Senin, 31 Oktober 2016

Pura Mangkunegaran, Istana Kecil yang Megah


Di Surakarta atau yang lebih dikenal dengan Kota Solo, selain ada Keraton Kasunanan Surakarta, berdiri sebuah istana yang lebih kecil, dikenal dengan nama Pura Mangkunegaran. Meskipun lebih kecil, tetapi bangunan di dalamnya tak kalah mewah dibandingkan dengan Keraton Kasunanan Surakarta.


Pura Mangkunegaran dibangun oleh Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa pada tahun 1757 setelah ditandatangani Perjanjian Salatiga yang kembali memecah wilayah Mataram Islam di Surakarta  (setelah sebelumnya juga ada Perjanjian Giyanti yang membagi wilayah Mataram Islam menjadi Yogyakarta dan Surakarta). Meskipun berstatus otonom yang sama dengan tiga kerajaan pecahan Mataram lainnya, penguasa Mangkunegaran tidak memiliki otoritas yang sama tinggi dengan Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Penguasanya tidak berhak menyandang gelar "Sunan" ataupun "Sultan" tetapi "Pangeran Adipati Arya". Oleh karena itu, Raden Mas Said atau Pangeran Samber Nyawa memiliki gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (K.G.P.A.A.) Mangkunegara I.

Untuk masuk ke Pura Mangkunegaran, pengunjung bisa melewati sebuah gapura hijau di Jalan Ronggowarsito. Sebelum sampai di loket tiket masuk, pengunjung akan melihat hamparan lapangan rumput yang disebut pamedan. Di sayap timur berdiri sebuah bangunan Kavallerie Artillerie. Kini bangunan tersebut tidak terawat.

Pamedan


Pura Mangkunegaran dibuka untuk umum, setiap hari pada pukul 09.00 – 14.00. Cukup membayar Rp 10.000,- saja, pengunjung bisa melihat-lihat bangunan megah dibalik tembok yang kokoh. Karena di dalamnya masih dihuni oleh keluarga Mangkunegaran, maka pengunjung akan didampingi oleh seorang pemandu / tour guide yang cakap dan paham mengenai segala sesuatu yang ada di Pura Mangkunegaran.

Gerbang masuk

Pertama-tama pengunjung akan dibawa menuju ke Pendopo Ageng yang berbentuk joglo. Dengan luas 3.500 meter persegi, pendopo ini mampu menampung 5.000 – 10.000 orang, selama bertahun-tahun dianggap pendopo terbesar di Indonesia.

Pendopo Ageng

Lambang di atas Pendopo

Di depan pendopo, pengunjung akan disambut oleh 4 patung singa jantan yang menghadap ke arah yang berbeda. Patung ini berasal dari Berlin, Jerman. Bahan pembuatan patung ini berbeda, yang depan terbuat dari perunggu sedangkan yang belakang terbuat dari semen. Bisa dicek dengan mengetuk badan patung singa, maka bunyi yang dihasilkan akan berbeda. Keempatnya dilapisi oleh warna emas.


Lantai didatangkan dari Italia, sementara chandelier yang bentuknya cantik berasal dari Belanda. Chandelier ini dipasang rendah karena dulunya sebagai tempat lilin, namun sekarang sudah dimodifikasi menjadi lampu.


Memasuki area pendopo, pengunjung akan diberi kantong plastik. Dari pendopo hingga bangunan selanjutnya, pengunjung sebaiknya mematuhi aturan untuk melepas alas kaki. Jadi, fungsi kantong plastik tersebut adalah untuk menyimpan alas kaki yang digunakan oleh pengunjung.

Abaikan tas kresek di samping :D

Terdapat tiga buah gamelan di ujung-ujung pendopo. Ketiga gamelan tersebut ditutup oleh kain dan digunakan pada saat-saat tertentu saja. Gamelan-gamelan tersebut bernama Lipur Sari yang digunakan setiap hari Rabu untuk latihan tari, Kyai Seton (yang terdiri dari Kyai Segoro Windu, Kyai Pamerdasih, dan Kyai Baswara) digunakan untuk gamelan setiap hari Sabtu, dan Kyai Kanyut Mesem yang hanya digunakan pada saat-saat tertentu saja seperti upacara pernikahan, kenaikan takhta, atau peringatan weton Pangeran.

Tiang penyangga utama di bagian tengah berasal dari satu buah pohon jati yang dibagi menjadi 4 bagian. Masing-masing tiang ukurannya berbeda-beda. Pohonnya sendiri berasal dari Desa Donoloyo, Wonogiri. Cara membawanya yaitu dengan dihanyutkan melalui Sungai Bengawan Solo. Kebayang pohonnya pasti besar banget ya? Uniknya, semua tiang di sini tidak menggunakan paku.


Di bagian langit-langit pendopo Pura Mangkunegaran terbentang Batik Kumudowati. Terdapat delapan kotak dimana bagian tengahnya masing-masing memiliki warna dan arti yang berbeda. Kuning bermaksud mencegah rasa kantuk, biru mencegah datangnya musibah, hitam mencegah rasa lapar, hijau mencegah frustasi, putih mencegah pikiran seks birahi, orange mencegah perasaan takut, merah mencegah kejahatan, dan ungu mencegah pikiran jahat.


Oh ya, di antara pendopo dan bangunan selanjutnya dihubungkan oleh sebuah jalan yang cukup lebar bernama Paretan (berasal dari kata kretan – mungkin maksudnya per-kereta-an). Dulunya digunakan sebagai jalur kereta (kuda) yang membawa para tamu agung, tamu kehormatan.

Setelah melewati paretan, ada beberapa anak tangga yang menuju ke Peringgitan. Bangunan ini berbentuk kutuk ngambang. Dulunya tempat ini digunakan sebagai pertunjukan wayang kulit.

Bangunan Peringgitan


Di anak tangga tersebut terdapat 4 buah patung berwarna keemasan. Dua buah patung yang di depan berasal dari China. Di sebelah kanan adalah patung laki-laki dan di sebelah kiri adalah perempuan. Menurut pemandu, peletakan patung tersebut terbalik karena menurut China yang paling kuat, laki-laki berada di sebelah kiri sedangkan perempuan di sebelah kanan. (Sudah tahu terbalik kenapa nggak dipindah?) Sama seperti bangunan di Pura Mangkunegaran ini, di sebelah kiri adalah tempat tinggal laki-laki dan di sebelah kanan adalah tempat tinggal perempuan. Sedangkan dua buah patung di belakang berasal dari Italia.

Patung dari China

Patung dari Italia

Selain itu juga terpasang foto dan lukisan pangeran yang tengah berkuasa saat ini beserta permaisuri. Saya diberi tahu oleh pemandu bahwa salah satu lukisan tersebut adalah karya dari pelukis terkenal Basuki Abdullah serta salah satu foto adalah karya Bapak Darwis.

Bangunan di belakang peringgitan berbentuk limasan. Bangunan tersebut bernama Dalem Ageng. Dulu, yang boleh masuk ke ruangan ini hanya keluarga / kerabat dekat sekarang digunakan sebagai museum. Banyak sekali barang-barang menarik milik Mangkunegaran tersimpan dengan rapi di ruangan ini. Sayangnya, pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam ruangan.

Dalem Ageng tampak luar

Adapun perhiasan dari emas, tak hanya kalung, gelang, anting-anting saja tetapi ada pula perhiasan yang dipakai di pusar dan hidung. Untuk mencegah perselingkuhan, jaman dulu menggunakan sebuah alat bernama badong, digunakan oleh laki-laki ketika akan pergi berperang. Untuk perempuan juga ada alatnya, tentu dengan bentuk yang berbeda. Cara menggunakannya yaitu di alat kelamin, dikunci menggunakan mantra.

Di sebelah kanan terdapat accessories untuk Tari Bedoyo Srimpi, sedangkan di sebelah kiri terdapat accessories untuk Tari Langendriyan. Selain itu juga bisa ditemukan uang logam kuno, senjata, wadah parfum dari bahan kristal, serta benda-benda peninggalan bersejarah lainnya.

Ada banyak hadiah dari Eropa seperti tempat gula, tempat susu, tempat teh, tempat kopi, tempat buah, sendok makan, dan lain-lain. Sebagian besar barang-barang tersebut adalah milik K.G.P.A.A. Mangkunegara IV. Beliau bisa dibilang raja yang paling kaya dibandingkan dengan Mangkunegara yang lain. Beliau punya pabrik gula Colomadu dan Tasikmadu. Selain itu juga mempunyai perkebunan teh dan kopi di belakang Candi Sukuh. Pengarang buku Serat Wedhatama, pengarang gending puspawarna, tari gondo boyo, dan masih banyak lagi.

Hadiah dari Belanda juga dipajang di ruangan ini. Didapatkan ketika Gusti Nurul membawakan Tari Bedhaya Serimpi pada saat pernikahan Ratu Yuliana dengan Pangeran Bernhard di Den Haag, dimana gamelan ditabuh dari Mangkunegaran.

Di dindingnya terdapat potret raja-raja yang pernah berkuasa, beserta permaisuri.
Koleksi yang paling terlihat menonjol adalah krobongan. Semacam tempat tidur, tetapi fungsinya sebagai tempat untuk menghormati leluhur Jawa, tempat meletakkan sesaji persembahan untuk Dewi Sri / Dewi Padi. Semacam ini bisa juga ditemukan di rumah-rumah kejawen. Di depannya ada patung, yang perempuan adalah Dewi Sri dan yang laki-laki adalah Raden Sadono. Di sisi kiri dan kanannya terdapat bangunan senthong kiwo dan senthong tengen, di dalamnya dulunya digunakan sebagai tempat berdoa atau tempat meditasi.

Di museum itu juga terdapat sebuah tanda gelar Pahlawan Nasional kepada Mangkunegara I / Pangeran Samber Nyawa / Raden Mas Said, oleh Presiden Soeharto pada tahun 1983.

Banyak banget pokoknya koleksi-koleksi yang ada di Dalem Agung. Semuanya menarik dan tidak bisa disebutkan satu per satu. Kalau penasaran lebih baik berkunjung ke Pura Mangkunegaran sendiri yaa :D

Keluar dari Dalem Ageng, memasuki sebuah ruangan bernama Keputren. Di sini disediakan meja dan sofa, pengunjung bisa memakai alas kakinya kembali.


Foto keluarga Mangkunegaran

Udara terasa segar karena ternyata di halaman belakang ada taman dan kolam. Beberapa tanaman tumbuh subur dan rindang.


Ruangan terakhir yang boleh dipijak oleh pengunjung adalah Pracimosono, sebuah ruang keluarga berbentuk segidelapan yang sampai saat ini biasanya digunakan untuk rapat. Sungguh, sebuah ruangan yang indah.

Tampak luar

Tampak dalam

Ruang keluarga terhubung dengan ruang makan. Di dalamnya terdapat dua buah meja. Bisa ditemukan kaca patri dengan gambar para pria yang menggunakan pakaian tradisional Jawa sedang memainkan gamelan, di bawahnya tertulis Anno 1941.

Ruang makan

Kaca patri di ruang makan

Tour sudah selesai sampai di sini. Menuju keluar, pengunjung akan melewati sebuah serambi dan bisa melihat-lihat sebuah tempat yang menjual cindera mata. Oh ya, jangan lupa untuk memberi tips seikhlasnya kepada pemandu.


Berdasarkan pengalaman pribadi 2 kali berkunjung ke Pura Mangkunegaran, karakter pemandu berbeda-beda. Pertama kali saya ke sana, berkeliling Pura Mangkunegaran bisa menghabiskan waktu 1 jam, sedangkan kunjungan kedua hanya menyita waktu 30 menit saja. Sebaiknya pengunjung lebih aktif bertanya jika ingin mendapatkan banyak informasi.

Jalan-jalan ke Jawa Tengah, khususnya ke Solo, kurang lengkap rasanya kalau belum menilik wisata sejarah di Keraton Kasunanan Surakarta atau Pura Mangkunegaran. Jadi, tunggu apalagi? Ayo Visit Jawa Tengah!




Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016
Yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah

4 komentar:

  1. sudah pernah kesini dan aku suka banget lihat istana , setiap ke daerah kalau ada istananya pasti mampir

    BalasHapus
  2. Belom pernah kesini, jadi mupeng. Aset-aset budaya memang selalu kereeen.

    BalasHapus
  3. Udah pernah kesini tapi belum kesempatan masuk ke dalam, masih penasaran dalemnya seperti apa

    BalasHapus
  4. Solo emang masih kentel banget budayanya :D

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)