Minggu, 30 Maret 2014

JOGJA! di hari kedua "Long Weekend"


Happy Sunday morning. Happy weekend  :)
Liburan begini pada main kemana nih kalian? Atau jangan-jangan pada nyepi di rumah aja? *upss Lumayan lho, liburan panjang kalau nggak dimanfaatin rugi. Nggak lengkap kalau nggak dipakai buat refreshing. Sekedar menghilangkan kejenuhan dari rutinitas sehari-hari.

Sesuai dengan postingan pertamaku, Perjalanan panjang hari pertama "Long Weekend" kali ini mau share hari kedua liburan. Pagi ini aku dan teman-teman sudah menginjakkan kaki di Jogja. Pagi hari menyusuri jalanan asing yang belum pernah dilewati pagi-pagi hari sebelumnya. Sempet takut nyasar juga sih waktu perjalanan ke Malioboro. Hehee :D
Akhirnya sampai juga di Malioboro setelah melewati Tugu Jogja – Jl. Margo Mulyo – Stasiun Tugu. Yang pertama, cari tempat parkir untuk kendaraan-kendaraan kami dan berjalan di sepanjang Jl. Malioboro untuk mencari sarapan. Pengennya sih mau makan pecel di depan pasar Beringharjo, tapi karena saking jauhnya dari tempat parkir maka kami memutuskan untuk makan pecel Magetan yang nggak jauh-jauh amat dari hotel Mutiara di Jl. Malioboro. Seporsi nasi pecel + tempe bacem dihargai Rp 8.000,- ya lumayanlah untuk harga di kawasan wisata.
 
Makan pecel di Malioboro

Perjalanan pun dimulai kembali, setelah Matius dan mas Dul beli pakaian dan sandal di pasar Malioboro. Entah jam berapa kami memulai perjalanan. Niatnya pengen ke pantai Gunung Kidul yang nun jauh disono, tapi mari kita lihat saja apakah kami sampai di sana? Hahahaa…
Dari Malioboro belok kiri melewati taman pintar, lurus terus melewati taman makam pahlawan Jl. Kusumanegara. Selanjutnya belok arah kebun binatang Gembira Loka dan sampailah kami di Jl. Wonosari. Ah ya, benar-benar perjalanan panjang menuju ke selatan. Tapi ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjalanan selanjutnya. Ikuti kami terus yaa…  :)
 
Pose sambil menunggu di Malioboro


Kemacetan pun terjadi dari Banuntapan sampai di pertigaan pasar Piyungan. Nggak biasanya jalanan padat merayap begini. Mungkin banyak yang lagi liburan kali ya? Eh ternyata di jalur seberang sedang lewat orang-orang yang berkampanye menggunakan kostum hitam-hijau. Sabar sabaaaarr, panas banget udaranya. Suara bising knalpot yang berkampanye juga menambah panas dan emosi di hati *eh
Hufft, akhirnya sampai juga di Alfama*t Patuk, sekedar melepas lelah dan dahaga sebentar setelah melewati jurang yang curam. Jalanan menanjak yang berkelok-kelok. Harus cukup sabar disini karena truk-truk yang lewat sudah dipastikan akan menurunkan kecepatan hingga 10 km per jam, dikarenakan nggak kuat naik. Tetapi, kalau malam hari di tempat yang bernama Bukit Bintang ini banyak sekali orang-orang yang nongkrong menikmati lampu kelap-kelip di malam hari. Kereeen!!

Perjalanan dilanjutkan kembali, tetapi sampai disini perjalanan udah nggak terlalu ekstrim. Hanya saja banyaknya kendaraan yang melintas, jalan raya yang sempit dan (masih) berkelok-kelok menyebabkan kecepatan kendaraan nggak bisa lebih dari 50 km per jam. Disini, masih aku yang menunjukkan jalan.
Rasanya seneng banget kalau udah sampai di pertigaan Gading. Dari sini, kami ambil jalur selatan melewati Playen-Paliyan. Perjalanan menuju kawasan pantai pun masih sangat jauh ternyata, tetapi bedanya kalau lewat di jalur selatan adalah lebih sedikit kendaraan, mobil, atau bus yang lewat jika dibandingkan dengan jalur kota Wonosari.

Akhirnya, sampai juga di TPR (Tempat Penarikan Retribusi). Setelah membayar Rp 10.000,- (30 Maret 2014) kami melanjutkan perjalanan lagi menuju pantai. Awalnya sih pengen ke pantai Pulang Sawal, tapi berhubung macet banget kita balik lagi. Sempat ada tragedi motornya mas Dul ketabrak mobil yang mundur. Lagian bego banget tuh sopirnya, udah tahu macet pakai acara mundur segala. Untungnya cuma lecet dan stang agak miring dikit, overall it’s okay.
Dipilihlah sebuah pantai dengan asal-asalan yang penting sampai. Hahaa. Berhubung udah capek banget dan pengen cepet-cepet sampai, dipilihlah pantai Slili. Lumayanlah pantai pasir putih yang nggak terlalu padat orangnya. Beginilah kami di pantai Slili…

T.N.P.A dan mas Dul
   
This is us :)
 
Best performance :p

Sebelum pulang, nggak lupa sholat Dhuhur dulu yang udah mepet banget sama Asar. Hehee, untung masih sempet. Lanjut perjalanan pulang yang masih macet banget di kawasan pantai. melewati Playen-Paliyan lagi hingga sampailah kami di kota Jogja. Waktu itu, matahari sudah hampir tenggelam dan digantikan oleh bulan.

Idenya Atik mengajak kami ke warung mie persis di daerah XT Square. Masih saja aku yang disuruh cari jalannya. Baiklah, akhirnya sampai juga warung mie persis telap12 yang berada di Jl. Pandeyan No. 10B setelah melewati Jl. Glagah Sari dan UTY Jogja. Mie persis adalah sebuah warung yang menyajkan makanan Indomie yang persis dengan bungkusnya. Enak dan harganya juga bersahabat.
Aku, Atik, Matius, dan mas Dul milih Indomie rasa kari ayam sementara Handoyo milih Indomie goreng entah rasa apa, lupa. Dan benar saja, sajiannya mirip banget di bungkusnya. Ada ayam dan telur, potongan wortel dan kentang, irisan cabai, tomat, dan daun jeruk. Cuma bayar Rp 11.000 udah termasuk nasi. Oh ya, nasinya juga unik. Dibentuk mirip dengan logo Indomie. Bisa juga nambah nasi dengan bayar Rp 2.000,- (tapi nggak ada yang nambah karena udah cukup kenyang hanya 1 porsi). Untuk tempatnya sendiri, unik ya menurutku. Ada yang lesehan dan ada juga yang menggunakan meja. Uniknya disini adalah menggunakan meja bundar yang kursinya dibuat dari semacam tong. Kesannya agak ‘beda’ dibanding warung lainnya. Yang di Jogja, wajib nyobain deh. *eh malah promosi
 
Menikmati mie persis

Setelah kenyang, aku bermaksud untuk menginap di rumah saudara di daerah Bukit Bintang. Sebelum pulang, aku nganter temen-temen dulu ke Malioboro untuk belanja. Tapi aku nggak ikutan jalan-jalan dan langsung pulang. Hmm… Melewati jalanan yang mirip Sirkuit Road Race lagi nih. Naik-naik ke puncak Bukit Bintang di malam hari bukan hal pertama yang kualami, jadi biasa aja menurutku. Hanya saja kekaguman kelap-kelip bintang dan lampu jalanan yang membuat rindu suasana di Jogja sangat terasa.
Agak merinding dan takut saat melintas menuju desa Muntuk yang agak jauh dari jalan raya Patuk. Gelap banget, nggak ada penerangan selain lampu motor, dan sepi. Mungkin habis hujan kali ya orang-orang pada males berkeliaran. Dan begonya aku, baru sadar disini bener-bener desa yang rimbun banget dengan pepohonan. Mana ada orang keluyuran jam 8 malam? Hahaa. Tapi beneran sepi banget nggak kayak biasanya, padahal ini kan hari libur. Huu serem~

Sampai di rumah saudara, akhirnya rebahan juga di kursi. Mandi, ngobrol-ngobrol sebentar sambil nonton TV, dan tidur. Selamat malam dan ditunggu postingan selanjutnya yaa…  :D

6 komentar:

  1. Wah asiiik ya pante di gunungkidul emang woke-woke (promo), jadi inget pas muda dulu.. (hehehe kek udah embah2 aja)..

    BalasHapus
  2. yah kenapa ga ngajak ane sis :3 ane juga mau ke jogja :3 oya, buat berbagi pengalaman aja, pas tahun baru kemarin ane malem tahun baruan di pantai parangtritis , wuh rame banget sis, banyak lampion terbangnya.. kalo ente udah pernah tahun baruan di pantai parangtritis belum sis? :D berkunjung ke ihsankirito.co.vu ya sis thanks :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun baru kemarin jg rencana kesana. Tapi berhubung aku mendadak sakit, jadi dibatalkan. Padahal pengen banget :(

      Hapus
  3. Waaa... Rencana dalam waktu dekat ini mau ke Malioboro, maklum belum pernah kesana :)

    BalasHapus
  4. Saya belum pernah ke Malioboro. Sepertinya asyik, duduk lesehan samnil makan nasi pecel. hmmm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asik banget, apalagi kalau bareng sama temen-temen :D

      Hapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)