Rabu, 18 Mei 2016

International Museum Mart 2016


Dengan mengusung tema “Keberagaman Dalam Persatuan”, International Museum Mart 2016 kembali diadakan pada tanggal 12 – 17 Mei 2016 di Museum Jawa Tengah Ranggawarsita. Berbeda dengan Museum Mart tahun 2015 silam, acara kali ini diikuti oleh 24 museum dari dalam dan luar negeri.


Saking semangatnya untuk melihat-lihat pameran, Kamis sore (12 Mei 2016) sepulang kerja saya langsung datang ke Museum Ranggawarsita. Kok masih sepi? Di panggung utama juga belum ada acara. Saya pun bertanya pada Bapak-bapak berseragam PNS yang saya perkirakan kerja di Museum Ranggawarsita. Oalah, ternyata pembukaan resmi International Museum Mart 2016 baru nanti malam. Hari pertama gagal, hari kedua juga gagal karena disuruh lembur. Nah hari Sabtu nih kebetulan kerja cuma setengah hari, jadi lah saya ke Museum Ranggawarsita untuk melihat-lihat International Museum Mart 2016.


Pameran ini ditempatkan di gedung pertemuan dan gedung A Museum Ranggawarsita. Memasuki gedung pertemuan, pengunjung akan disambut oleh panitia untuk dipersilakan mengisi buku tamu terlebih dahulu.
Replika kapal layar menarik perhatian terlebih dulu. Kapal layar ini terukir pada relief dinding Candi Borobudur, hal ini menjadi bukti adanya kemampuan masyarakat Nusantara mengarungi samudera berabad-abad silam. Perjalanan ini tidak hanya terkait dengan pencarian hasil laut namun juga untuk mempertukarkan berbagai komoditas.


Salah satu komoditas paling penting dalam perdagangan di Nusantara yaitu rempah-rempahnya yang sangat lengkap.


Selain itu, keramik juga dipamerkan oleh Museum Ranggawarsita. Keramik dari berbagai wilayah baik di Asia dan Eropa menjadi komoditas yang cukup berharga di Nusantara.



Selain itu ada beraneka bentuk celengan. Celengen memiliki beraneka bentuk. Contohnya bentuk babi hutan yang sudah ada sejak tahun 1300 M di Kerajaan Majapahit. Celengan ini berfungsi untuk menyimpan uang.


Adapun mata uang yang menyita perhatian saya yaitu mata uang kerang. Digunakan oleh masyarakat pedalaman Papua untuk melakukan perdagangan barter. Mata uang ini mempunyai bermacam-macam nama seperti elal, mege, eka, dan ort atau oot.


Sedangkan untuk museum-museum di Kalimantan, termasuk Museum Sabah, Museum Serawak, dan Museum Brunei Darussalam, menampilkan beragam jenis manik-manik.

Manik-manik tidak hanya berfungsi sebagai perhiasan seperti kalung, gelang, ikat pinggang, tetapi juga bisa dipakai sebagai untuk memperindah pakaian dan benda-benda lain seperti tas, topi, dan lain sebagainya.


Di beberapa tempat, seperti Suku Dayak di Kalimantan, manik-manik digunakan sebagai sistem religi bekal kubur. Adapun fungsi lain manik-manik yaitu sebagai status sosial. Semakin langka manik yang digunakan akan semakin tinggi nilainya dan semakin tinggi pula derajat pemakainya.

Selain museum-museum tersebut di atas, di gedung yang sama ada pameran museum-museum yang berpartisipasi juga di tahun 2015. Di antaranya yaitu Museum Kereta Api Indonesia, Museum Negeri Prov. Banten, Museum Batik Pekalongan, dan Museum Nyonya Meneer Semarang.


Tak hanya selesai di satu gedung saja, International Museum Mart 2016 juga menempati lantai 1 gedung A Museum Ranggawarsita. Ada beberapa museum yang juga berpartisipasi di Museum Mart 2015 seperti Museum Sekolah Slawi, Monumen Pers Nasional, dan Museum Basoeki Abdullah. Kesemuanya membawa koleksi yang sama seperti tahun lalu.

Adapun museum-museum yang membawa koleksi berbeda, diantaranya:

·        Museum Penerangan – TMII
Jika pada Museum Mart 2015 stand museum ini berbentuk seperti televisi, maka pada International Museum Mart 2016 berbentuk seperti bioskop. Kali ini museum penerangan mengangkat tema tentang film.
Salah satu koleksi yang dibawa adalah kamera film yang digunakan pada saat meliput Asian Games IV tahun 1962.


Selain itu juga ada setelan jas H. Usmar Ismail. H. Usmar Ismail digelari sebagai “Bapak Perfilman Indonesia”. Sebagai sutradara, beliau telah menghasilkan banyak film Indonesia dengan mutu baik dan digemari khalayak.
“Darah dan Doa” menjadi film pertama H. Usmar Ismail, dimana kamera untuk membuat film tersebut juga dipamerkan di sini.

·        Museum Transportasi – TMII
Memiliki ratusan benda koleksi alat transportasi darat, laut, udara, dan kereta api baik miniatur maupun benda asli dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada International Museum Mart 2016 museum ini membawa koleksi miniatur perahu Waifuku Marar. Perahu tradisional ini merupakan perahu khas suku Wariy, Kecamatan Demata, Jayapura. Dibuat sekitar tahun 1950-an. Menurut informasi dari Bapak yang jaga stand, di Museum Transportasi yang berlokasi di area Taman Mini Indonesia Indah terdapat perahu aslinya. Wah, menarik ya?


·        Museum Listrik dan Energi Baru – TMII
Stand ini adalah salah satu yang saya sukai di tahun 2015 silam. Dan pada International Museum Mart 2016 kali ini mencuri perhatian pengunjung dengan robot yang bisa joget waktu diiringi musik. Satu kata, keren! Pengen deh bungkus satu bawa pulang :D


Selain itu, juga ada penambahan dari beberapa museum lain, seperti:

·        Museum Pos Indonesia
Museum ini berlokasi di kantor pos pusat Indonesia Jl. Cilaki No. 73 Bandung. Benda-benda yang dimiliki museum ini yaitu koleksi sejarah, koleksi filateli, dan koleksi peralatan.
Pada International Museum Mart 2016, museum ini memboyong miniatur alat angkut pos seperti kuda, sepeda, motor, dan mobil. Dan juga peralatan yang berhubungan dengan pelayanan pos seperti cap, bantalan cap, dan pembersih cap.


·        Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal
Bayt Al-Qur’an menyimpan materi inti yang merupakan hasil pemahaman, pengkajian, dan apresiasi umat Islam terhadap Al-Qur’an. Sedangkan Museum Istiqlal menyajikan koleksi karya seni budaya bangsa Indonesia yang bernafaskan Islam.
Salah satu koleksi yang ditampilkan yaitu replika nisan Majapahit yang berasal dari Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Repika batu nisan berangka tahun 1358 Saka atau abad ke-14 M. Ini menunjukkan bahwa pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit sudah terdapat komunitas muslim.


Dan sayangnya saya melewatkan begitu saja stand Lecture Kementrian Agama Jakarta dan Puri Wiji.


Saya pribadi merasa tertarik dengan acara seperti ini. Banyak nilai positif yang bisa diambil dari kegiatan Museum Mart, salah satunya yaitu menarik minat anak-anak muda untuk mengetahui bahkan melestarikan ragam budaya melalui kunjungan ke museum-museum. Semoga di tahun-tahun selanjutnya tetap ada, semakin menarik, berkembang, dan banyak museum-museum lain yang tertarik untuk berpartisipasi.

Museum aja di hatiku, apalagi kamu :)

4 komentar:

  1. Wuih keren ya mbak ya acara ini, secara mempertemukan antara museum dalam dan luar negeri di gelar,,,, Hahahaha
    Hari pertama gagal, hari kedua gagal, bersyukur hari ketiganya mbak Nhe berhasil menyambanginya, hehehe...
    Ku suka museum, kita *tos* mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih enak lagi kalau tinggal di Jogja mas. Banyak museumnya :)

      Hapus
  2. Mbok aku di-tourgate-in mbak kalau lagi ke Jogjah.. Hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh mas, kan aku asli dan tinggal di Semarang bukan orang Jogja hehee :D

      Hapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)