Selasa, 29 Desember 2015

Curug Palebur Gongso


Long weekend enaknya kemana? Ya jalan-jalan…
Tepatnya 25 Desember 2015 yang sebelumnya direncanakan akan ke Pulau Panjang, akhirnya dibatalkan karena motor lagi nggak sehat. Daripada nggak kemana-mana sama sekali, dipilihlah tempat yang deket-deket Semarang aja.


Dan sampailah kami bertiga di tempat ini. Siang-siang setelah nunggu temen sholat Jumat. Namanya Curug Palebur Gongso. Ada juga yang menyebut Curug Pelebur Gongso atau Curug Panglebur Gongso.

Berdasarkan papan nama yang ada di lokasi parkir, curug ini terletak di Desa Keseneng, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Tapi ketika browsing,  saya menemukan bahwa Curug Palebur Gongso masuk di Desa Gondang, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal. Letaknya memang berada di perbatasan antar kabupaten, jadi pengunjung bisa lewat Sumowono atau Limbangan.


Dari lokasi parkir hingga air terjun, hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Menuruni anak tangga yang di kanan-kirinya berupa kebun kopi. Di ujung anak tangga, air terjun sudah terlihat dan gemuruhnya pun sudah terdengar. Untuk turun di dekat air terjun, hanya tinggal menyusuri jalan setapak yang sudah di-cor. Hendaknya pengunjung yang ingin membawa makanan atau minuman bisa membeli terlebih dahulu di warung yang ada hanya satu-satunya di lokasi parkir.



Curug Palebur Gongso berada di kaki lereng Gunung Ungaran. Tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 7 meter. Di bawah curug terdapat semacam kolam yang bisa digunakan untuk berenang. Konon, di air terjun ini pernah menjadi tempat pemandian Dewi Sukaesih (Ibunda Kumbokarno) untuk membersihkan jasmani dan rohaninya. Kesegaran airnya yang melimpah mampu menjadi pelepas lelah bagi wisatawan.




Di dekat air terjun ada larangan untuk melompat dari atas. Akan tetapi, ketika saya ke sana ada seorang laki-laki (yang kayaknya otaknya agak geser *wkwk :D) nekat lompat dari atas air terjun. Berkali-kali pula. Gila!



Ada juga larangan untuk bermain-main dan berhenti di atas jembatan. Tujuannya mungkin baik, untuk memudahkan orang-orang yang lewat dan pengen nyebrang sungai. Eh lha kok ada satu pasangan yang dengan santainya duduk di tengah jembatan (sambil selfie) lama pula.
Woi! Emang peraturan dibuat untuk dilanggar?


Air terjun yang setelah jatuh ke kolam, mengalir di sela-sela batu besar. Kami mengambil tempat di atas sebuah batu besar untuk menikmati air terjun yang berada tepat di depan mata. Seger banget rasanya melihat pemandangan alam seperti ini. Rasanya susah move on dari liburan. Sayang, salah satu personil kami tidak ikut serta.




Di sebelah kiri air terjun terdapat Goa Sakti yang dipercaya memiliki legenda yang berhubungan dengan cerita Ramayana. Diyakini goa tersebut adalah tempat bertapanya Kumbokarno yang merupakan adik dari Rahwana atau Dasamuka, tokoh pewayangan yang berwujud raksasa tapi berhati ksatria. Seiring perkembangan waktu, lokasi goa sering dipakai untuk orang mencari wahyu dengan cara bertapa di dalam goa.


Selain itu, juga terdapat Goa Pohon. Goa ini terbentuk akibat akar yang besar dari pohon beringin merambat ke batu sehingga membentuk mulut goa. Warga sekitar lalu menyebutnya goa pohon.


Bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Curug Palebur Gongso, bisa menempuh jalan dari Bandungan menuju Sumowono. Sampai di barak tentara Bantir, belok kiri lalu ikuti petunjuk Curug 7 Bidadari. Melewati rumah-rumah warga dan persawahan yang menghijau. Di ujung pertigaan, ambil arah lurus (jika ke kiri menuju Curug 7 Bidadari).

Karena dirasa masih terlalu siang untuk pulang Semarang, kami sekalian mengunjungi  Curug 7 Bidadari yang letaknya tidak terlalu jauh.

Kalau kamu, bagaimana cerita liburanmu?

3 komentar:

  1. Musim ujan gini emang enak nyari curug :-D
    Oya, tgl 9 Januari ntar aku mau ke Pulau Panjang :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, asik dong mas. Sekalian mudik atau gimana nih? :D

      Hapus
    2. Nggak kok, hanya pengen ke Pulau Panjang saja :-D

      Hapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)