Rabu, 24 Februari 2016

Malu itu perlu (?)


Sebagai manusia kamu pernah nggak sekali saja dalam hidupmu merasa dipermalukan oleh dirimu sendiri? Tentu pernah dong. Dari sekian banyak perasaan yang bisa kita kecap seperti senang, sedih, takut, marah, dan lain sebagainya. Ada satu rasa yang menurutku menjadi sebuah momok tersendiri yang mampu menjatuhkan rasa percaya diri yaitu “MALU”. Rasa malu bisa saja mempunyai efek yang dahsyat. Misalnya setelah kejadian itu dialami, udah pasti kamu nggak pengen terlihat (invisible) sama orang-orang di sekitarmu. Atau rasanya pengen kamu delete memori orang-orang yang menertawakan kejadian memalukanmu?

Pic : asalaily

Hmm, kenapa di sini aku membahas tentang rasa malu?
Yap, karena dalam posting kali ini, aku mau berbagi pengalaman memalukan yang pernah kualami ketika menginjak di bangku sekolah menengah. Dulu, sewaktu masih bersekolah aku mempunyai sifat pemalu, nggak pede-an. Kini, setelah lulus sekolah dan berteman dekat dengan orang-orang yang ‘agak nggak waras’, perlahan sifat pemaluku berubah menjadi malu-maluin.

Rasa-rasanya aku sudah siap menceritakan kejadian ini, setelah hampir 6 tahun berselang.

Aku seorang cewek yang bersekolah di sebuah SMK tepat di pusat Ibukota Provinsi, lebih tepatnya STM dengan sistem pendidikan 4 tahun. Sekolahku cukup dikenal dengan tingkat kedisiplinannya, seragam, aturan rambut, tidak terkecuali tentang jam masuk yang harus pukul 07.00 tepat. Lebih semenit aja udah digembok itu pintu pagarnya. Dan aku adalah salah satu dari siswi yang sering berada di luar pagar sekolah ketika bel masuk sudah berbunyi. Kami – yang terlambat – menunggu pintu gerbang dibuka oleh kesiswaan sambil bersiap dengan hukuman apa yang harus kami laksanakan.

Seringnya adalah lari keliling sekolah sepanjang 1.2 kilometer dengan catatan nggak boleh lebih dari 5 menit, kalau lebih ya nambah satu putaran lagi. Terima kasih kepada Bapak-Ibu guru kesiswaan, karena dengan hukuman itu aku bisa ambil sisi positifnya yaitu ketika olahraga lari, aku selalu masuk jajaran depan dari sekelas dan yang terbaik di antara 12 siswi lain di kelas.

Hukuman lari sih nggak apa-apa dibanding pernah suatu hari disuruh jalan jongkok sebelum persiapan upacara bendera hari Senin. Iya, aku masuk juga dalam rombongan itu. Bisa dibayangin nggak sih, kamu jongkok tapi kudu jalan, mana kedua tangan harus di atas tengkuk pula, sambil nunduk-nunduk nahan malu dilihatin kakak kelas, adik kelas, guru-guru. Syukur Alhamdulillah nggak dipakein tulisan “SISWA TERLAMBAT” di depan dada. Tambah tengsin kan kalau itu terjadi.

Waktu itu tahun 2010 ketika aku sedang duduk di tahun ketiga dan sedang sibuk-sibuknya persiapan ujian nasional. Aku beserta 2 orang cowok di kelasku mendapatkan dua buah surat sekaligus dari sekolah. Isinya apa?


·         Yang satu adalah Surat Peringatan Pertama (SP 1) karena terlambat lebih dari 10 kali dengan pencapaian poin 50. Gila! Gue langsung speechless, lah dari kemarin-kemarin selalu dikasih hukuman tiap terlambat masuk sekolah ternyata masih kena poin juga?


·         Yang kedua adalah surat panggilan orang tua untuk konsultasi dan pembinaan kesiswaan. Mati gue! Kudu siapin kuping buat diomelin Ayahanda. Mana pas suratnya dianter ke rumah, aku lagi bolos sekolah, malah nongkrong di perpustakaan dekat rumah. Double mati gue!


Dan hal memalukan itu pun menghampiri hidupku. Lebih memalukan daripada jalan jongkok yang pernah aku lakukan sebelumnya. Kejadian tersebut adalah SKORSING. Kalian tahu skorsing? Biasanya skorsing dilakukan sebagai bentuk tindakan kedisiplinan yang mengakibatkan seseorang tidak diperkenankan masuk sekolah (karena aku statusnya sebagai pelajar) dalam jangka waktu tertentu. Tetapi di sekolahku, skorsing ini dalam bentuk yang elegan, tapi sungguh-sungguh memalukan.

Dari 43 siswa-siswi penerima SP 1, tiga di antaranya adalah perempuan. Aku salah satunya :’(
Selama skorsing dalam waktu 1 minggu mulai jam 10.00 – 15.00 kami harus membersihkan seluruh halaman sekolah. Ada yang nyapu, buang sampah, sampai bersihin rumput. Asik bener yee Pak Bon kerjaannya berkurang drastis, digantikan kami-kami yang pesakitan kena hukuman ini. Berhubung pada jam yang telah ditentukan banyak guru-guru yang kurang setuju kami meninggalkan jam pelajarannya, akhirnya mulai sore kami kerja bakti bersih-bersih sekolah. Skorsing seminggu pun berubah jadi DUA MINGGU karena jam terbangnya kurang. Hiks! Sungguh nelangsanya kami ini.

Kalian mungkin ada yang berpikir, “bersih-bersih doang mah, di mana memalukannya?”
Baik, bagian memalukannya adalah kami 43 siswa-siswi penerima SP 1 harus memakai sebuah kaos khusus dari sekolah. Yang bentuknya seperti ini…

Ini foto temen

Sudah cukup memalukan belum?
Coba bayangkan, saat aku lagi nyapu halaman sekolah sambil mengenakan kostum kebesaran, banyak siswa-siswi berseliweran, tak terkecuali guru-guru, mau ditaruh mana ini muka? Tiap lihat mereka ketawa, rasanya pengen gue timpuk pakai sapu. Tapi urung, karena aku tahu itu adalah tindakan yang tidak terpuji. Tiap ada yang baca tulisan di kaos “SKORSING SMK bla bla bla” rasanya udah kayak ditelanjangi (heheee, hiperbolis banget nggak sih gue?). Pokoknya malu banget deh. Bisa aja sih ngelempar sapu dan pengki pura-pura lagi nongkrong, tapi tetep nggak bisa mengelabuhi kontrasnya kaos hitam bertuliskan SKORSING SMK bla bla bla yang menempel di badan.

Dua minggu men, dan harus terbiasa dengan rasa malu. Anggap aja ujian hidup supaya naik level *ceileeeh*. Baiklah, akan kucoba. Tapi tak bisa~
Saat mas gebetan rasa-rasanya akan lewat di depanku, aku udah siap-siap sembunyi. Satu orang ini nih yang nggak boleh tahu kalau aku di-skorsing. Malu banget kan ya terlihat ‘nggak menarik’ di depan gebetan.

Nggak tahunya pas mau sembunyi, diteriakin salah satu guru kesiswaan, “mau ke mana mbak? Belum selesai ini kerjaannya”. Duh, malu-maluin aja Bapak ini.
Akhirnya ketahuan juga sama mas gebetan, “rajin bener dek, yang bersih biar suaminya nanti nggak brewokan. Hehee.” Lalu diikuti serombongan ketawa dari teman-temannya. Huaaaaa, pupus sudah harapan adek menjadi gebetanmu, mas.

Bagiku, masa-masa SMK adalah kenangan paling indah. Aku pernah jatuh cinta, patah hati, bahagia, kecewa, dan juga pernah merasakan hal paling memalukan. Semua itu kupeluk erat, kubagi cerita ini dengan hati legawa, supaya anak cucuku kelak (atau bisa juga kalian yang masih sekolah) nggak melakukan kebodohan yang akhirnya akan mempermalukan diri sendiri.

Sekian dan silakan ditertawakan.


Tulisan Ini Diikutsertakan Untuk Giveaway di Blog eparamata.com

2 komentar:

  1. waw segitunya yah. gue aja telat gak nyampe gitu banget dah hahaha

    buat gue sih malu itu wajar krn suatu hal yg salah..tp yang ga boleh itu malu yg bikin kita jadi tertutup sama lingkungan dan orng baru. nah itu kudu dihindari

    BalasHapus
  2. Ya ampun.. hahaha itu sampe ada kaosnya gitu.niat banget itu guru-guru kesiswaan.Gak kebayang deh kalo make itu ke sekolah... udah kayak make kaos dengan tulisan Jomlo ke mall do malam minggu. :(

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)