Kamis, 08 September 2016

Satu Hari Jelajah Kabupaten Grobogan


Purwodadi adalah nama sebuah ibu kota Kabupaten Grobogan, sekaligus menjadi nama sebuah kecamatan di Kabupaten Grobogan. Saya bukan orang Purwodadi, hanya iseng-iseng main sebentar ke salah satu daerah di Jawa Tengah ini. salah satu transportasi yang nyaman digunakan adalah Kereta Api Kedungsepur. Saya pun menggunkaan moda transportasi ini pada hari Minggu, 13 Maret 2016.


Setelah satu setengah jam berada di kereta yang penuh dan sepertinya selalu penuh di hari libur itu, saya menjejakkan kaki di Stasiun Ngrombo. Stasiun yang terletak di Jl. Raya Purwodadi – Solo ini menjadi tujuan akhir dari Kereta Api Kedungsepur. Karena letak stasiun ini dekat dengan jalan raya, maka mudah saja untuk mencari angkutan umum.

Tujuan pertama yang ingin saya kunjungi adalah Ayodya Bloombang Waterpark. Dari Stasiun Ngrombo jaraknya kurang lebih 10 km, perlu dua kali naik angkutan umum. Kebetulan saat saya naik angkot, ada rombongan keluarga yang menyewa sampai di Ayodya Bloombang Waterpark. Saya pun ngikut saja dengan bayar angkot Rp 10.000,-

Ayodya Bloombang Waterpark


Merupakan wahana wisata air yang berada di kawasan Purwodadi, Kabupaten Grobogan. Untuk masuk ke objek wisata tersebut, pengunjung harus membeli tiket masuk terlebih dahulu sebesar Rp 12.000,-. Buka mulai pukul 07.00 – 17.00 dan di hari Senin tutup. Terdapat kolam renang besar di sisi barat dan kolam untuk anak-anak di sisi timur, dibatasi oleh beberapa bangunan gazebo. Aneka permainan air pun di bangun di sisi timur.


Menurut plakat yang saya temukan, Ayodya Bloombang Waterpark ini diresmikan oleh Bupati Grobogan H. Bambang Pudjiono, SH pada tanggal 31 Maret 2011.
Dominan warna biru muda ini mengingatkanku ketika mengunjungi Keraton Surakarta :D

Setelah cukup berkeliling (dan tentu saja nggak nyebur ke kolam), saya melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya yang agak jauh dari Purwodadi. Naik bus kota tujuan Semarang, tapi bukan ingin pulang Semarang.

Api Abadi Mrapen


Saya lupa berapa biaya bus dari Ayodya Bloombang Waterpark sampai ke Api Abadi Mrapen, kalau nggak salah Rp 10.000,- masih dikasih uang kembalian.
Kompleks ini terletak di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Sempat terkenal dengan apinya yang menyala terus tanpa mengenal cuaca. Untuk memasuki kawasan Api Abadi Mrapen tidak dipungut biaya, hanya parkir kendaraan saja.

Sayangnya ketika saya melihat sendiri sumber api tersebut, tak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Nyaris tidak ada titik api di batu-batu yang ditumpuk sedemikian rupa.

Di sisi lain juga terdapat batu bobot peninggalan Sunan Kalijaga abad ke-15 dengan berat kurang lebih 20 kg. Diletakkan di sebuah ruangan terkunci.


Masih di kawasan yang sama, terdapat Sendang Dudo. Meski namanya sendang, tapi tempat ini bukanlah mata air. Hanya seperti sumur yang ketika musim hujan airnya banyak dan ketika musim kemarau airnya akan menyusut.


Di bagian belakang Api Abadi Mrapen terdapat bangunan baru. Sebuah Gelanggang Olah Raga (GOR), yang untuk ke depannya diharapkan bisa menjadi daya tarik juga.


Waktu masih menunjukkan pukul 11.30 ketika saya keluar dari kawasan Api Abadi Mrapen. Butuh beberapa jam lagi untuk meninggalkan Kabupaten Grobogan, karena kereta akan berangkat pukul 18.15. Tak sedikitpun terbersit rencana akan mengunjungi tempat mana saja. Asal mantep dan jalan aja sih. Enaknya kalau lagi jalan-jalan sendirian, nggak perlu kompromi begini begitu.

Dari Api Abadi Mrapen saya naik bus lagi menuju Terminal Purwodadi. Persis sebelum sampai di Terminal Purwodadi, akan melewati sebuah bundaran kecil seperti taman. Di tengah-tengahnya ada patung sepasang ibu dan bapak tani. Tempat tersebut, oleh warga Purwodadi diberi nama Tugu Tani.


 Niat ingin ngadem dan baca buku di perpustakaan sirna sudah. Perpustakaan Daerah yang berada di Jl. Jenderal Sudirman No. 39 Purwodadi pada hari Minggu tutup. Kecewa deh, udah jauh-jauh naik bus dari terminal.


Kemudian saya pun jalan kaki menuju alun-alun Purwodadi. Tak begitu jauh dari Kantor Arsip & Perpustakaan Daerah Purwodadi. Beberapa kali ditawari naik becak tetapi saya tolak dengan halus, emang udah niat mau jalan kaki aja sih :D


Di sekeliling Alun-alun Purwodadi cukup rindang, banyak pepohonan besar yang dibiarkan tumbuh. Ada beberapa warung juga yang buka di kawasan alun-alun. Di sisi barat akan dijumpai bangunan besar Masjid Agung Baitul Makmur. Sementara di sisi selatan merupakan kantor bupati Grobogan.



Menjelang sore hari, saya menghabiskan waktu (sebelum pulang ke Semarang) dengan nongkrong di Simpang Lima Purwodadi sambil cari makan siang. Laper juga ya jalan-jalan seharian, hehee :D


Di Simpang Lima Purwodadi terdapat bangku-bangku yang bisa digunakan untuk beristirahat. Kalau sore hari sering digunakan untuk olahraga, seperti jogging.
 
Di salah satu sudut, bisa dijumpai sebuah bangunan menara air yang diresmikan pada tanggal 21 Agustus 1981. Entah sekarang masih digunakan atau tidak. Kondisinya memprihatinkan, banyak coretan dimana-mana dan beberapa jendela ada yang pecah.



Sebelum petang, saya kembali ke Stasiun Ngrombo. Ruang tunggu yang luas di lantai 2 menjadi tempat istirahat yang saya pilih. Selain sepi dari hiruk pikuk penumpang dan pengantar, juga bisa melihat kereta-kereta yang lewat di peron. Dari sini aku bisa merasakan aroma perpisahan, punggung-punggung yang beranjak menjauh seiring berlalunya kereta.


Aku masih di sini.
Tidak menunggumu.
Tidak menunggu siapapun.
Mungkin menunggu waktu,
hingga ada kereta yang membawaku pergi.

1 komentar:

  1. Ya ampun, itu menara air nya sayang banget kondisinya seperti itu.
    Makin love ama central Java jadinya. Pernah lewat doang Purwodadi :D
    Itu kenapa namanya sendang dudo? apakah ada hubungannya dengan duda?

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)