Kamis, 31 Maret 2016

Museum Sonobudoyo Unit 1


Dunia per-blog-an menjadi menyenangkan bagiku ketika aku tahu harus menuliskan apa untuk meng-update diary di dunia maya. Jadi ceritanya aku lagi blogwalking di sebuah situs blog milik entahlah lupa. Nah, di situ dia menyinggung soal Museum Sonobudoyo. Inget punya inget, aku pernah mengunjungi museum itu bahkan sampai dua kali, tapi belum sempat mengulas di blog ini. Oleh karena itu, sebelum lupa lagi, bolehlah aku menuliskannya di sini sambil me-reload memori kejadian di TKP Museum Sonobudoyo, 13 Desember 2015 silam.


Museum Sonobudoyo didirikan oleh Java Instituut, yaitu Yayasan Kebudayaan Jawa, Bali, Lombok, dan Madura pada masa kolonial yang anggotanya terdiri atas orang asing dan pribumi. Bangunan museum menggunakan tanah bekas “Schauten” hadiah dari Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Peresmiannya dilakukan pada hari Rabu Wage tanggal 9 Ruwah 1899 Jawa (6 November 1935 Masehi) dengan ditandai candra sengkala memet “Kayu Winayang Ing Brahmana Budha”.


Museum Sonobudoyo ini terbagi menjadi dua unit. Museum Sonobudoyo Unit I terletak di Jalan Trikora  No. 6 Yogyakarta atau di sebelah utara Alun-Alun Utara. Sedangkan Museum Sonobudoyo Unit II terletak di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur Alun-Alun Utara.

Yang akan aku ceritakan kali ini adalah Museum Sonobudoyo Unit I.
Arsitektur Museum Sonobudoyo merupakan bangunan rumah tipe Jawa. Halaman luar dan dalamnya dipisahkan oleh sebuah tembok. Dari gerbang, akan ditemukan meriam kuno di sebelah barat dan timur halaman dalam. Tertulis berasal dari Yogyakarta tahun 1846 M, milik Sri Sultan Hamengkubuwono III sebagai salah satu peralatan perang.


Bangunan berikutnya adalah pendopo. Fungsi pendopo dalam bangunan Jawa yaitu untuk menerima tamu, jadi sebelum memasuki ruangan museum, pengunjung wajib membayar tiket masuk yang murah banget sebesar Rp 3.000,- untuk dewasa perorangan. Di sini pengunjung akan ditawari butuh seorang pemandu atau tidak. Saran saya, lebih baik dipakai saja fasilitas pemandu, toh ini gratis alias nggak bayar lagi.
Di pendopo ini pula terdapat seperangkat gamelan yang sudah berusia ratusan tahun, dan menurut penuturan mbak guide yang (maaf) lupa namanya, gamelan ini tidak boleh digunakan lagi.

Di Museum Sonobudoyo Unit I ini terdapat berbagai macam koleksi yang terbagi menjadi 9 ruangan.


Ruang Pengenalan
Salah satu yang paling menarik perhatian dan paling terkenal adalah Pasren atau Krobongan. Tempat ini berupa tempat tidur serta ada sepasang patung laki-laki dan perempuan di depannya. Digunakan sebagai tempat untuk penghormatan terhadap Dewi Sri (Dewi Padi).


Ruang Prasejarah
Menyajikan benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu. Koleksi yang terdapat di ruangan ini antara lain replika tengkorak dan  tulang manusia purba. Mata tombak, mata panah, dan kapak corong yang digunakan untuk berburu. Serta peralatan untuk upacara adat seperti nekara, moko, dan lain-lain.


Jangan takut dan kaget kalau di ruangan ini muncul benda seperti gambar di bawah ini:


Replika peti kubur batu yang ditemukan di Situs Kajar, Gunung Kidul. Kubur berbentuk peti ini terbuat dari enam papan batu gamping. Di dalamnya sering ditemukan tulang manusia beserta bekal kubur seperti manik-manik, gerabah, dan alat-alat logam.

Ruang Klasik dan Peninggalan Islam
Secara umum, periode masa klasik berlangsung kira-kira abad IV M sampai abad XV M. Pada masa itu pengaruh Hindu dan Budha sangat kuat (terutama di kalangan kerajaan).
Koleksi di ruangan ini diantaranya yaitu beberapa artefak Hindu dan Budha. Prasasti dengan Bahasa Sanskerta yang ditulis di batu, logam, maupun daun lontar. Adapun karya sastra yang mengandung pemahaman tentang agama Islam, sejarah, budi pekerti, dan adat istiadat yaitu berupa Serat Ambiya. Meskipun menggunakan huruf Arab, tetapi jika dibaca akan menghasilkan bahasa Jawa.

Prasasti

Huruf Arab, Bahasa Jawa
  
Ruang Batik
Di ruangan ini ditampilkan beberapa koleksi batik yang digunakan sebagai baju pengantin. Selain itu, terdapat juga aneka ragam batik dilengkapi dengan peralatan membatik tradisional, pewarnaan, serta motif cap batik. Dulunya cap batik menggunakan  kayu yang diukir, tetapi seiring berjalannya waktu diganti dengan logam.


Ruang Wayang
Ruangan ini berbentuk memanjang. Sisi kanan memajang kisah Ramayana. Wah, banyak sekali wayang yang ada di sini. Dan menjadi seorang dalang (orang yang memainkan wayang) sesungguhnya tidaklah mudah.


Selain itu ada juga beberapa jenis wayang lain seperti Wayang Gedhog Solo,Wayang Sadat, Wayang Wahyu, serta Wayang Kancil. Adapun wayang terbuat dari kayu, dinamakan Wayang Klitik. Ngomong-ngomong tentang jenis-jenis wayang, jadi ingat koleksi Museum Ranggawarsita Semarang.

Wayang Golek Menak Yogyakarta

Ruang Topeng
Berbagai bentuk topeng dipajang di Museum Sonobudoyo. Mulai dari topeng figur manusia, topeng Bali cerita Ramayana, topeng Yogyakarta cerita Panji, topeng Cirebon cerita Mahabarata, hingga berbagai macam topeng Barong.

Topeng Yogyakarta cerita Panji

Baru sampai di sini saja sudah banyak sekali pengetahuan-pengetahuan baru tentang kebudayaan mulai dari zaman prasejarah hingga kebudayaan Jawa. Dan ini masih belum selesai tur museumnya.

Ruang Jawa Tengah
Di dalamnya berisi ukiran-ukiran terkenal dari Jepara. Miniatur rumah adat Jawa atau joglo. Beberapa jenis senjata. Miniatur tandu dan slanggan untuk keperluan upacara. Serta beberapa kerajinan perak.


Ruang Emas
Meskipun namanya ruang emas, tetapi koleksi di dalamnya tidak ada satupun yang berupa emas. Menurut penuturan mbak guide yang masih belum kuingat namanya, dulu memang ada koleksi emas yang dipamerkan, tetapi setelah pencurian di tahun 2010 semua koleksi emas ditarik dari ruang pameran.

Kini, pengunjung bisa menyaksikan benda-benda logam berupa alat makan di antaranya kendi dan ceret yang berbahan kuningan.  Vas, berbagai wadah, pakinangan, bahkan blencong yang digunakan sebagai penerangan untuk pertunjukan wayang pada masa lampau juga berbahan logam.


Gapura Candi Bentar
Gapura ini dinamakan Candi Bentar, terletak di luar gedung yang memisahkan dengan ruangan selanjutnya. Mirip kayak di Bali gitu. Di dalamnya terdapat Bale Gede, sebagai tempat upacara Daur Hidup dan untuk bermusyawarah. Di Bale Gede ini mirip pendopo yang ada patung di tengahnya.


Ruang Senjata
Berbagai senjata dipamerkan di ruangan ini. Seperti beraneka macam keris dengan berbagai bentuk dari berbagai daerah juga. Beragam bentuk celurit, miniatur senapan serta miniatur meriam.


Ruang Mainan
Ruangan ini nggak luas, tetapi cukup menarik dengan menampilkan koleksi mainan anak raja zaman dulu. Ada juga sedikit mainan anak 80-90’an seperti perahu othok-othok, yoyo, ketapel, dan lain-lain. Jika ingin mengetahui koleksi mainan yang banyak, bisa menuju ke Museum Anak Kolong Tangga.


Ruang Bali
Dan ini adalah ruangan terakhir.  Ada patung penari keris serta patung-patung khas Bali yang lainnya. Beragam peralatan untuk upacara keagamaan. Juga terdapat Kori / pintu rumah tradisional dengan ukiran yang disepuh emas 24 karat.


Keluar dari ruang pameran Museum Sonobudoyo, akan disambut banyak sekali arca-arca, relief, hingga yoni yang ditempatkan di halaman dekat pendopo tempat masuk pertama tadi.


Bagiku, Museum Sonobudoyo ini terbaik di antara museum-museum lain yang pernah kukunjungi (padahal masih beberapa museum aja yang sempat, hehee). Bahagia dengan hanya membayar Rp 3.000,- saja sudah dapat banyak pengetahuan dari pemandu. Juga ramah wisatawan karena buka di Hari Minggu.
Museum Sonobudoyo adalah tempat yang baik untuk belajar keragaman kebudayaan Indonesia sambil berwisata di Kota Gudeg.

Jadi, kapan kamu akan ke museum?

2 komentar:

  1. Aku paling suka Ruang Candi Bentar mbak, soalnya disini bisa narsis semau kita dengan background pura ala - ala bali,,, hehehe
    Wah kasihan ya yang unit II nggak ada yang ngunjungi,,,,
    kebanyakan mah para pengunjung hanya berkunjung di uint I aja, hehehe

    BalasHapus
  2. Waktu aku ke sana belum jadi bagus halamannya :-D

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)