Rabu, 22 Februari 2017

Jelajah Jalur Kereta Api di Semarang


 
“Semarang itu potensinya bagus lho, kenapa sih wisatawan jarang yang melirik?” kata mas Dimas selaku tour guide Bersukaria Tour.
Sebagai kota tempat saya dilahirkan sekaligus dibesarkan, saya merasa tergugah dengan kegiatan walking tour yang digagas oleh Bersukaria Tour. Mungkin sebelum-sebelumnya juga pernah ada kegiatan serupa, tetapi saya baru pertama kali tahu ketika Bersukaria Tour memposting jadwal kegiatannya di instagram mereka – @bersukariawalk

Seperti yang pernah tertulis di posting sebelumnya, saya pernah ikut kegiatan ini saat jelajah Kota Lama Semarang, Pecinan Semarang, dan kali ini untuk yang ketiga kalinya bertema “Spoorweg”. Kali ini kami – para peserta walking tour diajak berkeliling Kota Semarang menyusuri sejarah perkeretaapian. Meeting point kami di Stasiun Besar Semarang Tawang pukul 09.00. Kali ini pesertanya lebih banyak dibandingkan 2 walking tour yang pernah saya ikuti sebelumnya.

Berdasarkan penjelasan dari mas Fauzan sebagai tour guide, Semarang adalah kota dimana kereta api pertama kali dibangun. Jalur Semarang menuju Tanggung sepanjang 26 km adalah jalur kereta api pertama kali dibuka.
Dulu, sebelum adanya PT. KAI di Semarang ada beberapa maskapai kereta api seperti NIS (Nederlands - Indische Spoorweg Maatschappij), SJS (Semarang - Joana Stoomtram Maatschappij), SCS (Semarang - Cheribon Stoomtram Maatschappij), dan lain-lain. Uniknya, masing-masing maskapai tersebut memiliki stasiun dan rutenya sendiri-sendiri.

Kereta api lokal zaman dulu dikenal dengan nama trem. Tak hanya ditarik oleh lokomotif, trem pernah juga ditarik oleh kuda.Trem pertama kali ada di Semarang pada tahun 1882. Dan mulai dihentikan penggunaannya tahun 1940-an. Bisa dibilang trem pernah menjadi angkutan masal primadona masyarakat Kota Semarang.

Destinasi pertama kami adalah Stasiun Tawang.
Diresmikan penggunaannya pada tanggal 1 Juni 1914 oleh NIS (Nederlands - Indische Spoorweg Maatschappij). Dibangun untuk menyambut Koloniale Tentoonstelling – perayaan 100 tahun lepasnya Belanda dari kekuasaan Perancis. Ironisnya, perayaan tersebut diselenggarakan besar-besaran di negara yang mereka jajah.
 

Menengok lebih lanjut mengenai arsitekturnya, bisa dilihat di bagian boarding stasiun terdapat 4 pilar / tiang utama (disebut juga soko guru) yang mengadopsi gaya adat Jawa. Sementara atapnya dibuat tinggi untuk melancarkan sirkulasi udara. Karena bangunan-bangunan zaman dulu tidak dipasang AC. Cuaca di Semarang kan adanya panas dan panas banget ya? :D


Stasiun yang lebih besar dan lebih bagus daripada stasiun besar lainnya di Semarang ini, dulu dipakai oleh NIS (Nederlands - Indische Spoorweg Maatschappij) yang memiliki kantor di Lawang Sewu. Iya, Lawang Sewu yang dikenal mistis itu. Abaikan dulu aura mistis beserta segala macamnya, tetapi lihatlah gedungnya yang bisa dibilang megah.


Jika ingin mengetahui lambang NIS, bisa melongok ke bagian depan gedung yang bentuknya menyerupai kala – salah satu bagian candi – berwarna hitam. Keunikan lainnya adalah talang air berwarna hitam yang bentuknya mirip dengan yoni (simbol dari alat kelamin wanita, erat kaitannya pada batu candi). Di Stasiun Tawang juga bisa ditemukan talang air dengan bentuk yang sama.


Setiap tahunnya, Stasiun Tawang dan sekitarnya selalu dihadapkan oleh penurunan tanah dan ancaman air rob karena letaknya dekat dengan pelabuhan. Bahkan Stasiun Tawang sempat direncanakan akan dibongkar pada tahun 1980-an. Namun hal ini ditolak oleh PT. KAI karena keberadaan Stasiun Tawang mempunyai nilai historis bagi Semarang. Untuk itu, dibangunlah polder – yang letaknya tepat di depan stasiun – sekitar tahun 2000 yang fungsinya mengatur sirkulasi air.

Keluar dari Stasiun Tawang, kami ditunjukkan beberapa rumah dinas pegawai PT. KAI yang bergaya art deco. Keunikan ini bisa dilihat pada bagian atapnya yang dibuat tinggi.


Tak jauh dari sana, kami dibawa menuju ke bangunan lama yang sudah tak terawat. Siapa sangka bahwa bangunan itu adalah aset PT. KAI? Bangunan ini adalah ex. Kantor SJS (Semarang - Joana Stoomtram Maatschappij).


Di walking tour ini kami diberitahu mengenai stasiun yang dibangun pertama kali di Semarang. Katanya, sekarang fisik stasiun tersebut sudah tidak ada, tetapi kami ditunjukkan sebuah masjid hijau yang kemungkinan dulunya bangunan stasiun berada di sekitar sana.

Selain itu, kami juga dikejutkan oleh keberadaan stasiun zaman dulu yang sekarang sudah beralih fungsi. Stasiun ini bahkan menjadi stasiun paling besar di Semarang (pada masanya) mengalahkan Stasiun Tawang sekaligus menjadi stasiun pusat trem di Kota Semarang, namanya Stasiun Jurnatan.
Stasiun ini pertama kali dibangun menggunakan kayu, setelah itu direnovasi menjadi bangunan permanen. Dulu, Stasiun Jurnatan menjadi stasiun pusat trem milik SJS.

Sumber : Wikipedia

Stasiun Jurnatan sempat beralih fungsi menjadi terminal bus kemudian dibongkar pada tahun 1980-an. Sekarang, bekas Stasiun Jurnatan telah menjadi ruko. Bukti bahwa di tempat tersebut pernah menjadi stasiun adalah patok bertuliskan PT. KAI.


Terletak agak jauh dari pemberhentian terakhir – sekitar Kota Lama Semarang – kami naik angkutan umum menuju Jl. M.H. Thamrin. Di gedung yang sekarang ditempati sebagai kantor PT. KAI DAOP IV Semarang, dulunya juga menjadi kantor maskapai kereta api juga. Bedanya, bangunan ini dulu ditempati oleh 4 maskapai kereta api yaitu SJS (Semarang - Joana Stoomtram Maatschappij), SCS (Semarang - Cheribon Stoomtram Maatschappij), dan dua yang lainnya lupa hehee :D
Gedung ini dibangun oleh arsitek terkenal pada masanya, Herman Thomas Karsten pada tahun 1930. Di depan gedung ini diletakkan lokomotif buatan Inggris yang hanya dibuat sebanyak 8.000 saja.
Jujukan terakhir kita adalah Stasiun Poncol. Di sini kami hanya numpang lewat saja menggunakan bus BRT. Dibangun pada tahun 1914. Stasiun ini dulunya milik SCS (Semarang - Cheribon Stoomtram Maatschappij) yang anehnya kantor pusatnya berada di Tegal.


Cerita unik mengenai Stasiun Poncol dan Stasiun Tawang diungkapkan oleh mas Fauzan. Konon, dulu kedua stasiun tersebut rel-nya nggak nyambung. Kok bisa rel-nya nyambung seperti yang kita lihat sekarang?
Yuk temukan jawabannya saat ikut walking tour bersama Bersukaria. Follow aja instagramnya di @bersukariawalk untuk update jadwal. Nggak perlu bayar mahal-mahal kok buat ikut karena tagline mereka ‘pay as you want’ :D
*ini bukan bantu promosi* *kali aja ada yang mau belajar sejarah**kali aja dapat teman baru* *kali aja ketemu jodoh di sana* *eh*

Sekarang, perkeretaapian di Indonesia hanya dipegang oleh PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Semua aset yang berhubungan dengan kereta api peninggalan zaman dulu di Semarang, kini diambil alih oleh PT. KAI.

Siapa di antara pembaca di sini yang belum pernah naik kereta api? Sayang banget lho. Karena kereta api sekarang ini sudah lebih baik. Nggak ada lagi gerbong yang panas, semua sudah dipasang AC, dan yang paling penting ada stop kontaknya juga *serius, ini bukan promosi* :D

11 komentar:

  1. Baru tau ada ada tour kaya gini di Semarang. Padahal sering ke sana. nice info :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru mbak, jalan sambil belajar sejarah. Coba ikut kalau pas ke Semarang :)

      Hapus
  2. Selama ini cuma lewat belum pernah mampir kecuali lawang 1000 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lawang sewu malah saya belum pernah hahaa :D

      Hapus
  3. Mantap, bsa jadi rekomendasi nih.. Kebetulan pas april nanti nanti, sya mau main ke semarang..

    BalasHapus
  4. Wah, asyik banget ini, mbak.
    Minat juga nih, saya. Semoga April nanti ada agenda yang pas.

    Salam
    @nuzululpunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibikin pas aja agendanya biar bisa ikut. Hehee :)

      Hapus
  5. wih kunjungan yang keren habis

    BalasHapus
  6. Wih ... keren banget nih. Iya sih, kalau nggak baca blog ini, saya nggak tahu, hehe.

    BalasHapus
  7. kalau ada info seperti ini saya pingin banget untuk ikut, apalagi berkaitan tentang kereta ::)

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)