Selasa, 10 Mei 2016

Ada Cerita di Balik Kalibiru yang Mendung


Long weekend 4 hari rasa-rasanya emang bikin susah move on ya? Nggak siap gitu buat melanjutkan rutinitas setiap harinya. Tapi ya mau gimana lagi? Kerja, biar dapet duit buat piknik lagi :D

Setelah hari Kamis kemarin sukses menginjakkan kaki di bumi Sleman dengan menempuh perjalanan dari Semarang dan mampir di Ratu Boko. Malamnya kami bertiga (Aku, Atik, dan Handoyo) numpang nginep di Perumahan Puri Sumberadi, rumah kakaknya Atik.

Jumat pagi, 6 Mei 2016 kami ada rencana ke Kalibiru. Tau kan? Yang lagi ngehits rumah pohonnya itu tuh?



Rencana berangkat pagi-pagi banget tinggallah rencana semata. Akhirnya pukul 10 lebih kami berangkat dengan bekal “menghafal” rute dari google maps. Salah satu di antara kami nggak ada satupun yang tahu rute menuju ke sana. Aku yang (selalu) didaulat mencari jalan mengendarai motor paling depan. Alhamdulillah lancar, nggak pakai acara nyasar. Sempat satu kali berhenti untuk isi bensin dan beli perbekalan di Godean. Pukul 11.30 kami berhenti di Masjid Baiturrahman daerah Pengasih, sambil nunggu Handoyo menunaikan Sholat Jumat. Setelah itu perjalanan dilanjutkan kembali.

Menurut kakaknya Atik, kami disuruh lewat Clereng aja, katanya lebih dekat. Dari Pasar Clereng, kami belok ke kiri menuju Kalibiru dengan melewati tanjakan yang lumayan. Syukur Alhamdulillah motor matic yang saya kendarai kuat nanjak, hehee…
Setelah memarkirkan kendaraan di tempat yang sudah disediakan dan membayar biaya parkir Rp 2.000,- per motor, kami jalan kaki menanjak untuk sampai di tempat pembelian tiket masuk. Untuk tiket masuknya sendiri saya lupa karena dibayarin temen, kalau nggak salah sih Rp 10.000,- per orang.


Wisata Kalibiru ini terletak di Desa Hargowilis, kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Yang menariknya lagi adalah kita bisa menyaksikan pemandangan perbukitan Menoreh dan Waduk Sermo dari sana.

Bagi saya, Jogja itu identik dengan ketenangan dan kenyamanan. Namun, tidak untuk kali ini. Di musim liburan panjang seperti saat ini, saya merasa tidak sedang berada di Jogja meskipun Kulonprogo masih masuk wilayah Jogja. Saya merasa asing di tempat yang asri ini. Hiruk pikuk wisatawan dengan logat beraneka ragam menambah bengong ‘apa benar saya berada di Jogja?’

Baiklah, saya coba menepis pikiran-pikiran yang bisa membuat bad mood, dan mencoba menikmati keindahan yang ditawarkan oleh Kalibiru.

Sebelum percabangan jalan, ada sebuah kolam kecil yang di atasnya ada tulisan “Kalibiru”. Nggak pakai lama, kami pun antri untuk berfoto di depannya.


Yang paling populer dari Wisata Kalibiru ini adalah menara pandang yang ada di atas pohon. Ada beberapa spot yang bisa dipakai berfoto di atas pohon dengan background Waduk Sermo. Kalau ingat rumah pohon di sini, jadi ingat rumah pohon yang ada di Puncak Becici dekat rumah saudara di Bantul. Mirip, cuma di sana nggak ada pemandangan waduknya. Hehee. Selain itu juga ada jembatan gantung yang terbuat dari bambu dan tali, area outbound, dan flying fox. Bagi yang mau menginap, bisa banget. Tersedia homestay yang bisa disewakan per malam.



Sayang sekali, pada saat kami sampai di sana, antrian untuk berfoto di rumah pohon sudah penuh sampai jam 5 sore. Waktu itu memang pengunjungnya penuh banget. Foto di pinggiran biar ada pemandangan waduk Sermo aja sampai nggak dapat tempat. Kesel kan ya kalau gitu?

Inget punya inget, ada temen yang ulang tahun di hari itu juga namanya Tika. Dia itu temen deket sejak duduk di bangku TK. Tapi semenjak lulus SMA, kami jarang ketemu. Mendadak dapat ide, ngucapin ulang tahun dari ketinggian.


Happy Birthday from 55653. Panjang umur, sehat selalu, makin sukses. Diaminkan segala doa baik :)

Tak lama setelah itu, hujan deras datang mengguyur. Terpaksa kami bertiga mencari tempat untuk berteduh. Kira-kira setengah jam kemudian hujan reda dan teman minta pulang. Capek perjalanan nggak dapet senengnya ini namanya. Ya sudahlah, lain kali harus sempat ke sini lagi. Insya Allah. Ada yang mau ngajak? :)


“Jogja selalu sukses membuatku ingin kembali dan kembali lagi. Kenangan yang tercipta dari suatu tempat di sudut Jogja membuatku selalu mengingat momen terbaik dan terbahagia yang pernah saya alami bersama seseorang. Di sini, di sebuah daerah bernama Jogja. Aku pernah mencintai seseorang dengan begitu terlalu. Hingga akhirnya seseorang itu pergi dan hanya menyisakan remah-remah kenangan. Aku? Cuma bisa memeluk bayangannya, dan mencintai Jogja, sama seperti ketika aku pernah mencintaimu dan masih mencintaimu.”

5 komentar:

  1. eleh - weleh, aku malah belum pernah kesini ew mbak,,, :-)
    Bagus ya bisa lihat Waduk,,, ada rumah pohonnya lagi, kapan - kapan tak coba kesitu ah.... jalannya memang bener - bener nanjak pow Mbak Nhe? :-)

    BalasHapus
  2. Wiii nekat long weekend ke Kalibiru. Untung naik motor jadi nggak ngerasain macetnya. Yaa, semoga suatu saat nanti dirimu mengukir kenangan indah bersama di Kalibiru ya mbak.

    BalasHapus
  3. wah asyik banget tuh bisa ke kalibiru, aku belum pernah kesana.
    Dan belum sempat merencanakan kesana :')

    BalasHapus
  4. Mb. kira" seberapa bahaya sih klo naik motor, soalnya ada yang bilang terjal bgt jalanan nya.
    mohon di share dunk kira" yaang paling aman naik motor lewat mana?
    Thx

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang terjal. Kata temenku, lebih enak lewat pasar clereng belok kiri (barat) daripada lewat waduk sermo. Tanjakannya gak begitu panjang. Bayar retribusinya jg cuma 1 kali.

      Hapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)