Jumat, 14 Oktober 2016

Jalan-jalan perdana ke Monumen Tugu Pahlawan Surabaya


Bulan lalu, tepatnya 29 September 2016, satu hari setelah HUT ke-71 PT. KAI, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Surabaya. Seneng banget! Gimana nggak? Ini adalah perjalanan perdana saya ke Jawa Timur, apalagi pakai moda transportasi kereta api dengan harga promo. Semarang – Surabaya PP dapat harga sekali jalan Rp 28.000,- gimana nggak bahagia? Terima kasih PT. KAI. Banyak-banyakin promo yaa :D


Dengan KA Harina kelas bisnis, saya tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi tepat waktu. Selanjutnya yaitu jalan kaki sampai Monumen Tugu Pahlawan. Selama jalan kaki, di Jalan Bubutan saya menemui Gedung Nasional Indonesia (GNI). Gedung ini dibangun atas inisiatif dr. Soetomo sebagai pusat pergerakan pemuda-pemudi Indonesia dibawah pimpinan dr. Soetomo. Oleh karena itu, dibangunlah patung dr. Soetomo yang diresmikan pada tanggal 31 Mei 1980 di depan Gedung Nasional Indonesia.


Setelah melanjutkan jalan kaki hingga Jl. Tembaan, saya dibuat bingung oleh jalan raya di Surabaya. Yakin, ini pertama kalinya saya nemu jalan raya yang ajaib. Kenapa? Sini coba saya jelasin. Jadi di Jalan Tembaan (seberang jalan persis depan Monumen Tugu Pahlawan) ada 3 lajur untuk kendaraan. Satu lajur ke arah barat, lajur tengah kea rah timur, nah satu lajur yang dekat Monumen Tugu Pahlawan ini ke arah barat juga! Kalian coba lihat sendiri deh di Surabaya. Mungkin bagi warga Surabaya mereka sudah biasa, tapi bagi saya ini aneh.

Oke, sudah cukup mempermasalahkan jalan raya yang ajaib. Dan saya bersyukur karena nggak jadi sewa sepeda motor di Surabaya. Bisa-bisa sehari kena tilang berkali-kali, hahaa :D

Tujuan pertama di Surabaya adalah Monumen Tugu Pahlawan, lah!
Tugu Pahlawan merupakan salah satu ikon Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Pintu masuk berada di sebelah selatan, yang dinamakan gerbang bentar. Setelah memasuki pintu gerbang, di area parkir kendaraan bermotor ada beberapa relief yang tergambar di dinding.



Jadi, di Monumen Tugu Pahlawan ini tak hanya berdiri sebuah tugu saja melainkan sebuah kawasan berbentuk persegi panjang. Memasuki pelataran, pengunjung akan menemukan patung tokoh proklamator bangsa Indonesia, Soekarno – Hatta. Pada belakang patung ini terdapat barisan tiang seperti pilar-pilar yang disebut kolonade.


Sebelum sampai di Monumen Tugu Pahlawan yang ada di tengah-tengah, terdapat hamparan rumput hijau. Biasanya digunakan menjadi lapangan upacara.


Monumen Tugu Pahlawan didirikan pada tanggal 10 November 1951 dan diresmikan setahun kemudian pada 10 November 1952 oleh presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Tugu ini tingginya 41,15 meter yang berbentuk seperti lingga atau paku terbalik, dengan diameter atasnya 1,3 meter dan diameter bawahnya 3,1 meter.


Di sisi barat tugu, terdapat Memorabilia Monumen Tugu Pahlawan yang menjelaskan bahwa monumen ini dibangun sebagai bentuk penghormatan dan pengingat terhadap keberanian luar biasa dan pengorbanan jiwa arek-arek Suroboyo dalam pertempuran heroik 10 November 1945.


Di dekat pintu barat, akan dijumpai sebuah batu prasasti yang tertulis…
“Padamu generasi,

Tanpa pertempuran Surabaya, sejarah bangsa dan negara Indonesia akan menjadi lain”

Di belakang tugu atau di sebelah utara tugu, terdapat makam pahlawan tak dikenal. Dan di belakangnya lagi adalah Museum Sepuluh Nopember, yang bentuknya seperti limas. Saya pun tak melewatkannya begitu saja. Dengan membayar biaya masuk museum sebesar Rp 5.000,- saya pun melihat-lihat koleksi museum yang diresmikan pada tanggal 19 februari 2000 oleh presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid.



Memasuki gedung museum, pengunjung langsung disuguhkan dengan jalan memutar. Mengingatkan saya ketika bekunjung ke Museum Sandi Yogyakarta.


Kesan pertama memasuki Museum Sepuluh Nopember setelah turun dari eskalator adalah… ”lah, mana museumnya? Kok ketemunya lorong begini?
Di sekitar lorong ini terdapat foto-foto pada saat proses pembangunan Monumen Tugu Pahlawan, seperti peletakan batu pertama oleh Ir. Soekarno tanda dimulainya pembangunan.


Adapun perpustakaan di sini. Aslinya sih pengen masuk ke perpustakaan, ada tulisan open yang artinya perpustakaan tersebut buka. Tapi kok depan pintu persis ditutup beginian ya? Batal deh masuk perpustakaan…


Jalan lagi, lalu saya nemu sebuah ruangan dengan dua buah daun pintu yang ternyata…
Oh, ini toh museumnya…”. Museum Sepuluh Nopember ada di bawah tanah, di bangunan bentuk limas yang tengah.

Untuk memasuki museum, ada tata tertib yang harus dipatuhi oleh pengunjung:


Memasuki bangunan museum, di sebelah kiri pintu masuk terdapat sebuah meja kecil seperti resepsionis tapi tulisannya tour guide. Ada beberapa orang laki-laki dan perempuan di balik meja tersebut. Saya pikir mereka akan menawarkan jasa untuk menjadi pemandu di museum, ternyata tidak. Mereka hanya duduk-duduk saja. Sangat disayangkan, kenapa harus ada tulisan tour guide segala?

Museum Sepuluh Nopember memiliki 2 lantai, lantai dasar dan lantai atas.
Di lantai dasar bagian tengah ruangan terdapat gugus patung gugur bunga yang menggambarkan perjuangan pahlawan pada saat pertempuran 10 November  terjadi.



Koleksi yang paling terlihat menonjol ada di sebelah kanan pintu masuk, yaitu sosiodrama pidato Bung Tomo. Sebuah patung peraga yang menggambarkan suasana Arek-arek Suroboyo saat mendengarkan isi pidato Bung Tomo dari siaran langsung Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya. Bung Tomo menyemangati para pemuda untuk ikut berjuang dan memberikan jiwa raganya untuk Indonesia. Ia dengan lantang membakar semangat pejuang untuk bertempur habis-habisan melawan pasukan Sekutu.


Siapa sih yang nggak kenal senjata tradisional yang satu ini? Bambu runcing digunakan oleh Arek-Arek Suroboyo dalam melawan tentara Sekutu pada pertempuran 10 November 1945. Senjata ini biasanya dibuat dari bambu “Apus” atau “Ori” yang dipangkas meruncing pada salah satu ujungnya. Konon menurut beberapa cerita, bambu runcing tersebut diberi mantra agar memiliki kekuatan.

Cuma replika

Di lantai dasar ada juga ruangan diorama elektronik dan auditorium visual. Ada jadwal pemutaran film di jam-jam tertentu. Tentu saja tentang film perjuangan Arek-Arek Suroboyo.

Ruang koleksi di lantai dasar tak begitu luas. Di sekeliling bangunan diberi kaca-kaca besar, mungkin untuk memberi kesan luas pada bangunan. Saat saya sedang berkunjung pada 29 September 2016, sedang ada perbaikan atap di depan salah satu koleksi museum.


Naik ke lantai atas, semakin terasa aroma perjuangan.
Terdapat banyak koleksi senjata yang merupakan rampasan dari tentara Sekutu.


Koleksi pribadi Bung Tomo, seperti radio, catatan harian, gelas, dan bendera organisasi perjuangan.


Selain itu juga ada beberapa koleksi laskar rakyat seperti senjata-senjata yang pernah dipakai untuk bertempur, helm tentara dua lapis yang pernah menyelamatkan seorang pejuang karena menangkal dua peluru yang menembus helm itu, handycam dan tustel kuno dengan bahan besi, dan lain-lain.




Di lantai atas ini juga terdapat ruang diorama statis I dan II. Tapi saya nggak masuk ke dalam ruangan tersebut karena sangat gelap dan hanya sendirian di sana.
Masih banyak koleksi-koleksi yang sengaja tidak saya sebutkan di sini. Lebih baik berkunjung sendiri ke Museum Sepuluh Nopember untuk lebih jelasnya :D

Keluar dari bangunan museum, masih di seputar Monumen Tugu Pahlawan, saya menemukan beberapa senjata untuk berperang seperti meriam, mortir, dan tank. Mobil Bung Tomo pun menjadi pajangan di sisi barat tugu.


Di sekeliling Monumen Tugu Pahlawan terasa rindang dengan beraneka macam tumbuh-tumbuhan. Ada pun 6 buah patung pahlawan yang tersebar di area semacam taman. Cocok untuk beristirahat melepas lelah di siang hari. Tapi hari sudah mulai siang, mendung pun menyapa, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan jalan-jalan keliling Surabaya.
 
“Pahlawan  sedjati  tidak minta dipudji djasanya. Bunga mawar tidak  mempropagandakan  harumnya, tetapi  harumnya dengan sendiri  semerbak kekanan-kiri.
Tetapi:
Hanya bangsa jang tahu menghargai pahlawan-pahlawannya, dapat  mendjadi  bangsa  jang  besar.
Karena itu, hargailah  pahlawan-pahlawan  kita!”
– kutipan Bung Karno, Djokjakarta, 10 Nop ‘49

4 komentar:

  1. Perlu dikunjungi neh... kalo ke Surabaya. Hal lain yang saya suka dari Surabaya adalah taman-taman kotanya yang asri, juga kulinernya, apalagi lontong balap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya malah belum sempat kulineran. Semoga ada kesempatan ke Surabaya lagi :)

      Hapus
  2. saya kepingin juga ni jalan - jalan ke surabaya

    BalasHapus
  3. waw...review tugu pahlawan surabayanya bikin kesengsempengen mampir deh ke sana, apalagi kita juga mengenal bahwa surabaya adalah kota pahlawan tentu banyak yang dapat kita gali dari sana dong ah.....kesonoh ah

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)