Selasa, 27 Mei 2014

3 jam yang (sangat) berarti

Kau tahu apa artinya “de javu” ?
Mungkin begitulah yang sedang kurasakan saat ini. Saat aku memasang tagline “Susah bener meluluhkanmu”. Dalam hitungan kurang dari 12 jam, kau hadir. Tidak nyata memang, hanya melalui layar selluler. Tapi terasa sampai disini, di hati.
Jujur, aku nggak bisa bilang nggak seneng malam ini. Kuungkapkan kalimat itu padamu, dan dengan nada pedenya kau bilang “aku tau yang itu”. Ah, rasanya pengen nutupin muka pakai bantal. Biar nggak ketahuan ada rona merah (bukan, bukan blush on) di pipi.

Source from here

Sedikit menggelitik dalam sebuah percakapan. Kukira kau sudah melupakan masa lalu kita, ternyata aku salah. Kau bahkan masih ingat barang yang pernah kutinggalkan untukmu. Kau ungkap kalimat itu dengan tegasnya dan aku hanya menanggapi sederhana, tepatnya mengalihkan ke pembicaraan yang lain. Aku tak mau kau mengenangku sebagai bagian yang menyakitkan. Oh ya, apa kau juga ingat aku pernah meminta selembar bajumu? Sekarang udah nggak cukup lagi :(

Apa kau masih menyimpan rasa itu walaupun sedikit di hatimu? *just asking*
Kalau aku, tentu saja aku masih selalu mengingatmu. Tidakkah kau tahu betapa sulitnya memohon maaf padamu berkali-kali saat aku sadar segala yang pernah kulakukan hanya membuatmu sakit? Harusnya kau menatapku langsung melalui sudut matamu sendiri, hatiku berbunga-bunga, malam ini.

Aku tahu, aku harus tetap realistis memandangmu. Tidak melulu berharap kau akan kembali mengulang masa lalu bersama-sama.

Bodoh memang, kata orang segalanya menjadi mudah diimplementasikan dalam kata-kata jika orang itu sedang patah hati. Tapi, kau adalah pengecualian. Senang, sedih pun aku sanggup mengungkapmu melalui rangkaian kalimat. Kau terlalu berharga untuk diabaikan (lagi).



Awalnya, aku tak percaya pada kesempatan kedua.
Hingga kau datang menawarkan kehangatan (kembali). Tutur kata yang sama seperti dulu, candamu, memaksaku untuk menarik otot pipi hingga bibirku melengkung membentuk segaris tipis senyuman. Kau tahu betapa bahagianya aku kembali mengenang masa-masa itu? Hebat, kukira kau tak akan membuatku tersenyum kembali.
Terima kasih ya, kamu yang (masih saja) tak sanggup kusebutkan namanya dalam tulisan ini.


Ya, kadang hal yang baru itu datang hanya untuk mengingatkan, betapa berharganya hal lama yang sudah kita tinggalkan. *ngutip kalimat novelnya Alitt*

1 komentar:

  1. Sangat bergunakah 3 jam itu untukmu, kak? Apa saja kegunaannya?
    Senangkan kau mengalami 'de javu' itu, kak? Apa yang kau rasakan selain pipimu yg amat sangat merona itu?

    ^aku jadi kepo gini haha.

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)