Rabu, 03 Februari 2016

Kapan Lempoh Bareng Aku ke Curug Jeglong?


Kata seorang temen, janjian buat jalan-jalan kali ini mirip ngerjain skripsi. Di-revisi mulu sampai 3 kali. Ya emang bener sih, awalnya akan kumpul jam 10 pagi, diganti jam 12 karena kondangan dulu. Dan akhirnya baru berangkat dari rumah (pusat kota Semarang agak ke selatan dikit) jam 1 siang lebih beberapa menit. Dengan menggunakan 2 sepeda motor berboncengan, kami berempat mulai menyusuri jalur pantura ke arah barat.

Refreshing yang sebenarnya direncanakan akan mengunjungi Curug Sewu, dengan senang hati berputar haluan karena nemu petunjuk nama curug yang lain. FYI, Curug Sewu terletak di Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Saya dan beberapa teman sudah pernah ke sana tahun 2012. Demi melihat objek wisata lain, kami memilih Curug Jeglong. Bisa dibilang cuma modal GPS di smartphone sih, entahlah tantangan seperti apa yang akan ditakhlukkan nantinya. Bodo amat, diboncengin ini mah, hahaa :D


Curug Jeglong terletak di perbatasan antara Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Batang. Lebih tepatnya perbatasan antara Desa Jeplak Kec. Plantungan Kab. Kendal dengan Desa margosono Kec. Tersono Kab. Batang. Pintu masuk objek wisata bisa dari keduanya.


Kami masuk ke lokasi objek wisata melalui Kab. Kendal karena tentu saja lebih dekat dan sudah ada petunjuk arahnya. Sambutan ‘Selamat Datang di Curug Jeglong’ dimeriahkan oleh teriakan dan ketawa kami karena sepeda motor mendadak oleng. Sempat ngepot-ngepot dan hampir jatuh karena licin banget habis hujan. Retribusi untuk memasuki objek wisata itu kalau nggak salah cuma sebesar Rp 12.000,- (2 sepeda motor + 4 orang dewasa).

Di sekeliling area parkir terdapat hutan pinus. Nggak seluas yang ada di Puncak Becici sih, tapi bikin adem suasananya. Beberapa warung juga didirikan di sekitar area parkir. Boleh banget tuh kalau mau bawa persediaan makanan dan minuman sebelum melakukan perjalanan menyusuri air terjun.


Untuk menuju ke lokasi air terjun, disarankan dalam kondisi fisik yang sehat. Karena harus trekking lebih dari 1 kilometer, menguasai jalan yang licin kalau habis hujan. Meski sudah dibuat undak-undakan di beberapa tempat untuk membantu pengunjung beserta pagar-pagar dari bambu yang bisa digunakan untuk pegangan. Dan jangan lupa untuk berhati-hati karena jalan setapak yang berbatasan langsung dengan tebing. Sejauh mata memandang akan dimanjakan oleh hamparan hijau pepohonan.


Dinamakan Curug Jeglong karena (berdasarkan papan nama yang ada di kawasan wisata) dalam satu aliran terdapat lima buah air terjun yang masing-masing tingkatan dilengkapi empat buah kedung. Kedung atau lubuk itu mempunyai nama masing-masing yaitu Kedung Watu Kursi, Kedung Jonggrang, Kedung Urang-urangan, dan Kedung Kimplah.

Baru beberapa meter trekking, air terjun udah kelihatan. Tapi… kelihatan nun jauh di bawah sono. Artinya? Siap-siap ngos-ngosan kalau mau pulang.


Jam tangan sudah menunjukkan pukul 4 sore. Pantesan sepi banget ini tempat. Yang lain udah pada pulang, kami berempat masih berjuang turun tebing. Berangkat menuju air terjunnya sih semangat, sambil lari-lari kecil biar cepet sampai, menghemat waktu juga. Udah kesorean gini.

Setelah jalan kaki 10-15 menit, di lokasi yang sama, ada sebuah tempat bernama Petilasan Syech Jonggrang. Berupa pondokan kecil yang terbuat dari bambu dan beratap ijuk. Kabar baiknya, dekat dengan petilasan ini sudah ada air terjun beserta kedung Jonggrang sedalam ± 4 meter. Nggak kelihatan dalam karena airnya keruh. Adapun peringatan untuk tidak berenang di sini.


Karena belum puas dengan panorama air terjun di atas, kami jalan turun lagi. Berikutnya ada air terjun berserta kedung Urang-urangan. Tidak ada keterangan berapa kedalamannya sih, hanya saja tidak boleh berenang di tempat ini.


Jalan turun lagi, maka akan dijumpai pemandangan air terjun yang lebih bagus lagi seperti di bawah ini


Hanya saja harus menuruni sebuah batu besar bertumpuk-tumpuk. Harus ekstra hati-hati dan jangan banyak bercanda. Di bawah batu besar ini ada kedung yang siap nampani (bahasa Indonesianya apaan sih?) kalau kamu jatuh.

Untuk dapat view kayak gini...

Harus menuruni batu besar yang di pijak...

Eits, hati-hati ya...

Oh ya, sepertinya di setiap kedung ada larangan berenang. Dalam banget kali ya airnya? Pada saat turun ke air terjun, kami berpapasan dengan bapak-bapak membawa ban pelampung. Kemungkinan ban-ban pelampung tersebut disewakan bagi yang ingin berbasah-basahan.

Dari tempat terakhir saya dan teman-teman pijaki, di bawahnya lagi masih ada air terjun dan aliran sungai yang mungkin bisa dijelajahi. Sayangnya, kami berempat memutuskan untuk menyudahi sampai di sini saja. Alasannya sih karena kesorean banget dan awan mendung yang sudah siap menumpahkan airnya.


Perjuangan menuju tempat parkir adalah hal berat yang harus ditakhlukkan. Dan perjalanan pulang lagi ke Semarang adalah hal pahit yang mau nggak mau harus dialami. Belum jauh dari desa tempat Curug Jeglong berada, hujan deras semena-mena mengguyur. Mana lupa bawa jas hujan pula, alamat pulang-pulang dalam keadaan basah kuyup.


Yes, we are :)

Bagi yang ingin mengunjungi Curug Jeglong, dari Semarang bisa mengarahkan kendaraan menuju Kendal – Weleri (searah dengan rute menuju Curug Sewu). Jalan raya ini cenderung sempit, berkelok-kelok, dan menanjak tapi sudah di-cor. Sampai bertemu pertigaan, ambil ke barat arah Pucak Wangi (ada petunjuknya di sini, curug sewu ke kiri, curug jeglong dan 2 curug lainnya ke kanan). Sekitar 700 meter ada pertigaan Koramil Pageruyung ambil arah selatan. Lurus terus sampai ketemu pertigaan yang dijaga pohon di tengah jalan. Arahkan kendaraan ke barat / Pekalongan. Nah, dari sini udah mulai ada petunjuk arahnya. Yang cermat lihatnya ya!




Aslinya sih keren banget, tapi habis hujan jadi airnya keruh.
Salam jeguran!

3 komentar:

  1. wah suasananya masih alami sekali yaah..
    Apalagi tracknya seperti itu..
    btw Rp 12.000,- (2 sepeda motor + 4 orang dewasa), 12 ribu itu udah semuanya mbak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Rp 12.000,- udah semua. Parkir 2rb/motor, retribusi 2rb/orang. Murah kan?

      Hapus
  2. Aku udah pernah kesana kak, sebenernya dinamain Curug jeglong karena....., Aliran Air terjunnya itu berasal dari sungai jeglong dan mengalir menuju sungai lampir. Gitu....,

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)