Rabu, 02 November 2016

Memperingati Hari Sumpah Pemuda dengan "Jong Parade"


Minggu, 30 Oktober 2016 yang lalu, setelah berkunjung ke Pura Mangkunegaran dan secara kebetulan melintasi Jalan Ngarsopuro, bertemulah saya dengan pemuda-pemudi dan para taruna yang sedang berkumpul. “Mungkin ada acara”, pikir saya seketika. Lalu saya berjalan lagi hingga perempatan Jalan Slamet Riyadi dan menemukan beberapa spanduk acara “Jong Parade”.


Ternyata karnaval! Dan digelar hari itu juga pukul 15.00, artinya satu setengah jam lagi. Boleh deh nonton dulu sebelum pulang Semarang. Tapi sebelum nonton, alangkah baiknya isi bensin perut dulu. Dari Halte BST Ngarsopuro, saya naik batik Solo Trans menuju Pasar Gede guna mencari semangkuk kesegaran es dawet telasih.

Es dawet telasih Ibu Hj. Siswo

Setelah itu saya memutuskan untuk jalan kaki menuju Benteng Vastenburg yang letaknya tak jauh dari Pasar Gede. Di halaman depannya sedang acara Bamboo Biennale 2016, hari terakhir pula! Tak kusia-siakan bergegas menuju ke venue. Meski acara penutupan sudah dilakukan sejak semalam, tapi instalasi bambu belum dibongkar.

Salah satu instalasi bambu - Bamboo Biennale 2016

Tak lama setelah itu hujan deras mengguyur. Saya pun memilih berteduh di Halte BST Balaikota bersama beberapa orang lainnya. Waktu itu jarum jam menunjukkan pukul 14.00, masih ada satu jam hingga Jong Parade dimulai. Tak banyak yang saya lakukan ketika hujan begini, selain berteduh juga menikmati makan siang menjelang sore di Galabo (Gladag Langen Bogan) – semacam foodcourt di sebelah timur bundaran Gladag.

Jong Parade
Nah, tiba saatnya parade yang ditunggu-tunggu datang juga. Sayup-sayup gema marching band terdengar saat saya berada di Jalan Slamet Riyadi. Oh ya, Jong Parade kali ini adalah yang pertama kalinya diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Surakarta. Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-88, terbukti dengan penggunaan kata “Jong” yang erat hubungannya dengan organisasi pemuda pada masa Sumpah Pemuda 1928.

Diawali dengan arak-arakan Garuda Pancasila dan Replika Tugu Kebangkitan Nasional atau Tugu Lilin, parade dimulai dari Koridor Ngarsopuro dan finish di Balaikota Surakarta.


Menyusul kemudian adalah Paskibraka Kota Surakarta, arak-arakan atlet Solo peraih medali dalam PON XIX / Jawa Barat, Marching Band Gita Dirgantara dari Akademi Angkatan Udara (AAU), dan masih banyak lagi barisan di belakangnya dengan berbagai macam kostum.

Atlet Solo peraih medali PON XIX







Sekitar Jalan Slamet Riyadi yang dilalui parade ini, sudah pasti ditutup total dan menyebabkan kemacetan di beberapa titik. Masyarakat sangat antusias menyaksikan parade ini. Banyak dari mereka yang mengabadikan gambar atau video, termasuk saya. Apalagi ketika arak-arakan Mulia Batik Contemporer dari SMK Muh 5, penonton berebut untuk berfoto bersama gadis-gadis cantik dalam balutan busana batik yang indah.

Mulia Batik Contemporer

N.U.S.A.N.T.A.R.A

Liputan oleh TATV

Berlomba-lomba berfoto dengan Walikota Solo

Sementara itu, di Balaikota Surakarta  sudah disediakan kursi-kursi untuk tamu undangan. Adapun rangkaian acara yang digelar di halaman Balaikota, salah satunya yaitu pameran fotografi, Faces of Hope.



Setelah kirab selesai, para peserta menunjukkan kebolehannya kepada para tamu undangan dan masyarakat di tempat yang telah disediakan, depan kantor Balaikota Surakarta. Sayangnya, para peserta harus menunggu lama lantaran acara yang di Balaikota sendiri belum sepenuhnya selesai.

Rangkaian kegiatan ini seperti memberi wadah bagi pemuda-pemudi khususnya Kota Solo untuk menunjukkan bakatnya di bidang seni. Para peserta yang berasal dari sekolah-sekolah, Akademi Angkatan Udara, berbagai komunitas, dan lain sebagainya, sebanyak 31 grup menampilkan pertunjukan yang sangat memukau. Terlebih ketika Taruna AAU menunjukkan kebolehannya, decak kagum dan tepuk tangan membahana memenuhi halaman Balaikota Surakarta.




Pertunjukan Tari Saman

Sayangnya, saya tidak bisa menunggu hingga acara selesai. Pukul 17.15 saya memutuskan meninggalkan halaman Balaikota yang saat itu sedang ada perform dari Senkom Mitra Polri. Takut kemalaman sampai di Semarang dan nggak ada bus. Setengah jam menunggu di Halte BST dan nggak ada satupun bus yang lewat. Rencananya mau turun di Kerten dan nunggu bus Semarangan di sana, tapi sampai maghrib menunggu, nggak ada satupun bus yang beroperasi. Mau order ojek online, tapi handphone nggak mau nyala. Panik banget, pasti. Sampai mau minta tolong orang buat orderin. Tapi tiba-tiba nyala lagi handphone-nya. Nggak pakai mikir, langsung order ojek online ke Terminal Tirtonadi. Alhamdulillah bisa pulang :D

Ikutan selfie :D

2 komentar:

  1. Aw gagal fokus sama drumband AAU pasti kalo aku disana :D

    BalasHapus
  2. yhaa di atlet pon wkt ga ada yang hadap kamera secara tidak langsung yaa:v termasuk saya

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)