Jumat, 11 Oktober 2013

27 Maret


Bagiku, menunggu adalah hal paling menjenuhkan di semesta ini. Menunggu adalah hal paling membosankan yang harus kualami.
Di tempat ini, sebuah ruangan segi empat yang tak terlalu luas jika dibandingkan dengan bangunan kantorku. Hari ini, 27 Maret 2013. Aku sengaja menyambangi sebuah toko buku pada saat jam kerja dan jam anak sekolah menunaikan kewajiban belajarnya. Jelas, waktu-waktu dimana toko ini terlihat lenggang oleh pengunjung. Mungkin terhitung tak lebih dari 15 orang sedang bertransaksi atau sekedar numpang membaca di ruangan yang adem ini. Berteman alunan musik yang sesekali bergantian dengan suara pramuniaga yang menawarkan buku-buku new arrival melalui pengeras suara di sudut ruangan.

Aku menangkap sosok lelaki jangkung yang wajahnya sangat tak asing lagi bagiku. Rasanya aku pernah mengenalnya dalam sebuah peristiwa. Kuputuskan untuk tak menggubrisnya dan aku mulai menelusuri jajaran buku, membaca sinopsis novel-novel yang baru terbit.
“Hai, masih ingat aku?” suara itu seperti bisikan merdu di telingaku. Suara yang berasal dari lelaki jangkung yang tiba-tiba saja tubuhnya sudah berada lima jengkal dariku. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku pun tak menghiraukannya sambil berlalu menyusuri rak-rak penuh dengan deretan komik yang lenggang oleh pengunjung.
“Aku Tara. 27 Maret 2007 is our anniversary. Kamu masih inget?” Deg! Aku terkejut dengan perkataannya. Untung jantungku nggak mogok kerja dan masih setia memompa udara ke rongga dada, coba kalau ngambek mungkin udah mati berdiri.
“Bagaimana mungkin?” tanyaku dalam hati seraya melamunkan otak menuju masa dimana 3 tahun silam saat aku tak pernah sendirian mengunjungi toko buku ini.
“Tidak, ini tidak mungkin. Bagaimana kamu bisa disini? Sementara…”
“Sssstt, aku tahu kamu pasti mencari-cari keberadaanku. Aku ingat betul, setiap tanggal 27 kamu selalu mengunjungi toko ini. Tepat di bagian ini, rak yang belum pernah bergeser dari tempatnya. Aku tahu kamu menungguku. Kini aku datang menemuimu, seperti janjiku yang pernah kuucap, Dinda.” Lembutnya suara itu bagai hembusan angin yang menyingkap helai rambut di ujung telingaku.
“Kau tahu seberapa parah aku merindukanmu dalam hari-hariku? Seberapa banyak air mata yang bercucuran melalui sudut mata yang telah lelah menahan perih? Kamu jahat. Kenapa kamu ninggalin aku?” Suaraku hampir parau beserta linangan air mata yang tak sengaja tertumpah.
Kepalaku terasa berputar-putar sementara nafas hampir terhenti. Gelap. Sesak.

**

“Dimana aku?” tanyaku sambil bangkit dari tidur.
“Sudah sadar mbak? Tadi mbak kami temukan tergeletak pingsan di toko buku, lalu kami membawanya kesini.” Seorang yang sempat kutahu adalah kasir menjelaskan kejadian singkatnya padaku.
“Terima kasih mbak.” Ucapku pada perempuan yang terlihat masih belia itu.
Apa yang terjadi padaku? Dimana lelaki tadi yang membisikkan kata padaku? Aku merindukannya, aku menantinya selama 3 tahun setelah kejadian yang merenggut nyawanya. Saat itu kami janjian untuk bertemu di toko buku “Bookstore” pada tanggal 27 Maret 2010. Aku telah menunggunya lama, hampir satu jam dan belum ada tanda-tanda kemunculannya menemuiku. Tak seperti biasanya dia melanggar janji. Dua jam berlalu dan dering handphoneku memecah kejenuhan. Kabar duka seketika menyelimuti hari jadiku dengan kekasihku, Tara. Ia meninggal dunia 27 Maret 2010 akibat tertabrak bus yang oleng.
“Tara, kau kah tadi yang berbicara padaku?”

Picture from here: bit.ly/17jhZCC
Diikutkan dalam Prompt #29 Monday Flash Fiction

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)