Jumat, 16 Mei 2014

Aku, kamu, dan satu tahun terakhir



Hai kamu, apa kabar? Sepertinya udah lama banget nggak menyapamu dalam halaman-halaman cerita terselubungku disini. Sampai tenggelam berlembar-lembar segala tentangmu. Tentu kamu senang bukan? Oh ya, apa kamu sering membuka halaman demi halaman yang ada disini? Atau sekedar mengintip apa yang sedang kukerjakan selama ini? Ah jangan bercanda, tentu saja tidak mungkin.

Hai kamu, seseorang yang selalu ingin kusebutkan inisialnya, apa kamu tahu kenapa aku menuliskan tentangmu kembali? Kalau tidak tahu, tentu aku akan dengan senang hati memberitahukannya padamu. Apakah kamu mau meneruskan membaca? Kalau menurutmu nggak penting, silakan close halaman ini atau baca selengkapnya jika rasa penasaran mengancammu.

Tanggal 16 Mei, sebuah tanggal yang biasa aja sih, tapi kenangan di dalamnya sangat luar biasa. Apa kau tahu, kepergianmu setahun yang lalu tepat tanggal 16 Mei 2013 pernah memberikan dampak besar untukku? Tentu saja kau tidak tahu dan tidak mau tahu. Mari kita bicarakan lebih lanjut…

Bandara, aku selalu merasa takut jika berada di sana. Bayangan kepergianmu selalu menyelinap masuk ke relung hati terdalam. Benar, aku sangat takut kehilanganmu waktu itu. Aku pun tak mau berpisah denganmu, terbentang lautan luas dan jarak yang tidak singkat. Aku takut kau berpaling kepada seseorang yang bukan aku. Namun, aku bersyukur waktu itu kamu selalu meyakinkanmu bahwa tidak akan terjadi apa-apa padamu, dan pada kami kita. Hingga akhirnya kau tak pernah datang lagi menepati janji terakhirmu pada setahun silam. Apa kau masih ingat dengan janji yang kau ucapkan di bandara, waktu itu?


Entah bodoh, atau kelewat menyayangimu. Aku pun menanti kedatanganmu kembali. Terus menanti, hingga aku lelah. Hingga aku bertahan sendiri dalam kesendirian dan kesunyian hari-hari tanpamu, dan aku mampu. Ya aku mampu melewati segala risau menahan rindu yang tak kunjung usai hingga aku pun sanggup merelakanmu. Kau tutup semua akses menuju dirimu, kau kunci pintu hatimu untukku kembali, kau abaikan semua yang kukira aku bisa menghubungimu. Selamat. Aku ucapkan selamat untukmu yang membuatku rapuh.

Banyak hal yang bisa kau tinggalkan untuk kuingat, kenapa kau memilih luka?

Aku yang sekarang, masih sama dengan aku setahun yang lalu. Bedanya aku (mungkin) sudah bisa merelakanmu, meski belum melupakanmu sepenuhnya. Aku cukup tegar untuk menatap wajahmu yang kerap kali kupandang melalui layar persegi panjang dan hatiku tak lagi tersayat. Meski kamu sudah membuka tembok pertahananmu, aku tahu kamu tak akan memintaku kembali. Dan sejak saat itu, aku mulai membangun pagar yang menjulang agar pertemuan kita tidak lagi terencana.

Aku bersyukur pernah mengenalmu, menjadi memori dalam hidupmu, walaupun terjungkalkan. Terima kasih ya sudah mengajarkanku sakit yang berdarah-darah hingga mengajariku untuk menyembuhkannya seorang diri. Tugasmu sekarang sudah selesai, aku sudah bebas mencintai orang lain kan?


Bandara, bukti nyata bahwa sesungguhnya benar-benar ada kepergian dan kepulangan seseorang...

Selamat 1 tahun perpisahan. Semoga selalu baik-baik saja dimanapun kamu berada  :)

2 komentar:

  1. memang, perpisahan selalu memiliki "sensasi" tersendiri..
    apalagi banyak kenangan yang ditinggalkan

    BalasHapus
  2. Mengenang masalalu seperti kupu-kupu menghisap madu tanpa pernah merusak bunga itu :)

    Mampir juga ya :)
    Asiqurrahman.blogspot.com

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)