Senin, 17 Agustus 2015

Satu Tempat, Banyak Nama - Itulah Jurug Gede


Betapa sikap songong emang menyebalkan dan bikin speechless, ya?
Ini nggak lagi ngomongin orang kok, enggak bermaksud ngerasani siapa-siapa. Ini ngomongin soal aku sendiri. Iya, aku akui emang agak songong dan punya rasa pengen tahu yang lebih. Rasanya nggonduk banget setelah tahu fakta yang sebenarnya, tapi ya gimana ya udah terlanjur nyemplung, kepalang basah. Ya sudahlah, ambil sisi positifnya yaitu (mungkin) lebih banyak tahu daripada orang-orang lain. Jadikan pelajaran aja semoga lain kali lebih teliti dan cermat.

Eh, jadi ngelantur kan? Niatnya mau ngomongin air terjun malah jadi curhat. Abisnya, udah capek-capek disamperin ternyata…

Sebagai kado di hari ulang tahunku (16 Agustus 2015), aku mengajak jalan-jalan diriku sendiri ke sebuah tempat di daerah Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Jogja. Tujuan awalnya ke Gunung Ireng di Desa Pengkok. Eh liat papan nama sebuah air terjun. Langsung nggak pakai mikir disamperin lah tempat itu.


Rute dari Bukit Bintang naik menuju perempatan Patuk, belok kanan lewat jalan di samping Polsek Patuk. Lurus hingga menemukan pertigaan pertama, ambil jalan turunan (petunjuk Jurug Taman Sari atau Gunung Ireng). Lurus terus sampai nemu petunjuknya di kanan jalan. Pokoknya sebelum perempatan yang ada patung Semar di tengahnya.

Awalnya sih jalanan ber-aspal mulus. Tapi di pertengahan jalan dihadapkan jalan cor-coran yang agak rusak, tanjakan pula. Untungnya nggak zonk, banyak petunjuk arahnya. Sampai di perempatan, masuk gerbang selamat datang di Jurug. Parkirnya di halaman rumah warga.


Untuk sampai di lokasi air terjun, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Setelah sampai di gazebo buatan, jangan senang dulu karena perjalanan selanjutnya baru akan dimulai. Melewati jalan setapak, menuruni jalanan berbatu terjal dan sawah yang kering tak terpakai, hingga ‘cari jalan sendiri’ menuju air terjun. Pokoknya perjuangan banget deh. Buat yang manja dan suka ngeluh kepanasan, mending nggak usah ke sini.



Kelelahan ini terbayar dengan batuan yang dilewati air terjun lumayan tinggi. Agak kecewa karena airnya kering. Namanya juga musim kemarau. Ngapain juga musim kemarau pergi ke air terjun? Hahaa.
Kalau musim hujan, debit airnya bakal banyak. Pasti keren banget. 
 


Di sana cuma aku doang yang berkunjung padahal hari Minggu. Bertemu dengan 2 orang bapak-bapak yang lagi mancing. Entah mancing apaan, emang ada ikannya pak? Setelah ngobrol sebentar dengan bapak-bapak itu, aku berpamitan.

Sungai yang seger gini mau kamu kotorin? Nggak sayang?

Nggak langsung pulang, tapi menyusuri sungai  dulu menuju Jurug Grejeg-grejeg. Masih di lokasi yang sama. Jurug Grejeg-grejeg ini lebih tinggi daripada Jurug Gede, tapi debit airnya lebih sedikit. Bahkan kering di musim kemarau, hanya terlihat bekas alirannya saja. mungkin kalau nggak ada petunjuk namanya, aku sendiri juga nggak ngeh kalau itu sebuah air terjun.


Udah puas di bawah, saatnya pulang. Jika menuju air terjun dihadapkan dengan turunan, maka pulangnya? Yak betul, menanjak! Semangat!
FYI aja sih, kalau mau mengunjungi air terjun ini sebaiknya siap-siap bawa air minum. Karena bakalan kehausan. Kalau aku sih beli di rumah warga yang halamannya buat parkir. Murah, men. Sebotol Aqua tanggung cuma bayar Rp 2.000,- Sekalian bayar parkir Rp 1.000,- untuk motor atau Rp 3.000,- untuk mobil, dan biaya masuk Rp 1.000,- saja.


Pikirku, mumpung lewat di daerah sini, mampir sekalian di Jurug Taman Sari aja.
Beneran aku samperin ke desa Semoyo. Ada petunjuknya kok, nggak usah takut nyasar. Kelihatan menonjol banget gerbangnya, ada tugu monument peresmiannya berupa sebuah batu. Untuk masuk ke lokasi air terjun dikenai tiket masuk Rp 3.000 / orang dan parkir Rp 2.000 untuk motor atau Rp 5.000 untuk mobil.




Di tengah jalan, agak kebingungan mau parkir motor dimana. Untunglah bertemu dengan bapak-bapak gahol ber-headseat
Bapak  : “Mau kemana, mbak?”
Aku       : “Air terjun sebelah mana ya pak?”
Bapak  : “Turun situ, tapi jalannya susah. Parkir di sini aja gapapa. Sendirian aja mbak?”
Syukurlah, aku menuruti perkataan bapak itu parkir di halaman rumahnya. Emang bener kata bapak itu, di bawah ada tempat parkir motor, tapi jalannya masih jalan tanah. Semoga cepat diperbaiki.

Jalan kaki lagi di sebuah jalan setapak untuk menuju air terjun. Dianjurkan pakai sandal jepit aja atau sepatu gunung sekalian biar nggak licin karena jalan turun cukup curam.
 

Makin semangat dari atas udah kelihatan gazebo-gazebo buat istirahat. Wah keren nih, pikirku.
Tapi setelah dilihat-lihat lebih jeli kok kayaknya familiar ya? Kok ada 2 orang bapak-bapak yang lagi mancing ya? Kayak pernah lihat sebelumnya, dimanaaa gitu. Apakah ini de javu?
Eh ternyata ada tulisannya Jurug Gede. Oalah, ternyata tempat yang sama cuma beda pintu masuk aja. Tau gitu nggak usah sok-sokan songong nyamperin ya. Cuma dapet capek doang plus dongkol, geli-geli gimana gitu. Hahaha.

Ds. Semoyo | yang seberangnya Ds. Pengkok *speechless*

Masih di lokasi yang sama, di dekat sebuah tempat untuk beristirahat, ada petunjuk menuju Air Terjun Banyu Semurup. Menyeberangi jembatan bambu yang sudah sangat mengenaskan, melewati kebon-kebon yang sepi bangeeet, melewati batu-batu besar. Sialnya nggak ada petunjuk lagi. Maka kuputuskan untuk menyudahi jalan-jalan kali ini. Capek banget sih *padahal aslinya takut kesasar hahaa.



Akhir kata, jangan pergunakan kakimu untuk berjalan-jalan di mall melulu. Sekali-kali pijaklah tanah, batu, bahkan air secara langsung untuk mengetahui nikmat dan indahnya ciptaan Tuhan.
Ayo mblusuk!


2 komentar:

  1. Emang ini lokasi banyak namanya mbak. Mbingungi...

    BalasHapus
  2. apalah arti sebuah nama *lalu dikeplak...kemarau yaa jadi kering semua hiks...

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)