Sabtu, 19 November 2016

Museum Kretek Kudus, Tak Hanya Sekedar Museum


Sebenarnya tempat ini sama sekali tidak direncanakan untuk disambangi, namun berhubung waktunya ada jadi nggak ada salahnya mampir sejenak. Hari Minggu, 16 Oktober 2016, jam tangan menunjukkan pukul 13.00 ketika saya baru saja keluar dari Museum Situs Pati Ayam, Kabupaten Kudus. Rasanya masih terlalu terik kalau harus pulang ke Semarang. Dari gagasan inilah, muncul opsi untuk mengunjungi Menara Kudus atau Museum Kretek. Sempat mengendarai motor lewat jalan sekitar Menara Kudus dan penuh banget pengunjungnya (iya lah, namanya juga hari libur), maka satu-satunya tujuan yang pasti adalah berkunjung ke Museum Kretek.



Letaknya tak begitu jauh dari Alun-alun Kudus atau Simpang 7 Kudus, sekitar 2,5 – 3 kilometer saja. Bangunannya pun gampang dicari, meski harus masuk ke pemukiman warga. Gapura berwarna merah menyala dengan tulisan “Museum Kretek” akan menyambut pengunjung sebelum masuk ke kompleks museum. Di gapura ini, pengunjung akan diminta tiket masuk sebesar Rp 3.000,- per orang belum termasuk jasa parkir Rp 2.000,- untuk sepeda motor.

Ternyata di kompleks museum ini tidak hanya ada museum saja, tetapi dilengkapi juga dengan berbagai wahana dan permainan anak-anak. Pantesan tempat parkirnya penuh *eh maap* :D

Bedanya, kalau ingin menikmati wahana permainan yang tersedia, pengunjung harus membayar tiket lagi sebesar Rp 5.000,- hingga Rp 20.000,- tapi kalau masuk ke museumnya saja tidak akan dikenakan biaya tambahan.


Suasana di Museum Kretek cukup asri dengan lapangan rumput di depannya serta berbagai pohon rindang di samping kanan-kiri. Oh ya, tulisan kali ini difokuskan tentang museumnya saja nggak jadi masalah kan?

Museum ini menempati gedung besar yang berada persis di belakang patung. Gedung Museum Kretek Kudus diresmikan oleh Soepardjo Roestam selaku Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada tanggal 3 Oktober 1986.


Memasuki gedung museum, pengunjung langsung bisa menyaksikan beberapa patung yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Beberapa patung lainnya juga ada di berbagai sudut, salah satunya yaitu di sebelah kiri depan. Terdapat sebuah ruangan bernama Ruang Nitisemito.


Siapa sih Nitisemito itu?
Masa kecilnya bernama Rusdi. Nitisemito adalah nama panggilannya setelah menikah. Nitisemito adalah satu satu wiraswastawan rokok kretek di Kudus. Ia mendirikan sebuah pabrik rokok kretek bernama Bal Tiga. Rokok kretek merupakan campuran tembakau, cengkeh, dan saos dibungkus kulit jagung yang dikeringkan, serta diikat dengan benang atau serat yang berwarna merah, hijau, atau warna lain. Pembuatan rokok kretek itu awalnya dikerjakan sendiri dengan cara melinting dan menjual sendiri. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1914 merupakan puncak keberhasilannya. Untuk meningkatkan produksi ia membangun pabrik baru dengan jumlah karyawan lebih dari 15.000 orang.
Pada tahun 1938 perusahaan rokoknya mengalami surut karena konflik internal keluarga. Serta masuknya Perang Dunia II – masuknya Jepang juga memperburuk usahanya. Banyak aset perusahaan yang disita. Pada tahun 1953 bal tiga dinyatakan jatuh pailit dan rokok Bal Tiga Nitisemito berangsur hilang di pasaran.


Di dalam ruangan tersebut hanya ada sebuah meja dengan empat buah kursi yang mengelilinginya serta satu buah mesin ketik yang tidak ada keterangannya, dan satu artikel tentang Almarhum Nitisemito. Jadi, ruangan ini fungsinya apa? Oke, saya tidak akan berlama-lama memusingkan hal ini dan lanjut ke sudut museum yang lain.

Beberapa peralatan tradisional untuk pembuatan rokok kretek dipamerkan di museum ini. Benda-benda tersebut adalah sumbangan dari perusahaan-perusahaan rokok yang ada di Kudus. Di antaranya yaitu alat perajang cengkeh glondong, alat perajang tembakau, gilingan tembakau, alat pembersih / penyaring tembakau, dan timbangan.

Alat perajang cengkeh glondong

Alat perajang tembakau

Alat perajang tembakau

Alat pembersih / penyaring tembakau

Timbangan

Jika pada gambar-gambar di atas pengunjung merasa tidak familiar, mungkin pada gambar di bawah ini setidaknya pengunjung tahu atau pernah melihat.


Alat tersebut adalah penggulung rokok kretek tradisional. Mungkin kalian yang familiar dengan rokok tingwe (ngelinting dewe / melinting sendiri) merasa familiar dengan alat ini ya? Kok saya bisa tahu? Iya, Bapak dulu pernah punya alat yang mirip seperti ini, tapi sekarang sudah almarhum *jadi kangen :'(

Lanjut ya… Di dalam lemari-lemari kaca juga dipamerkan bahan-bahan untuk membuat rokok kretek. Bahan utama yang dipakai tentu saja tembakau dan cengkeh.


Untuk mengetahui kualitas tembakau biasanya tembakau dikelompokkan sesuai dengan grade-grade yang telah disepakati. Grade pertama adalah daun tembakau tumbuh di bagian bawah (dekat tanah) berciri khusus yakni daunnya tipis serta kandungan nikotinnya rendah, biasanya berharga murah. Sementara grade tertinggi berdaun tebal, kandungan nikotin lebih tinggi dan harga jual lebih mahal daripada grade rendah.

Istilah lain yang umum beredar di kalangan industri rokok adalah saos tembakau /  tobacco flavor, digunakan pada tembakau sebagai bahan baku utama rokok untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.


Di dalam museum ini, pengunjung dikenalkan dengan sebuah rokok tradisional yang bernama rokok klobot. Sama seperti rokok pada umumnya, bedanya hanya pembungkus tembakau yang terbuat dari kulit jagung. Peralatan yang digunakan sangat sederhana yaitu hanya alat besut klobot dan sebuah alat yang berbentuk contong.


Berbeda halnya dengan lemari kaca di sudut lain, yang saya kira adalah bahan-bahan untuk membuat rokok yang lebih modern. Dipamerkan filter rokok, kertas pembungkus rokok, dan lain-lain yang namanya susah disebutkan :D


Beredarnya rokok di kalangan masyarakat tentu saja berkat campur tangan benda-benda promosi. Ternyata jaman dulu juga sudah mengenal promosi dengan souvenir menarik seperti piring dan gelas, jadi tidak hanya diedarkan di warung-warung saja. Bahkan Nitisemito dengan perusahaan rokok Bal Tiga pernah menjadi sponsor tunggal pada acara-acara yang menarik masyarakat seperti pasar malam, pertunjukan tradisional, dan sebagainya. Dan kini alat-alat untuk promosi sudah lebih banyak lagi bentuknya.

Alat promosi masa lalu

Alat promosi sekarang


Diorama proses pembuatan rokok

Macam-macam rokok

Jika pengunjung sudah puas berkeliling di gedung museum, nggak ada salahnya berjalan-jalan keliling kawasan Museum Kretek. Anda akan menemui bermacam-macam bangunan seperti rumah adat Kudus, bioskop 3 dimensi, dan beberapa wahana permainan air ayng sudah saya sebutkan di atas seperti ember tumpah, water boom, dan lain sebagainya. Adapun beberapa warung yang menjual minuman dan makanan ringan. Dengan luas sekitar 2 hektar, Museum Kretek menjadi tempat wisata yang menarik untuk melepas penat.

Rumah Adat Kudus

Mini Theater - Bioskop 3 Dimensi

Berkunjung ke Museum Kretek yang identik dengan rokok, apalagi saya seorang perempuan, apakah ada yang berpikiran kalau saya penyuka rokok?
Saya jawab dengan tegas. Saya tidak menyukai rokok, sama sekali. Hanya senang saja berkunjung ke museum dan membagikan pengetahuan yang saya peroleh ketika berada di sana. Sama halnya ketika saya mengunjungi House of Sampoerna Surabaya, saya hanya ingin mengetahui sejarah di baliknya. Untuk tujuan mulia itu kan sebuah museum didirikan? :)

1 komentar:

  1. Ane malah jarang main di museum-museum..
    Hehehe
    Tapi lihat museum kretek kayaknya joss juga mbak :D

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)