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Di klenteng ini, dewa yang dipuja adalah Dewa Bumi.


Masih di sepanjang Gang Pingir, klenteng berikutnya yang kami sambangi adalah Klenteng Ling Hok Bio. Awalnya klenteng ini adalah klenteng milik keluarga akan tetapi pada tahun 1999 dibuka untuk umum. Di klenteng ini, dewa yang dipuja adalah Dewa Bumi.


Selanjutnya adalah Klenteng Tek Hay Bio atau disebut juga dengan Klenteng Sinar Samudera. Menariknya adalah klenteng ini dibangun untuk memuja Tek Hay Cin Jin ( gelar yang diberikan kepada Kwee Lak Kwa ). Beliau dihormati sebagai dewa pelindung perdagangan di laut, terutama di Pantai Utara Pulau Jawa.


Ceritanya, Kwee Lak Kwa adalah pedagang yang sering bolak balik Palembang – Jawa. Akan tetapi ketika Geger Pecinan, ia menjadi salah satu pemimpin orang Tionghoa. Sayangnya pada tahun 1742 ia ditangkap oleh VOC dan hilang di sekitar Tegal. Mitosnya, nelayan-nelayan yang sedang berlayar sering melihat penampakan Kwee Lak Kwa sedang menolong nelayan yang sedang kesusahan. Dari situ, Kwee Lak Kwa mulai dianggap bukan manusia biasa.

Kami – para peserta walking tour – juga diajak untuk memasuki gang-gang sempit di sekitar Pecinan, seperti Jalan Sebandaran. Disebut Sebandaran karena di lokasi tersebut pernah tinggal seorang syahbandar.

Siapa sangka di sini kami bisa menemukan 2 buah klenteng yang letaknya agak berdekatan. Yang pertama kami singgahi Klenteng Hwie Wie Kiong. Klenteng ini didirikan pada tahun 1814. Awalnya adalah klenteng keluarga marga Tan, akan tetapi sekarang terbuka untuk umum. Katanya, ketika hari Jumat sore, pengunjung bisa melakukan ramalan nasib / ciam sie.
 
Sepelemparan batu dari Klenteng Hwie Wie Kiong, kami sampai di sebuah klenteng yang seperti tidak terawat meskipun ini adalah klenteng paling muda yang ada di Pecinan, namanya Klenteng See Hoo Kiong. Biasanya klenteng-klenteng dicat dengan warna merah menyala, bedanya klenteng ini dibiarkan apa adanya. Konon, hal tersebut tidak mendapatkan izin dari sang dewa.



Di klenteng ini memuja Dewi Laut, yang dipercaya memberikan perlindungan kepada mereka yang melakukan perjalanan laut. Dulu sebelum banyak bangunan di Sebandaran, klenteng ini langsung menghadap ke Kali Semarang.

Menariknya dari Klenteng Hwie Wie Kiong dan Klenteng See Hoo Kiong adalah keduanya sama-sama memiliki halaman yang lumayan luas, tidak seperti klenteng-klenteng di Pecinan lainnya.

Satu lagi klenteng yang berada di dalam gang kecil adalah Klenteng Hoo Hok Bio. Klenteng ini memuja Dewa Bumi. Letaknya agak tersembunyi di Gang Cilik. Pengunjung bisa mengaksesnya dari Gang Gambiran atau Gang Baru. Menariknya dari klenteng ini adalah ketika ada dewa yang berulang tahun, patung sang dewa diarak / dikirab mengelilingi Pecinan.


Dan yang terakhir adalah Klenteng tertua di Semarang, namanya Klenteng Siu Hok Bio. Sampai sekarang, klenteng ini masih berdiri dan ukurannya paling kecil dibandingkan klenteng-klenteng lain di daerah Pecinan. Dewa yang dipuja adalah Dewa Bumi. Letaknya berada di Jalan Wotgandul, persis di pertigaan Gang Baru.


Kenapa sih kebanyakan di klenteng-klenteng memuja Dewa Bumi?
Mungkin hal itu disebabkan karena masyarakat Indonesia pada umumnya bergerak di bidang agraris, oleh karena itu menyembah Dewa Bumi dianggap bisa mendatangkan rezeki.

Tak hanya menyambangi delapan klenteng di sekitar Pecinan Semarang, kami juga dijelaskan hal-hal lain seperti:
·         Sejarah Pasar Gang Baru
·         Pengrajin rumah kertas Ong Bing Hok
·         Pengrajin ukiran batu Bong Pay
·         Pelukis jari Tan Eng Tiong
·         Reklame jaman dulu di ujung Gang            Gambiran
·         Serta industri makanan seperti Pia dan     kue bulan “Bayi”

Karena tahun Ayam, jadi patungnya ayam :D


Kami juga ditunjukkan beberapa arsitektur khas Tionghoa yang masih bertahan di seputar Pecinan Semarang yaitu rumah dengan ciri-ciri model jendela yang dibuka ke atas dan ke bawah. Daun jendela yang dibuka ke atas berfungsi sebagai kanopi sedangkan yang dibuka ke bawah berfungsi sebagai meja untuk berjualan.


Akhir dari jelajah Pecinan, kami dibawa menyusuri Gang Warung yang khas dengan Waroeng Semawis ketika weekend (buka ketika Jumat, Sabtu, dan Minggu saja). Sayangnya waktu itu banyak warung-warung yang belum buka karena hujan deras masih mengguyur Kota Semarang.

Tertarik untuk menjelajahi Kota Semarang seperti yang saya ceritakan di atas?
Kalian bisa gabung bersama @bersukariawalk. Biasanya mereka memasang jadwal di instagram atau websitenya, follow aja :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)