Namaku Jingga Prameswari. Sebuah pemberian nama yang tepat untukku. Orang-orang memanggilku Jingga. Seorang pengagum senja, penikmat semburat jingga malu-malu di hamparan langit biru ufuk barat. Ini tahun keempat aku menginjakkan kaki di sekolah yang penuh kenangan. Satu-satunya sekolah di kota ini dengan lama belajar 4 tahun. Kisah klasik SMA yang indah, penuh tawa, persahabatan, serta tak luput tentang cinta. Tentang sebuah alasan kugenggam amplop merah muda di tikungan ini. Menanti.
**
Sisa
hujan semalam masih menyematkan hawa dinginnya. Hembusan AC menjalar di tubuhku
bersama Bus Rapid Transit yang
membawaku menuju pusat kota Semarang. Kota yang dikenal dengan Lawang Sewu dan
lumpianya. Kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya,
Bandung dan Medan.
Dari
kejauhan terdengar sayup-sayup alunan musik syahdu berjudul gambang Semarang.
Seketika aku bergegas lari sepanjang 500 meter dari halte BRT menuju pusat
terdengarnya suara yang tak lain adalah bel sekolahku. Tidak peduli pandangan
para pedagang kaki lima dan para pengguna jalan menganggapku aneh. Namun
sayang, untuk kesekian kalinya aku mendapati diriku berdiri mengadu nasib di
depan gerbang kebanggaan yang telah tertutup satu menit yang lalu. Terlambat.
Sekolah
ini memang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan. Mulai dari cara berpakaian,
atribut sekolah hingga aturan khusus untuk rambut para siswa laki-laki. Mereka
semua boleh berkata aneh, tapi ini kami. Siswa yang bangga menjadi keluarga
besar sekolah ini.
“Padahal
hanya selisih satu menit dari kedatanganku, dan gerbangnya sudah ditutup.”
kesalku dalam hati.
Sudah
lima belas menit aku berdiri mematung diantara sekian siswa lain yang tak
kukenal. Maklum saja, baru satu semester aku berada di sekolah ini. Badge dilengan kiri yang kukenakan masih
tingkat satu yang artinya kelas sepuluh. Aku baru ingat, ini hari Jumat dimana
bel berbunyi 15 menit sebelum pukul 07:00 WIB.
“Silakan
masuk. Langsung ambil posisi jalan jongkok keliling lapangan.” ucap sang guru
dengan nada ketus.
Termasuk
aku, siswi satu-satunya yang terpaksa menjalani hukuman lari keliling sekolah
dan jalan jongkok. Tepat hari ini keterlambatanku dengan perolehan angka
pelanggaran sebanyak 50 point. Itu artinya hal buruk akan segera menimpaku.
**
Memandang
hamparan rumput lapangan yang maha luas menjadi hobiku pada jam istirahat
sekolah. Gemericik air mancur buatan yang baru selesai penggarapannya ini pun
mampu menyejukkan kembali otak yang telah berada pada titik jenuhnya. Beberapa
siswa lain terlihat beriringan menuju kantin, perpustakaan sekolah, atau
mushalla di sebelah lapangan sepak bola. Beberapa siswa-siswi duduk santai di
taman berpayung pohon besar nan rindang, sibuk dengan laptop dan smartphone
mereka untuk menikmati wifi yang disediakan oleh sekolah.
“Bengong
aja, nggak kekantin?” terdengar suara Nada, teman sebangku sekaligus sahabat
terbaik yang kupunya. Anaknya asik, centil, tapi jorok dan posesifnya
gila-gilaan. Jangan tanya soal perkepoan, dia jagonya.
“Males
ah, enak disini. Sejuk. Ngenet gratisan pula.” alasanku yang selalu kuumbar
setiap kali pertanyaan Nada yang itu-itu saja.
“Ini
ada titipan surat dari kesiswaan buat kamu. Surat beasiswa kah?” tanyanya
dengan penuh selidik.
“Buka
aja. Surat pemberitahuan skorsing kali.” jawabku menerka-nerka.
“Surat
pemberitahuan skorsing? Memang ada masalah apa? Kamu kenapa, Jingga? Baik-baik
aja kan?” sambil menempelkan punggung tangannya di keningku.
“Hello,
apaan sih Nada Agnesia? Cerewetnya mulai deh.”
“Eh,
tapi penasaran nih. Serius surat pemberitahuan skors? Selama dua minggu?
Astaga.”
“Iya,
puas lo.” Sambil pergi setengah berlari meninggalkan wajah Nada yang penuh
tanda Tanya.
**
Keesokan
harinya hukuman atas keterlambatan siswa mulai diterapkan setelah hari
sebelumnya diberi pengarahan di aula. Baru kutahu, hukuman ini berlaku untukku
beserta 19 siswa laki-laki lainnya. Betapa malunya aku saat itu, tapi anggap
saja sebuah pelajaran atas konsekuensi pelanggaran aturan meski tanpa sengaja
dilakukan.
Terik
matahari pukul 15.00 WIB masih terasa menyengat di kulit. Kami berkumpul di
lapangan untuk diberi pengarahan oleh beliau, bapak guru dengan wajah sangat
garang namun sebenarnya baik hati. Berpuluh-puluh tahun beliau mengajar
disekolah ini, antusiasnya untuk menegakkan kedisiplinan tak pernah luntur sedikitpun.
“Jadi,
kalian harus menyempatkan waktu 2 jam usai pelajaran sekolah untuk membersihkan
lapangan sekolah. Ini bukan hukuman, melainkan pelajaran supaya kalian tidak
mengulanginya lagi. Ingat, tidak boleh ada yang membolos selama 2 minggu.
Paham?” tutur bapak guru memberi wejangan kepada kami.
“Paham,
pak” jawab kami serempak dan setelah itu mengambil alat kebersihan
masing-masing sesuai arahan yang telah diberikan.
Rasa
malu terus menghinggapi diriku selama hukuman berlangsung. Tak terasa sudah 2 minggu
berlalu dan hari ini jadi hari terakhir menunaikan tanggung jawab atas
keterlambatanku. Bersyukur aku mempunyai sahabat seperti Nada. Dia menemaniku
setiap hari, rela telat pulang sekolah sekedar menjadi teman ngobrol
disela-sela kegiatan bersih-bersihku. Bahkan sesekali membelikan teh botol
untukku juga untuknya. Sahabat terbaik memang selalu ada dalam keadaan terburuk
sekalipun.
Kusapukan
pandangan sekitar lapangan yang rumputnya mulai tumbuh meninggi. Dalam waktu
hampir 10 detik tanpa kedip. Kutemukan sosok lelaki yang membuat rasa
penasaranku tiba-tiba menyergap. Berbondong-bondong menyerang otak dengan
segala sesuatu yang tak jauh dari kalimat tanya.
“Siapa
dia?” tanyaku lirih pada diri sendiri.
“Dia
yang mana?” terdengar suara Nada memecah keheningan lamunanku tentang lelaki
bertubuh jangkung dengan badge warna biru tingkat tiga di lengan kirinya.
“Ngg..
nggak kok. Maksudnya dia, dia siapa?” jawabku gugup.
“Alah,
ngaku aja. Barusan kudengar kamu ngomong ‘siapa dia?’. Hayo ngaku! Kupingku
masih normal,tahu.” Hmm mulai lagi deh posesifnya sahabat kesayanganku ini.
Sambil
melanjutkan aktivitasku menyapu halaman yang penuh rontokan dedaunan kering.
Sesekali kupandang lelaki itu, tentu saja dibalik bahunya. Lelaki berparas
pas-pasan tapi tampak menawan. Bingo. Kutangkap senyumnya yang disaksikan
langsung oleh kedua bola mataku. Senyum tipis dari kulit berkulit sawo matang,
berlesung pipi dengan mata sipitnya yang menambah daya keterpikatanku padanya.
Terdiam akan tetapi gemuruh dalam dada semakin terasa gejolaknya. Jatuh cinta?
Kurasa tidak.
“Karena
di dunia ini tu nggak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama, adanya
suka atau nafsu yang disalah artikan menjadi cinta.” – kutipan film Refrain,
2013.
**
“Sendirian
aja, non?”
Telingaku
seperti mendengar suara asing. Kuputuskan tak menggubrisnya karena larut dalam
novel remaja yang tengah asyik kubaca. Kali ini aku menyendiri di depan ruang
kelasku.
“Ehemm..
Seru nih bacanya, sampai ada orang ngajak ngobrol dicuekin” suara itu lagi.
“Ngomong
sama saya?” ucapku penasaran. Kaget seketika mendapati pria berkaca mata sudah
duduk di sampingku.
Pemilik
suara itu. Dia yang hanya mampu kupandang dibalik bahunya. Senyum khas yang
sangat kukagumi hampir satu tahun lamanya, sejak aku melihatnya dihukum bersama
denganku. Tanpa kuketahui siapa namanya.
“Banyu
Prima Saputra. Panggil aja Banyu, grade 4 kelas seberang tuh.” Sambil berjabat
tangan.Tak kusia-siakan kesempatan untuk mengenal lebih dalam sosok yang
mewarnai tulisan dalam akun blogspot-ku.
“Jingga.
Kelas 2 jurusan paling diminati sekolah ini, kan?” serobotnya sebelum aku
menyebutkan nama.
“Iya,
kok kamu…”
“Ya
tahu lah. Banyak temenku yang kenal kamu. Maaf, aku pergi dulu ya, mau gladi
bersih wisuda. Aku tunggu kedatangannya besok. Bye.” dia sudah berlalu dan aku
masih terdiam. Seperti tersihir sosok malaikat yang baru saja menampakkan wujud
aslinya. Rasa aneh pada diriku sendiri. Pada dasarnya aku supel, cepat bergaul
dengan orang baru, tapi untuk pria berkumis tipis di hadapanku tadi? Aku
sungguh tak bisa mengatakan sepatah katapun.
Harus
segera diralat nih. Pemilik suara itu. Dia yang hanya mampu kupandang dibalik
bahunya. Senyum khas yang sudah jelas kukagumi hampir satu tahun lamanya dan
kali ini aku sudah mengetahui siapa namanya, Banyu Prima Saputra.
Tepat
satu hari setelahBanyu memperkenalkan dirinya, aku sengaja datang bersama Nada
dalam prosesi purna wiyata. Kusaksikan melalui sebuah layar, secara khidmat
satu persatu wisudawan-wisudawati menerima samir dari bapak Kepala Sekolah. Tak
ada yang lebih menarik perhatianku daripada Banyu. Senyumnya masih mewakili
kekagumanku padanya. Ternyata aku benar-benar jatuh cinta padanya. Bahagia
sekaligus haru berkecamuk dalam dadaku.
“Jingga,
kamu serius datang? Makasih ya. Boleh ngobrol sebentar?”
“Iya.”
Bagaimana mungkin aku bisa berbicara banyak kata sementara tepat di depanku ada
sosok yang begitu menawan.
“Aku
ada sesuatu buat kamu nih.” Sambil merogoh saku celana mengeluarkan sebuah
benda berwarna merah muda.
“Semoga
hari ini bukan terakhir kalinya kita bertemu. Aku janji bakal nemuin kamu di
sini. Tempat pertama kali aku kenal kamu.” nada bicaranya tiba-tiba sendu.
“Maksudnya?”
aku benar-benar nggak ngerti apa yang dia bicarakan padaku tadi.
“Udah,
nggak usah banyak nanya. Baca dulu, baru tahu jawabannya nanti.”
“Oke.”
kujawab singkat.
**
Dear
Jingga,
Aku
tahu ini terasa mustahil untukmu. Mungkin kamu pikir ini hanya mimpi, tapi
jelas semuanya nyata. Apa perlu kucubit pipi tembemmu biar kamu merasa tidak
sedang dalam bunga tidur? Hehee.
Aku
suka namamu, Jingga. Kau tahu, aku sangat suka memandang langit sore hari
dimana warnanya sangat memikat hati? Seperti kamu. Seseorang yang memikat
hatiku ketika pertama kali aku mendapatkanmu berdiri di deretan depan saat masa
orientasi siswa.
Maaf
aku baru berani mengajakmu bicara kemarin, itu pun atas desakan teman-temanku.
Aku terlalu malu untuk berbicara denganmu. Salahkah kalau aku menyatakan aku
menyukaimu? Berdosakah jika aku merasakan jatuh cinta padamu?
Aku
tunggu jawabannya kalau kita ketemu lagi ya? Aku janji bakal nemuin kamu di
depan kelasmu, tepatnya di tikungan saat pertama kali aku mengenalmu. Terima
kasih, Jingga.
Pengagum warna senja yang ciut nyali,
-Banyu-
**
Begitu
isi surat beramplop merah muda yang diberikan Banyu sekitar 2 tahun yang lalu. Kubaca
setiap hari dan tak pernah berubah isinya. Hanya saja kertas pada surat itu
sudah mulai lusuh, bekas tetesan air mata.
Aku
sudah menginjak ditahun keempat menuntut ilmu, dan lusa aku akan diwisuda.
Tidak terasa sudah 2 tahun pula aku menanti janji indah sosok Banyu dalam
suratnya. Kugenggam erat amplop merah muda yang menjadi alasanku menunggu
disini. Tikungan. Tempat pertama kali aku mampu memandang sosok nyata Banyu
dalambeberapa jengkal tepat di depan mataku.
“Udahlah,
Jingga sayang. Realistis aja. Dia nggak bakal datang.” rayu Nada setiap hari
tanpa lelah menghiburku.
“Aku
tahu.”
Aku
tahu dia tak akan datang, tidak akan pernah. Seminggu yang lalu, aku menemukan
akun sosial media bernama Banyu Prima Saputra dengan foto senyum khasnya.
Banyak kiriman dari teman-temannya berupa ucapan berbela sungkawa. Mendadak
rasanya ingin pingsan setelah aku tahu ternyata dia mengidap penyakit leukemia
dan meninggal dunia 2 tahun lalu, tepat di hari setelah gelar wisudawan terbaik
dia dapatkan.
Aku
masih tidak percaya dengan semua ini. Teringat janjinya pada selembar kertas
yang mulai usang. Semoga ini mimpi. “Apa perlu kucubit pipi tembemmu biar kamu
merasa tidak sedang dalam bunga tidur? Hehee.” Kata-kata yang terekam jelas dan
ingin kutolak kenyataan yang ada.
Namun
apa dayaku. Semua takdir sudah ada yang mengatur. Banyu, pria dengan murah
senyum di hidupnya ternyata menyimpan kerapuhan di dalamnya. Seperti namanya,
Banyu. Mengalir ibarat air dalam cerita bersama pena di setiap halaman buku
harian yang sudah kumantapkan tekad untuk mengakhirinya. Mulai hari ini, di
tikungan ini, kuputuskan untuk bangkit dari sebuah kenangan. Rasa cinta ini
tidak bertepuk sebelah tangan, namun ketetapan Tuhan tak bisa ditolak. Berpisah
sebelum bersatu.
Cerpen #Loveatschool
Author : Neni Safitri
Facebook : Neni Safitri
Twitter : @nhenie
Blog : http://kisahklasikduniaku.blogspot.com/
Facebook : Neni Safitri
Twitter : @nhenie
Blog : http://kisahklasikduniaku.blogspot.com/
bagus banget nen, tenene kui kwe gawe dewe?
BalasHapus# sedikit ragu :p
semangat trz editing biar sempurna q bantu support comment hhhehe koment yg membangun tentunya Ne, :D
BalasHapuscoba nek pertama dikasih suasana di pagi hari kota semarang mesti bs lbh nyatu sama cerita keterlambatanmu wkwkwkwk :p
BalasHapustapi apik bgt nen critane
horeeeeeeeeeeee.......
BalasHapusKerenn cerpennya... di ahir cerita hampir saja aku mengeluarkan air mata....
BalasHapusceritanya hampir mirip dengan novel "Pudarnya Pesona Cleopatra" karya Kang Abik
Lanjutkan nulisnya ya :)