Jumat, 11 November 2016

House of Sampoerna


Salah satu tempat yang tak boleh dilupakan ketika berkunjung ke Surabaya adalah House of Sampoerna. Sebagai Solo Traveller yang minim budget, saya memilih tempat ini sebagai salah satu destinasi di Surabaya. Kamis siang, 29 September 2016, gerimis yang sempat mengguyur Kota Surabaya tak menyurutkan langkahku menuju House of Sampoerna. Dengan menggunakan ojek online, biaya yang harus dikeluarkan hanya Rp 8.000,- dari Monumen Tugu Pahlawan.

Percaya nggak kalau ini ruang security?

Setelah sampai di tujuan, saya bertanya kepada security mengenai keberadaan museum. Setelah ditunjukkan dan berterima kasih, kemudian saya masuk ke sebuah bangunan yang lumayan besar. Agak ragu awalnya karena dari depan aja udah keren gedungnya, apalagi di halaman depan juga banyak mobil parkir.

Bangunan bergaya Belanda ini terlihat megah meski konon dibangun pada tahun 1862, dan kini menjadi situs bersejarah. Gedung ini sebelumnya digunakan sebagai panti asuhan yang dikelola oleh Belanda, kemudian dibeli pada tahun 1932 oleh Liem Seeng Tee, pendiri Sampoerna, dengan maksud untuk digunakan tempat produksi rokok pertama Sampoerna.


Museum House of Sampoerna menempati sebuah ruang auditorium. Di depan bangunan bisa ditemukan empat buah pilar-pilar yang menyerupai bentuk rokok. Perlahan-lahan saya dorong pintu masuk museum dan di dalam disambut oleh mbak-mbak petugas. Saya pun mengutarakan niat untuk melihat-lihat museum. Sebelumnya, saya diminta untuk menunjukkan KTP (mungkin dipakai untuk mengisi buku tamu) dan dipersilakan melihat-lihat tanpa membayar sepeserpun. Saya lihat di sini juga ada beberapa pemandu yang menjelaskan mengenai seluk-beluk House of Sampoerna.

Museum House of Sampoerna terdiri dari 2 lantai. Lantai 1 terdapat tiga ruangan, sedangkan di lantai 2 hanya ada satu ruangan. Memasuki pintu museum sudah terasa betul aroma cengkeh. Ternyata eh ternyata aroma itu asalnya dari sebuah tumpukan cengkeh yang memang sengaja ditaruh di salah satu sisi ruangan.


Di lantai 1 ruangan pertama sebelah kiri, bisa ditemukan replika sebuah warung yang sederhana, dimana warung ini pernah digunakan oleh pendiri Sampoerna Liem Seeng Tee dan istrinya Siem Tjiang Nio.


Di sampingnya terdapat dua sepeda tua yang kemungkinan besar pernah digunakan oleh pendiri Sampoerna Liem Seeng Tee pada masa awal hidupnya setelah meninggalkan orang tua angkatnya untuk independen bekerja sendiri. Kedua sepeda tersebut ditemukan di rumah peristirahatan Liem Seeng Tee di Prigen, satu jam dari Surabaya.

Bisa dilihat di sampingnya lagi adalah oven pengering tembakau. Petani tembakau di Lombok, sentra produksi tembakau yang penting di sebelah timur Pulau Bali, menggunakan oven seperti ini untuk pengeringan tembakau.


Bergeser ke sebelah kanan, masih di ruangan pertama, koleksi di sini seperti sebuah ruang keluarga. Beberapa foto keluarga pendiri Sampoerna dipajang di sebuah dinding. Beberapa kursi, lemari, dan meja ditata sedemikian rapi hingga menimbulkan kesan mewah.

Di sini pun pengunjung bisa menemukan kebaya dan sarung asli istri pendiri Sampoerna, Siem Tjiang Nio yang diberkan kepada anak perempuan termudanya Soenarni Sampoerno (Liem Kwang Nio).

Memasuki ruangan kedua, terlihat lengang. Tak banyak koleksi yang ditampilkan di ruangan ini. Sebagian besar adalah foto-foto keluarga dan direksi PT HM Sampoerna Tbk. Sampoerna mengoperasikan tujuh pabrik di Indonesia, yakni: dua pabrik Sigaret Kretek mesin (SKM) di Pasuruan dan Karawang, serta lima pabrik Sigaret Kretek tangan (SKT) dengan lokasi tiga pabrik di Surabaya serta masing-masing satu pabrik di Malang dan Probolinggo.


Di ruangan ketiga ini lebih luas. Pengunjung akan menemukan peralatan dan bahan untuk membuat rokok. Tampak seperti gambar di bawah ini adalah mesin cetak kuno. Kotak rokok, label, dan barang-barang cetakan lainnya dulunya menggunakan mesin cetak tua ini. Selain itu, pengunjung juga bisa menemukan pelat cetak tua untuk berbagai produk yang sudah tidak diproduksi lagi. Pengunjung juga bisa melihat dua silinder cetak rotogravure yang saat ini dipakai untuk memproduksi pak rokok Dji Sam Soe.



Beberapa diantara koleksi yang ada di ruangan ini adalah bentuk pemasaran rokok Dji Sam Soe. Pengunjung sudah pasti mengenal warung yang bentuknya mirip seperti gambar di bawah ini kan? Warung tersebut merupakan salah satu bentuk iklan, selain reklame tentu saja.


Marching Band binaan Sampoerna

Selesai melihat-lihat di ruangan terakhir, pengunjung bisa naik melalui tangga yang disediakan menuju ke lantai atas.


Di lantai atas hanya ada satu ruangan yang digunakan sebagai toko penjualan souvenir. Tampak di belakang gedung adalah pabrik yang digunakan untuk melinting rokok. Pekerjanya mayoritas adalah perempuan. Dimana perempuan-perempuan ini dapat melinting rokok dnegan kecepatan 325 lintingan per jam. Wow! Sayangnya saat saya berkunjung sedang tidak ada aktifitas di dalam sana.

Nggak tahunya di lantai atas ini pengunjung tidak diperkenankan untuk mengambil foto ataupun video tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Yaah, sudah terlanjur jepret nih. Gapapa ya, satu aja ini, serius! :D

Selain museum, di dalam komplek House of Sampoerna terdapat dua bangunan di sisi barat dan timur. Bagi pendiri Sampoerna, Liem Seeng Tee, merupakan suatu keharusan bahwa keluarganya tinggal di dalam pabrik. Tak hanya membuatnya dapat mengawasi segala aspek kegiatan operasional di pabrik, tetapi juga memberikan kesempatan bagi anak-anak lelakinya untuk belajar berbisnis.

Di lokasi pabrik ini terdapat dua rumah, Rumah Barat dan Rumah Timur. Kedua rumah ini memiliki denah terbalik, bagai dilihat dari cermin (mirror copy). Rumah Barat dulunya merupakan tempat tinggal Liem Seeng Tee dan keluarganya dengan lima anak. Meneruskan tradisi yang ada, anak kedua Aga Sampoerna (Liem Swie Ling) sekarang menggunakan rumah ini bersama keluarganya.

Rumah Barat

Berbeda dengan Rumah Barat yang digunakan sebagai rumah keluarga dan tidak dibuka untuk umum, bangunan Rumah Timur pernah digunakan untuk berbagai macam fungsi, termasuk kantor. Saat ini, bangunan ini digunakan sebagai kafe. Nah, bagi pengunjung museum yang ingin memanfaatkan tour gratis dengan bus Surabaya Heritage Track (SHT), bisa mendaftar di sisi paling depan bangunan kafe.

Rumah Timur yang digunakan sebagai Kafe

Penataan ruang yang menarik serta pencahayaan yang cukup, membuat Museum House of Sampoerna layak dikunjungi ketika singgah di Surabaya. Museum ini buka setiap hari Senin sampai Minggu pukul 09.00 – 22.00. info lebih lengkap kunjungi websitenya www.houseofsampoerna.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)