Jumat, 04 Desember 2015

Museum Tani Jawa Indonesia


Setelah adegan penasaran dengan jembatan gantung Selopamioro dan menguatkan mental menyeberanginya menggunakan sepeda motor, saya bertolak menuju Museum Tani Jawa Indonesia. Dimanakah tempatnya?


Museum Tani Jawa terletak di Dusun Candran, Kebonagung, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
Jika dari terminal bus Giwangan ke arah selatan menyusuri Jl. Imogiri Timur mentok sampai di pertigaan. Dari sini ambil arah ke Siluk. Sekitar 1,5 km sudah ada petunjuk arah di kiri jalan untuk menuju ke Museum Tani Jawa Indonesia. Nah, dari papan petunjuk itu masih masuk kampung sekitar 300 m.

Saya berkunjung ke sana 21 November 2015 yang lalu, tak sengaja berbarengan dengan rombongan tamu dari Kudus jadi suasananya sangat ramai. Tetapi kalau sedang tidak ada rombongan yang berkunjung, mungkin syahdu. Hamparan sawah menghijau di seberang museum. Serta puluhan memedi sawah menambah semarak Desa Wisata Candran.



Museum Tani Jawa didirikan sebagai objek wisata pelengkap Desa Wisata Candran yang menawarkan berbagai macam kegiatan yang menarik dan edukatif. Jika hanya memasuki museum ini tidak dikenakan biaya / gratis, tetapi kalau pengunjung ingin menyumbangkan dana sukarela sudah disediakan sebuah kotak di depan pintu masuk museum.


Kalau ingin berwisata lengkap di Desa Wisata Candran tentu saja membayar sejumlah biaya per rombongan. Banyak sekali kegiatan yang diselenggarakan Desa Wisata Candran diantaranya yaitu menanam padi, mengolah emping tradisional, pembuatan tempe, dan lain-lain.

Karena saya datangnya sendirian dan hanya berminat pada Museum Tani Jawa, jadi saya hanya akan mengulas sedikit mengenai museum ini.

Jangan berekspektasi tinggi terlebih dahulu mengenai besarnya bangunan museum di sini. Tidak luas, hanya mungil saja, mirip sebuah pendopo. Berdasarkan curi-curi dengar saat acara penyambutan rombongan dari Kudus, museum ini adalah milik pribadi.

*Berdirinya Museum Tani Jawa dirintis sejak tahun 1998. Pada tahun 2005 mulai dilakukan pengumpulan  berbagai koleksi pertanian. Namun bangunan runtuh saat terjadi gempa Jogja tahun 2006. Setelah gempa melanda, museum didirikan kembali dan diresmikan pada tanggal 4 mei 2007. (sumber dari sini)

Museum Tani Jawa memamerkan koleksi-koleksi yang berhubungan dengan pertanian khususnya di Jawa. 

Luku / Bajak

Adapun alat-alat pertanian itu sendiri berupa alu, lumpang, cangkul, sabit, dan lain sebagainya. Dilengkapi juga dengan alat-alat dapur tradisional seperti tungku, kendil, wajan, anglo, dan masih banyak macam lainnya.


·         Lumpang kayu
Alat ini terbuat dari kayu yang di tengahnya terdapat lubang. Biasanya digunakan untuk menumbuk padi setelah dipanen.
·         Alu
Terbuat dari kayu dan dapat digunakan untuk alat menumbuk padi.


·         Kendil
Terbuat dari keramik atau tanah liat digunakan sebagai tempat untuk menanak nasi, sayur, atau air.
·         Tungku
Terbuat dari tanah liat atau keramik yang digunakan sebagai alat memasak menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya.


·         Anglo
Terbuat dari tanah liat atau keramik yang digunakan sebagai alat memasak menggunakan arang sebagai bahan bakarnya
·         Wajan
Terbuat dari besi yang digunakan sebagai alat penggorengan atau alat memasak lainnya.


·         Kendhi
Alat ini digunakan sebagai tempat penyimpan air minum. Terbuat dari tanah liat.


·         Lampu Teplok
Alat penerangan tradisional yang menggunakan bahan bakar minyak tanah.

Peralatan memasak

Miniatur

Cukup menarik sih, sayangnya di dalam museum terlihat gelap. Bantuan cahaya matahari dari luar sepertinya tidak cukup membuat terang ruangan museum. Mungkin perlu ditambah penerangan untuk memudahkan pengunjung membaca keterangan-keteragan di setiap alat yang dipamerkan.

Memedi sawah di sebelah pintu museum

Akhir kata, mengunjungi museum-museum yang tersebar luas di Indonesia nggak otomatis bikin kamu kena cap “CUPU” kok. Malah kamu semakin menarik dengan pengetahuan-pengetahuan baru yang mungkin saja teman-teman terdekatmu belum tahu. Saya sendiri mulai tertarik menyambangi museum-museum sejak berkunjung di acara Museum Mart 2015 di Museum ranggawarsita Semarang. Biar dikata kekunoan, bodo amat! Yang penting saya nggak merusak :D

Ayo ke museum!

3 komentar:

  1. Di dalam museumnya masih ada boneka Nini Thowong mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada kayaknya mas, boneka-bonekaan tapi ndak tau Nini Thowong atau bukan. Beberapa topeng juga ada. Sayangnya ndak ambil foto, medeni je hahahaa :D

      Hapus
  2. wah kece juga ya ada tempat kayak gini di jogja mantap euyyy....

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)