Jumat, 20 Mei 2016

Museum Exhibition 2016 - Colorful and Fun


Beberapa bulan terakhir, saya tertarik mengunjungi museum. Awalnya iseng-iseng ke Museum Kereta Api Ambarawa (eh lupa belum posting di blog) dan dari situ tertarik buat mengunjungi museum-museum lain. Kebetulan saya tinggal di Kota Semarang dan satu-satunya museum yang paling dikenal adalah Museum Ranggawarsita. Yang lainnya ada Museum Mandala Bhakti, Museum Jamu Nyonya Meneer, dan Museum Rekor Indonesia (MURI).

Acara-acara seperti Museum Mart di tahun 2015 lalu dan International Museum Mart 2016 yang baru saja digelar di Museum Ranggawarsita, juga sedikit banyak mempengaruhi saya untuk berkunjung ke museum. Tak terkecuali museum-museum yang berada di Jogja. Sayangnya saya tak punya banyak hari libur, dan museum-museum tertentu kebanyakan hanya buka di jam kerja.


Jadi ketika mendengar ada pameran museum-museum yang ada di DIY dan nusantara, saya antusias. Hari Minggu pagi pukul 06.00 saya berangkat dari Semarang mengendarai sepeda motor setelah drama bangun kesiangan terlebih dulu, hehee :D
 Mampir sebentar di Alun-alun Magelang yang kebetulan sedang ada pameran Magelang Tempo Doeloe. Dan sampai di Jogja City Mall pukul 11.00.

Jogja City Mall yang bikin kagum

Pameran Museum 2016 dengan tema Colorful and Fun diselenggarakan oleh Dinas kebudayaan DIY pada tanggal 12 – 15 Mei 2016. Bertempat di Atrium Jogja City Mall, Jalan Magelang KM. 6 No. 18 Yogyakarta. Waktu menyesuaikan dengan jam buka dan tutup mall. Kegiatan ini gratis dan terbuka untuk umum.
 
http://museumjogja.com/

Saya tak menyangka sebelumnya jika ada banyak sekali museum yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Semua stand museum menampilkan beberapa contoh benda, foto, dokumentasi, dan lain-lain. Menarik? Tentu saja. Sebelumnya saya tak pernah jalan-jalan di mall selama berjam-jam (kecuali nonton di bioskop).

Ada sekitar 30 lebih museum di DIY dan di nusantara yang ikut berpartisipasi. Semuanya menarik untuk diulas di blog, tapi mau ngetik sampai besok pun nggak bakal selesai kayaknya. Jadi, sedikit aja asal bermanfaat ya :D
Pesawat Starlite PK-SLX koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala menyita perhatian pengunjung mall. Banyak yang ingin mengabadikan diri di depan pesawat ini. Pihak dari museum juga menawarkan baju penerbangan yang bisa dipinjam pengunjung untuk berfoto.


Museum Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menampilkan replika patung prajurit dan para nayoko dengan berbagai motif ageman.


Adapun benda-benda pusaka yang melambangkan sifat-sifat yang harus dimiliki sultan dalam memimpin. Diantaranya yaitu banyak (= angsa) melambangkan kejujuran dan kewaspadaan, dhalang (= kijang) melambangkan kecerdasan dan ketangkasan, sawung (=ayam jantan) melambangkan kejantanan dan tanggung jawab, galing (= merak) melambangkan keagungan dan keindahan.


Museum Benteng Vredeburg menampilkan koleksi beraneka mata uang. Penggunaan mata uang pada masa penjajahan tidak terlepas dari pengaruh negara penjajah. Salah satunya yaitu pengedaran mata uang Belanda dan Jepang. Hingga desakan untuk mempunyai dan mencetak mata uang sendiri akhirnya muncul. ORI atau Oeang Repoeblik Indonesia mulai diedarkan bulan Oktober 1946 dan penggunaan mata uang ORI secara sah dimulai tanggal 30 Oktober 1946.


Wayang kulit adalah satu kebudayaan asli Indonesia. Pada pameran kali ini, Museum Wayang Kekayon menampilkan koleksi wayang kulit. Wayang ini dibuat dari kulit kerbau untuk menghasilkan wayang kulit yang kuat. Di bagian pegangan / cempurit, aslinya terbuat dari tanduk kerbau tetapi seiring berjalannya waktu, cempurit ini diganti dengan kayu.


Adapun wayang millennium, terbuat dari aluminium. Saya sempat ngobrol sebentar dengan pembuatnya, duh tapi lupa nama Bapaknya siapa. Beliau lulusan ISI Yogyakarta.


Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, di Jogja juga terdapat istana kadipaten bernama Puro Pakualaman dan di sini terdapat Museum Puro Pakualaman. Pada pameran kali ini, Museum Puro Pakualaman menampilkan seperangkat singgasana berupa dua buah kursi kebesaran, meja bundar, sepasang cempuri, kecohan, dan sebuah songsong / payung.



Dan masih banyak peserta museum-museum lain seperti Museum Sonobudoyo, Museum Bahari, Museum Tani Jawa, Museum Affandi, Monumen Pers Surakarta, dan lain-lain. Tapi maaf, nggak bisa saya saya ulas satu persatu.



Museum Tembi Rumah Budaya

Museum Sonobudoyo

Museum Jenderal Besar Sudirman

Museum Gunung Merapi

Museum Affandi

Adapun sedikit kekurangan yang mungkin bisa jadi masukan untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya. Saya rasa stand-stand pameran di sini terlalu sempit, dan jarak antar stand yang berhadap-hadapan terlalu dekat. Untuk dimasuki 2-3 orang saja sudah terasa sesak. Apalagi tahu sendiri kan antusias masyarakat yang nge-mall di weekend seperti apa? Mungkin untuk ke depannya bisa diberikan ruang yang lebih luas.
Sukses untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)