Kamis, 08 Desember 2016

Pengalaman Naik Bus Tingkat Wisata "Werkudara"


Pernah berkunjung ke Surakarta atau yang lebih dikenal dengan Kota Solo? Katanya sih belum sah ke Solo kalau belum mengunjungi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Tahukah Anda kalau di Solo juga ada keraton yang lebih kecil bernama Pura Mangkunegaran? Oke, sebenarnya saya sedang basa-basi, aslinya bukan mau bahas ini :D


Kalau sebagian besar orang tahu mengenai Keraton Surakarta, maka tak banyak orang mengetahui bus wisata yang ada di Kota Solo. Mungkin yang asli orang Solo sendiri nggak banyak yang tahu bus wisata ini. Namanya Werkudara. Iya, bus tingkat wisata ini namanya Werkudara, berasal dari nama salah satu tokoh Pandawa dalam pewayangan. Bus yang dominan berwarna merah ini memang khusus digunakan sebagai wisata.


Minggu, 4 Desember 2016 saya mendapat kesempatan untuk mencoba bus tingkat wisata Werkudara setelah bisa mengundur jadwal dari hari Minggu sebelumnya. Bus wisata ini hanya beroperasi pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur. Ada 3 keberangkatan per harinya yaitu pukul 09.00, 12.00, dan 15.00. Untuk hari-hari biasa bisa disewa (carter) dengan biaya Rp 800.000,- per 3 jam.
 
Karena melakukan pemesanan tiket melalui SMS, sekitar jam 09.00 saya sudah di SMS dalam rangka diingatkan untuk naik bus tingkat siang hari nanti. Kurang dari 15 menit sebelum keberangkatan bus pukul 12.00 lagi-lagi di telepon untuk konfirmasi keberangkatan. Mungkin maksudnya baik biar nggak terlambat, tapi heran deh saya udah di depan kantornya persis, 5 langkah juga sampai di loket :D


Setelah mengambil tiket, saya langsung masuk ke dalam bus dan memilih tempat duduk di tingkat atas sebelah kiri. For Your Information, deck atas bus ini nggak ada jendelanya alias bolong. Jadi penumpang harus berhati-hati sekali kalau tersambar dahan pohon yang nyelonong ke dalam bus.


Beberapa detik setelah nyaman di tempat duduk, sambil menunggu bus berjalan saya lihat-lihat sekeliling bus yang penumpangnya banyak pasangan bapak – ibu – balita. Awalnya merasa…
‘wiih, keren nih ada monitor LCDnya buat hiburan walaupun lagu-lagu dangdut’
Sampai akhirnya pukul 12.00 tepat bus keluar dari garasi dan merasa…
‘Loh, kok lagu dangdutnya masih nyala aja, nggak dimatiin?’
‘Nggak ada tour guidenya nih?
‘Oke, mungkin baru jalan, belum ada tempat menarik’



Keluar dari Kantor Dinhubkominfo di Manahan, bus melaju melewati depan Stadion Manahan menuju perempatan Manahan (Jl. Ahmad Yani). Baru sampai di sini gerimis mulai mengguyur Kota Solo. Alhamdulillah nggak terlalu lebat, jadi penumpang deck atas masih tergolong aman untuk duduk santai di tempatnya masing-masing tanpa harus menutup jendela dengan plastik tebal yang sudah disediakan.

Bus melewati depan Stasiun Purwosari, berjalan ke arah timur. Tepat di rel bengkong, palang kereta api ditutup pertanda sebentar lagi akan ada kereta yang lewat. Kupikir KA Bathara Kresna, tapi ternyata kereta uap. Namanya Jaladara, kereta ini menggunakan bahan bakar kayu jati. Selain itu, kereta uap Jaladara juga dilengkapi dengan 2 gerbong yang terbuat dari kayu jati. Sungguh sebuah kebetulan yag menyenangkan bisa berpapasan dengan kereta uap karena beberapa kali ke Solo belum pernah melihatnya secara langsung.


By the way... Pertanyaan besar dalam benak saya terjawab ketika bus melewati Jalan Slamet Riyadi, salah satu jalan utama di Kota Solo. Tour guide bus tingkat wisata Werkudara, ada! Cuma ya gitu bikin saya kecewa. Si mbak pemandu ini nih sepertinya harus lebih banyak ngomong. Apa sih gunanya pemandu kalau cuma bilang...
“Bisa kita lihat di sebelah kanan kita adalah Grand Mall, salah satu pusat perbelanjaan di Kota Solo.”
Diem lagi…
“Bisa kita lihat di sebelah kanan kita adalah Loji Gandrung.”
Diem lagi…
“Bisa kita lihat di sebelah kanan kita adalah Stadion Sriwedari.”
Diem lagi…
“Bisa kita lihat di sebelah kanan kita adalah Taman Sriwedari.”
Diem lagi… lamaa…


Serius nggak pakai bohong, cuma gitu-gitu doang kerjaan pemandunya. Oke, untuk Dishub Solo saya rasa bisa lah mengelola bus tingkat wisata Werkudara – yang dari depan terlihat megah – jauh lebih baik daripada sekarang ini. Kalau cuma jalan sambil lihat-lihat mah dari google maps juga bisa :D

Saya pikir-pikir juga banyak hal yang bisa disampaikan ke penumpang selain kalimat-kalimat tour guide yang saya sebut di atas. Seperti misalnya Stasiun Purwosari. Come on, orang asli Solo udah pasti paham ada 4 stasiun kereta api di Kota Solo. Saya aja yang bukan orang Solo juga tahu kok. Coba ditambah beberapa keterangan seperti kapan dibangunnya, siapa arsiteknya, kenapa bisa rel kereta apinya melewati jalan raya. See... banyak yang bisa dibahas daripada mbaknya cuma mainan smartphone *eh maap* *tapi beneran* :D

Saya bisa kasih masukan seperti ini karena beberapa waktu yang lalu pernah merasakan naik Surabaya Heritage Track (SHT) di Surabaya yang dikelola oleh House of Sampoerna, GRATIS. Cuma satu jam perjalanan sudah bisa bikin ketagihan.
Kalau untuk naik bus tingkat wisata Werkudara ini, nggak yakin deh mau mengulang untuk kedua kalinya sebelum ada perubahan yang signifikan. Maaf yaa… Mungkin dolanku kadohan (terlalu jauh)… :D

Penumpang bus tingkat wisata Werkudara diperkenankan untuk keluar dari dalam bus untuk berfoto atau mengabadikan diri selama bus berhenti kurang lebih 15 menit di depan gedung Bank Indonesia, seberang Benteng Vastenburg. Setelah itu bus melanjutkan perjalanan sampai di Kebun Binatang Jurug. Sebelum putar balik, penumpang yang duduk di deck atas harus bergantian tempat dengan yang duduk di deck bawah. Biar semua penumpang bisa merasakan hawa di atas dan di bawah. Tapi sepertinya tempat duduk di bawah lebih sedikit daripada yang di atas.

Jalan ke mana kita???

Lagi-lagi saya merasakan sayang banget mbak-mbak tour guide tidak menjelaskan mengenai icon sejarah di Kota Solo seperti Tugu Pemandengan, Tugu Cembengan, dan Tugu Kebangkitan Nasional / Tugu Lilin. Menurut saya sih penting untuk dikenalkan ke masyarakat, tapi mbaknya tour guide memilih diam saja, yasudahlah...

KM Nol Kota Solo

Maapin lah, beberapa saat setelah pindah ke deck bawah, saya tertidur. Sehabis hujan memang hawanya enak banget ditambah semilir AC yang dinginnya syahdu. Apalagi capek habis perjalanan naik kereta api dari Semarang. Bangun-bangun udah sampai di dekat Tugu Lilin :D


NB:
·         Bagi yang ingin naik bus tingkat wisata Werkudara, tiket bisa didapatkan langsung dengan mengunjungi kantor Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kota Surakarta di Jalan Menteri Supeno No. 7 Manahan pada hari dan jam kerja.
·          Bisa juga melakukan pemesanan dengan Indri (085642005156) atau Sandi (085229790462).
·         Harga tiket eceran Rp 20.000,- per orang.
·         Lebih baik pesan jauh-jauh hari karena selalu penuh.

4 komentar:

  1. Menarik ya Mbak keliling Solo, kebetulan saya juga tinggal di Solo sekarang.
    Walau kota kecil, banyak yang bisa dinikmati di kota ini, terutama kulinernya yang bisa dikatakan tidak pernah berhenti.
    Semoga gak bosan untuk mengunjungi kota Solo lagi :)

    BalasHapus
  2. Mbak pemandunya mungkin udah capek ngomong seharian :-D

    BalasHapus
  3. wah belum pernah nih, ok deh nanti kalau ke sana harus coba nih

    BalasHapus
  4. Hallo, saya Meyda Risma, dari media online Tirto.id. Saat ini saya sedang mencari narasumber yang pernah menaiki bus wisata Werkudara. Apakah saya boleh minta kontak Anda untuk menanyakan pengalaman menaiki bus wisata tersebut? Terima kasih.

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)