Sabtu, 15 Oktober 2016

Peringatan Pertempuran 5 Hari di Semarang


“Aku cinta perdamaian, tapi aku lebih cinta kemerdekaan”
“Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”
“Sak dumuk bathuk, sak nyari bumi”


Malam tadi, Rabu,  14 Oktober 2016 diadakan peringatan pertempuran 5 hari di Semarang. Kegiatan ini rutin digelar oleh Pemkot Semarang dalam rangka memperingati pertempuran 5 hari di Semarang pada tanggal 15 – 20 Oktober 1945. Acara dipusatkan di sekitar Monumen Tugu Muda Semarang, tepatnya di depan Museum Mandala Bhakti.

Beberapa akses jalan menuju bundaran Tugu Muda ditutup sementara mulai pukul 17.00 – 22.00. Acara pun dimulai pukul 19.00, diawali dengan upacara terlebih dahulu. Peserta upacara berasal dari berbagai kalangan seperti TNI, Polri, ormas, siswa-siswa sekolah, pramuka. Selaku inspektur upacara adalah Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo. Tak hanya dihadiri oleh pejabat dan tamu undangan, para warga Kota Semarang pun berbondong-bondong ingin menyaksikan fragmen pertempuran yang telah menewaskan ribuan jiwa.

Dibacakan pula cukilan sejarah mengenai peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang. Dilanjutkan dengan detik-detik pertempuran 5 hari di Semarang dengan memadamkan seluruh lampu di kawasan Tugu Muda selama 2 menit, yang digantikan oleh nyala obor. Disusul kemudian bunyi sirine, rentetan senjata, dentuman meriam secara berselang-seling. Suasana sudah seperti layaknya perang betulan.

Disajikan pula drama kolosal tentang perjuangan warga Semarang dan sekitarnya melawan pasukan penjajah Jepang oleh rekan-rekan teater pitoelas dan beberapa pelajar kota Semarang. Drama ini sangat mengharu biru, terutama ketika ada adegan seorang wanita menangis-nangis (mungkin kehilangan suaminya yang tewas dalam perang).

Para warga Semarang mengenakan kostum sehari-hari di jaman dulu. Laki-laki mengenakan kaos kumuh dan celana pendek, sedangkan wanitanya menggunakan batik dan jarik. Selain melakukan teatrikal heroik, mereka juga menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti bangun pemuda pemudi.

Apalah daya saya yang cuma bisa nonton di layar :(

Gambar dari ig: @prodikem_untag

Pemkot Semarang pun cukup bagus mengantisipasi warga yang ingin menonton. Disediakan layar besar di dekat Pasar Bulu, yang sayangnya tidak ada speakernya. Jadi kitanya nonton drama tapi nggak dengar apa-apa :(

Acara berlangsung lancar, meski gerimis turun lumayan deras di tengah-tengah acara. Masyarakat pun sangat antusias menonton peringatan pertempuran 5 hari di Semarang, meski mereka sebagian besar banyak yang ngobrol sendiri, nggak mau mendengarkan apa yang disampaikan ketika upacara berlangsung. Bahkan ketika prosesi mengheningkan cipta dan menyanyikan lagu wajib nasional – Padamu Negeri dan Syukur – tidak ada keinginan untuk hening sejenak. Nasionalisme memang harus dimulai dari sendiri ya :)

Akhir acara ditutup oleh pesta kembang api yang dinyalakan di tengah-tengah lapangan Tugu Muda Semarang. banyak sekali kembang api yang diterbangkan di langit Semarang, mungkin lebih dari 2 menit tanpa henti.


Untuk sejarah lengkap mengenai pertempuran 5 hari di Semarang silakan browsing sendiri yaa. Yang belum berkesempatan untuk menonton peringatan pertempuran 5 hari di Semarang, tahun depan semoga bisa nonton :)

5 komentar:

  1. Ane nggak sempet nonton mbak..
    cuma denger cerita dari temen yg pada nonton T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun depan nonton, mas. Pas weekend tuh kayaknya :D

      Hapus
  2. Akhhhh keren banget acaranya, kira2 di bulan januari 2017 ada event apa mbak jateng?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kalau tahun 2017 saya nggak tau, mbak. Belum keluar agendanya :D

      Hapus
  3. Bila pas mengheningkan cipta itu senyap semua tentu lebih menggetarkan ya, Mbak...

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)