Senin, 16 Mei 2016

Tiga Tahun Setelah Kepergianmu...


Kepergianmu membuatku tidak baik-baik saja.
Bagaimana aku bisa baik-baik saja jika separuh dari semangatku ikut sirna bersama dengan ketidakhadiranmu dalam hidupku?

Aku akan menyebutnya sebagai ‘perpisahan kita’ bukan kepergianmu, kecuali kamu membicarakan perihal hubungan yang sudah tidak bisa kita lanjutkan lagi. Tapi kamu memilih diam, meninggalkan kota tempat tinggal kita, meninggalkan aku tanpa pernah ada kabar. Hilang begitu saja, tanpa pernah kembali lagi.
Terlalu antagoniskah aku? Biarlah, supaya kamu paham betapa sakitnya ditinggalkan tanpa alasan.

Sumber gambar dari sini

“Yang kamu lakuin ke saya itu… jahat!”

Merelakanmu tidak sesederhana yang kau bayangkan. Mengikhlaskanmu bersanding dengan perempuan yang bukan aku, tidak semudah yang selalu orang-orang nasihatkan. Bukan jodoh katanya, jika jalan hidup yang dilalui terlalu terjal.

Dan aku tidak mempedulikan apapun. Aku hanya terlampau mempedulikanmu. Terlalu sering memikirkanmu. Dan dengan bodohnya terus menunggumu.

Di setiap detak, ada detik demi detik yang bermakna rindu. Rindu yang beralamat ke hatimu.

Rutinitasku banyak berubah semenjak kepergianmu.
Menginjak tahun ketiga kepergianmu, aku lebih sering jalan-jalan ke berbagai tempat. Mencari banyak pengalaman. Memutarkan kembali duniaku agar tak hanya berporos padamu. Bukan hanya mengunjungi kota kesayanganku, Jogja. Karena bagiku Jogjakarta identik dengan kenangan kita. Tujuannya hanya satu, menyibukkan diri.

Tapi aku tak bisa mengelak saat bayanganmu menyergap begitu saja.
Aku mematung, mencoba realistis bahwa kamu sudah tidak bisa bersamaku lagi.
Tapi aku tak bisa. Harapan ini sepertinya susah untuk dikesampingkan.
Masih kamu yang mengisi ruang hati, tak bisa dipungkiri.

Tiga tahun bukan waktu yang singkat.

Ibarat manusia…
Ia sudah bisa berbicara. Tapi aku memilih diam saja.
Ia sudah bisa berlari. Tapi aku memilih berjalan di tempat.

Tiga tahun setelah kepergianmu, aku masih di sini.
Mungkin dengan rasa yang sama. Mungkin dengan kadar yang sama pula.
Hanya tak setegar dulu ketika masih bersamamu.

Siang tadi, aku di bandara. Bandara yang biasanya selalu berisikan cerita tentang kamu. Tapi tiga tahun terakhir membisu. Aku berdiri tepat di depan pintu keberangkatan domestik. Tidak mengantarkanmu. Tidak mengantarkan siapapun. Hanya ingin menghirup aroma pekat perpisahan. Sayangnya aku tak bisa berlama-lama di sana. Aku takut air mataku tumpah. Aku takut remah-remah hatiku berceceran.

Masihkah kau ingat saat itu?
Tepat tiga tahun yang lalu, 16 Mei 2013.
Hujan deras menjadi saksi bisu perihal kepergianmu.
Punggungmu yang tak menoleh lagi waktu itu. Aku tergugu.

Saya ingin pergi, namun saya juga ingin kamu kembali. Tepatnya, saya lebih ingin kamu mengerti bila kamulah tempat saya selalu kembali. – twit @Karizunique

Untuk lelaki Sagittarius yang (pernah) mengindahkan duniaku,
Hubungan macam apa yang seharusnya kita jalani? Berteman lagi denganmu membuatku merasa bahagia. Berbincang, bercanda bersamamu meski melalui obrolan singkat, tak bisa dipungkiri membuat duniaku tak lagi mendung. Tapi aku takut meminta lebih dari sekedar teman. Lantas jika aku harus memutuskan kembali pertemanan denganmu, apakah aku siap?

Untuk lelaki Sagittarius yang masih menawan hatiku,
Tidak pernah ada laki-laki yang membuatku menunggu dan berharap begitu lama sebelumnya. Namun, sejak terpikat pesonamu, aku seperti lupa cara menjatuhkan hati pada pria lain. Karena kamu istimewa, karena kamu lebih hangat dari sekedar seduhan teh di hari yang hujan. Karena kamu bisa menjadikan duniaku berwarna.

Untuk lelaki Sagittarius yang (pernah) menyempurnakan hidupku,
Teruslah tertawa, teruslah bahagia, agar aku tahu kamu baik-baik saja,
Pulanglah, pintu hatiku masih terbuka menanti kehadiranmu,
Namun jika kamu tak menginginkan kembali, pergilah dengan dia yang lebih segalanya,
Supaya aku sanggup mengikhlaskanmu dengan cara yang sederhana..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)