Kamis, 06 Maret 2014

Blusukan keren di Jogja


Hari ini aku lagi kangen sama salah satu tempat yang bikin aku nyaman dan betah tinggal disana. Untuk saat ini, mungkin masih jadi satu-satunya tempat yang paling pas untukku melepas penat dan lelah. Rasanya udah lama banget nggak menginjakkan kaki di Jogja. Padahal bulan Januari 2014 udah kesana. Lebay ya aku? Ah nggak ah, biasa aja kok, namanya juga kangen. Nggak ada yang ngelarang kok :p


Sengaja aku bikin postingan ini untuk sekedar mengobati dahaga akan kerinduan yang memuncak pada daerah terpencil nan dingin. Aku mempunyai saudara di daerah Dlingo, Bantul. Tempatnya sangat terpencil khas pedesaan tapi indah. Udaranya masih terlalu sejuk jika dibandingan dengan kota kelahiran dan tempat tinggalku sekarang. Sayangnya, angkutan umum yang biasanya melewati daerah tersebut seiring berjalannya waktu sudah tersingkirkan oleh kendaraan-kendaraan pribadi.

Sering aku berjalan-jalan mengelilingi daerah sekitar Patuk – Dlingo – Imogiri. Yang terlihat di sekeliling hanyalah pohon-pohon yang menjulang tinggi, lebih tepatnya hutan pinus. Dengan sesekali rumah penduduk yang letaknya agak berjauhan. Jangan tanya suasanannya di malam hari, karena sudah pasti gelap gulita.


Baiklah, sekarang aku bahas mengenai perjalanan yang pernah kutempuh dari Imogiri. Menurutku, perjalanan dari Imogiri sangatlah mudah. Dari terminal Giwangan, ambil arah ke Selatan menuju jalan Imogiri Timur. Di sepanjang jalan tersebut banyak sekali warung-warung di pinggiran yang menjajakan sate klatak. Pada saat itu, aku belum tahu apa itu yang namanya sate klatak. Jalan-jalan sendirian membuatku nggak enak kalau harus mampir-mampir. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan dengan rasa penasaran mengenai sate klatak. Aku ingat, waktu itu siang hari, dan warung-warung itu belum banyak yang buka. Mungkin malam hari jualannya kali ya?

Perjalanan pun dilanjutkan hanya berjalan lurus saja mengikuti arah jalan utama. Sampailah pada pertigaan pasar Imogiri. Dari sini, aku sudah hafal betul jalannya karena sudah beberapa kali lewat. Kalau ke kiri, maka akan menuju ke makam-makam raja Imogiri, dan andai saja belok ke kanan akan menuju ke kecamatan Panggang, Gunung Kidul. Baiklah, anggap saja kita akan menuju ke Pemakaman Imogiri.

Permakaman Imogiri, Pasarean Imogiri atau Pajimatan Girirejo Imogiri merupakan kompleks permakaman yang berlokasi di Imogiri, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta. Permakaman ini dianggap suci dan kramat karena yang dimakamkan disini merupakan raja-raja dan keluarga raja dari Kesultanan Mataram. Permakaman Imogiri merupakan salah satu objek wisata di Bantul. Makam Imogiri dibangun pada tahun 1632 oleh Sultan Mataram III Prabu Hanyokrokusumo yang merupakan keturunan dari Panembahan Senopati Raja Mataram I. Makam ini terletak di atas perbukitan yang juga masih satu gugusan dengan Pegunungan Seribu. (sumber : Wikipedia)


Baca namanya aja udah serem ya? Hehee. Niatnya sih aku mau mampir, tapi karena sendirian (lagi) jadinya beloklah aku ke arah yang lain, menuju taman buah Mangunan. Asik banget deh riding di jalanan ini, yakin. Kanan kiri dikelilingi oleh hutan. Karena ini masih ada matahari, jadinya nggak serem-serem amat. Udaranya masih seger banget, agak dingin, karena yang lewat jalan ini hanya beberapa kendaraan bermotor saja dan itupun jarang-jarang. Oh ya, kalau mau coba-coba lewat jalan Imogiri jangan sampai kehabisan bensin ya? Soalnya jalanannya menanjak.

Apa sih spesialnya berjalan di sepanjang hutan?
Eitts, jangan komentar dulu sebelum tahu betul apa yang ada di dalamnya.
Kusebut ini adalah perjalanan panjang menuju Kecamatan Dlingo. Yang bisa Anda lihat yaitu jalanan menanjak dengan pohon-pohon yang menjulang. Sampai pada titik tertentu, coba lihat kebelakang (arah Imogiri) disana nampaklah tangga-tangga kecil yang diyakini adalah tangga yang ada di komplek makan Imogiri. Walaupun belum pernah masuk makamnya, setidaknya sudah mengetahui dari kejauhan. Hehee.

Perjalanan dilanjut sampai akhirnya aku menemukan sebuah batu besar yang berada di kiri jalan (kalau dari arah Imogiri). Di tempat tersebut, banyak orang-orang yang berkumpul dan berfoto-foto ria. Entahlah, apa nama tersebut tapi mungkin keren kali ya kalau naik ke atas batu besar itu sambil lihat-lihat sekeliling. Sayangnya, aku hanya lewat.


Tak lama lagi, bertemulah dengan tempat ini. Tempat yang disebut-sebut mirip dengan Eropa. Lebih tepatnya hutan pinus. Di tempat ini juga banyak orang yang bersantai-santai bersama keluarga, teman atau pacar sambil menikmati sejuknya di sekitaran pohon pinus yang rimbun. Cocok banget untuk yang hobi jeprat-jepret. Tak perlu merogoh kocek banyak-banyak karena di tempat itu tidak dipungut biaya. Jadi, sangat disayangkan jika ada tangan-tangan jahil yang merusak keberadaan hutan tersebut dengan mengotorinya atau mengganggu satwa-satwa yang ada di dalamnya.
 
sumber

Jalanan pun masih menanjak dan makin berkelok-kelok sampai pada akhirnya menemukan sebuah pertigaan. Pertigaan itu menghubungkan Imogiri (jalan yang dilalui), desa Muntuk, dan kebun buah Mangunan. Katanya sih kebun buah Mangunan itu tempatnya keren, sayang banget dulu aku pernah hampir kesana tapi nggak jadi :(

Mampir ke desa Muntuk, mampir ke rumah Pakdhe dan Budhe. Senengnya disini karena berasa rumah sendiri, sudah dianggap anak sendiri. Tapi nggak senengnya masih sepi, sunyi, senyap, dan susah mendapatkan sinyal Indos*t disini. Di desa Muntuk juga ada hutan pinus, tapi di dalamnya ada sawah milik penduduk. Iseng-iseng masuk ke jalan setapak dan dapat view keren. Wow..


Tempat keren lainnya di sekitar Dlingo yaitu desa Pandeyan. Pemandangan disana hampir mirip dengan Bukit Bintang. Kalau sore hari atau malam Minggu, banyak juga yang nongkrong di batu-batu besar desa wisata Pandeyan. Di sekitarnya juga sudah berdiri warung-warung makan seperti mie ayam dan bakso. Sudah agak terawat jika dibandingkan dengan dulu.


Pengen lewatin jalanan ekstrim? Ada.
Dari desa Terong, Dlingo, atau desa Muntuk, lewatlah ke arah Pleret. Dijamin menegangkan dan seru jika mempunyai nyali yang keren. Di sisi-sisinya jurang yang entah berapa kedalamannya dengan jalanan yang menurun tajam. Buat yang berani, yakin ini seru banget. Masyarakat di sekitar desa tersebut menyebutkan daerah “Cino Mati”.

Kayaknya cukup segini dulu obat kerinduan yang bikin makin rindu sama Jogja.

5 komentar:

  1. Aku malah belum pernah ke Jogja sama sekali, Mbak. Jurangnya—yang entah berapa kedalamannya—kok enggak difoto sekalian?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak sempat foto. Jalannya turunan tajam, sempit. Takutnya kalau berhenti malah ketabrak nanti. Hehee :D

      Hapus
  2. Hohoho, dirimu numpang nginepnya di Muntuk toh? Saya beberapa kali lewat sana. Terutama kalau lagi nyepeda ke Mangunan,... lewat Cinomati. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti lewat Cinomati nya pas turun ya? Gila aja kalau jalan nanjak nyepeda :p

      Hapus
  3. What i do not realize is in reality how you're now not actually much more well-favored than you
    may be right now. You are very intelligent. You already know thus
    considerably relating to this topic, made me for my part imagine it from so many varied angles.

    Its like men and women don't seem to be fascinated until it's
    something to accomplish with Lady gaga! Your individual stuffs great.
    All the time care for it up!

    my webpage web site []

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)