Rabu, 04 September 2013

Tikungan Penantian



Namaku Jingga Prameswari. Sebuah pemberian nama yang tepat untukku. Orang-orang memanggilku Jingga. Seorang pengagum senja, penikmat semburat jingga malu-malu di hamparan langit biru ufuk barat. Ini tahun keempat aku menginjakkan kaki di sekolah yang penuh kenangan. Satu-satunya sekolah di kota ini dengan lama belajar 4 tahun. Kisah klasik SMA yang indah, penuh tawa, persahabatan, serta tak luput tentang cinta. Tentang sebuah alasan kugenggam amplop merah muda di tikungan ini. Menanti.


**

Sisa hujan semalam masih menyematkan hawa dinginnya. Hembusan AC menjalar di tubuhku bersama Bus Rapid Transit yang membawaku menuju pusat kota Semarang. Kota yang dikenal dengan Lawang Sewu dan lumpianya. Kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan.

Dari kejauhan terdengar sayup-sayup alunan musik syahdu berjudul gambang Semarang. Seketika aku bergegas lari sepanjang 500 meter dari halte BRT menuju pusat terdengarnya suara yang tak lain adalah bel sekolahku. Tidak peduli pandangan para pedagang kaki lima dan para pengguna jalan menganggapku aneh. Namun sayang, untuk kesekian kalinya aku mendapati diriku berdiri mengadu nasib di depan gerbang kebanggaan yang telah tertutup satu menit yang lalu. Terlambat.

Sekolah ini memang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan. Mulai dari cara berpakaian, atribut sekolah hingga aturan khusus untuk rambut para siswa laki-laki. Mereka semua boleh berkata aneh, tapi ini kami. Siswa yang bangga menjadi keluarga besar sekolah ini.
“Padahal hanya selisih satu menit dari kedatanganku, dan gerbangnya sudah ditutup.” kesalku dalam hati.

Sudah lima belas menit aku berdiri  mematung diantara sekian siswa lain yang tak kukenal. Maklum saja, baru satu semester aku berada di sekolah ini. Badge dilengan kiri yang kukenakan masih tingkat satu yang artinya kelas sepuluh. Aku baru ingat, ini hari Jumat dimana bel berbunyi 15 menit sebelum pukul 07:00 WIB.
“Silakan masuk. Langsung ambil posisi jalan jongkok keliling lapangan.” ucap sang guru dengan nada ketus.

Termasuk aku, siswi satu-satunya yang terpaksa menjalani hukuman lari keliling sekolah dan jalan jongkok. Tepat hari ini keterlambatanku dengan perolehan angka pelanggaran sebanyak 50 point. Itu artinya hal buruk akan segera menimpaku.

**

Memandang hamparan rumput lapangan yang maha luas menjadi hobiku pada jam istirahat sekolah. Gemericik air mancur buatan yang baru selesai penggarapannya ini pun mampu menyejukkan kembali otak yang telah berada pada titik jenuhnya. Beberapa siswa lain terlihat beriringan menuju kantin, perpustakaan sekolah, atau mushalla di sebelah lapangan sepak bola. Beberapa siswa-siswi duduk santai di taman berpayung pohon besar nan rindang, sibuk dengan laptop dan smartphone mereka untuk menikmati wifi yang disediakan oleh sekolah.

“Bengong aja, nggak kekantin?” terdengar suara Nada, teman sebangku sekaligus sahabat terbaik yang kupunya. Anaknya asik, centil, tapi jorok dan posesifnya gila-gilaan. Jangan tanya soal perkepoan, dia jagonya.
“Males ah, enak disini. Sejuk. Ngenet gratisan pula.” alasanku yang selalu kuumbar setiap kali pertanyaan Nada yang itu-itu saja.
“Ini ada titipan surat dari kesiswaan buat kamu. Surat beasiswa kah?” tanyanya dengan penuh selidik.
“Buka aja. Surat pemberitahuan skorsing kali.” jawabku menerka-nerka.
“Surat pemberitahuan skorsing? Memang ada masalah apa? Kamu kenapa, Jingga? Baik-baik aja kan?” sambil menempelkan punggung tangannya di keningku.
“Hello, apaan sih Nada Agnesia? Cerewetnya mulai deh.”
“Eh, tapi penasaran nih. Serius surat pemberitahuan skors? Selama dua minggu? Astaga.”
“Iya, puas lo.” Sambil pergi setengah berlari meninggalkan wajah Nada yang penuh tanda Tanya.

**

Keesokan harinya hukuman atas keterlambatan siswa mulai diterapkan setelah hari sebelumnya diberi pengarahan di aula. Baru kutahu, hukuman ini berlaku untukku beserta 19 siswa laki-laki lainnya. Betapa malunya aku saat itu, tapi anggap saja sebuah pelajaran atas konsekuensi pelanggaran aturan meski tanpa sengaja dilakukan.

Terik matahari pukul 15.00 WIB masih terasa menyengat di kulit. Kami berkumpul di lapangan untuk diberi pengarahan oleh beliau, bapak guru dengan wajah sangat garang namun sebenarnya baik hati. Berpuluh-puluh tahun beliau mengajar disekolah ini, antusiasnya untuk menegakkan kedisiplinan tak pernah luntur sedikitpun.
“Jadi, kalian harus menyempatkan waktu 2 jam usai pelajaran sekolah untuk membersihkan lapangan sekolah. Ini bukan hukuman, melainkan pelajaran supaya kalian tidak mengulanginya lagi. Ingat, tidak boleh ada yang membolos selama 2 minggu. Paham?” tutur bapak guru memberi wejangan kepada kami.
“Paham, pak” jawab kami serempak dan setelah itu mengambil alat kebersihan masing-masing sesuai arahan yang telah diberikan.

Rasa malu terus menghinggapi diriku selama hukuman berlangsung. Tak terasa sudah 2 minggu berlalu dan hari ini jadi hari terakhir menunaikan tanggung jawab atas keterlambatanku. Bersyukur aku mempunyai sahabat seperti Nada. Dia menemaniku setiap hari, rela telat pulang sekolah sekedar menjadi teman ngobrol disela-sela kegiatan bersih-bersihku. Bahkan sesekali membelikan teh botol untukku juga untuknya. Sahabat terbaik memang selalu ada dalam keadaan terburuk sekalipun.

Kusapukan pandangan sekitar lapangan yang rumputnya mulai tumbuh meninggi. Dalam waktu hampir 10 detik tanpa kedip. Kutemukan sosok lelaki yang membuat rasa penasaranku tiba-tiba menyergap. Berbondong-bondong menyerang otak dengan segala sesuatu yang tak jauh dari kalimat tanya.
“Siapa dia?” tanyaku lirih pada diri sendiri.
“Dia yang mana?” terdengar suara Nada memecah keheningan lamunanku tentang lelaki bertubuh jangkung dengan badge warna biru tingkat tiga di lengan kirinya.
“Ngg.. nggak kok. Maksudnya dia, dia siapa?” jawabku gugup.
“Alah, ngaku aja. Barusan kudengar kamu ngomong ‘siapa dia?’. Hayo ngaku! Kupingku masih normal,tahu.” Hmm mulai lagi deh posesifnya sahabat kesayanganku ini.

Sambil melanjutkan aktivitasku menyapu halaman yang penuh rontokan dedaunan kering. Sesekali kupandang lelaki itu, tentu saja dibalik bahunya. Lelaki berparas pas-pasan tapi tampak menawan. Bingo. Kutangkap senyumnya yang disaksikan langsung oleh kedua bola mataku. Senyum tipis dari kulit berkulit sawo matang, berlesung pipi dengan mata sipitnya yang menambah daya keterpikatanku padanya. Terdiam akan tetapi gemuruh dalam dada semakin terasa gejolaknya. Jatuh cinta? Kurasa tidak.

“Karena di dunia ini tu nggak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama, adanya suka atau nafsu yang disalah artikan menjadi cinta.” – kutipan film Refrain, 2013.

**

“Sendirian aja, non?”
Telingaku seperti mendengar suara asing. Kuputuskan tak menggubrisnya karena larut dalam novel remaja yang tengah asyik kubaca. Kali ini aku menyendiri di depan ruang kelasku.
“Ehemm.. Seru nih bacanya, sampai ada orang ngajak ngobrol dicuekin” suara itu lagi.
“Ngomong sama saya?” ucapku penasaran. Kaget seketika mendapati pria berkaca mata sudah duduk di sampingku.

Pemilik suara itu. Dia yang hanya mampu kupandang dibalik bahunya. Senyum khas yang sangat kukagumi hampir satu tahun lamanya, sejak aku melihatnya dihukum bersama denganku. Tanpa kuketahui siapa namanya.

“Banyu Prima Saputra. Panggil aja Banyu, grade 4 kelas seberang tuh.” Sambil berjabat tangan.Tak kusia-siakan kesempatan untuk mengenal lebih dalam sosok yang mewarnai tulisan dalam akun blogspot-ku.
“Jingga. Kelas 2 jurusan paling diminati sekolah ini, kan?” serobotnya sebelum aku menyebutkan nama.
“Iya, kok kamu…”
“Ya tahu lah. Banyak temenku yang kenal kamu. Maaf, aku pergi dulu ya, mau gladi bersih wisuda. Aku tunggu kedatangannya besok. Bye.” dia sudah berlalu dan aku masih terdiam. Seperti tersihir sosok malaikat yang baru saja menampakkan wujud aslinya. Rasa aneh pada diriku sendiri. Pada dasarnya aku supel, cepat bergaul dengan orang baru, tapi untuk pria berkumis tipis di hadapanku tadi? Aku sungguh tak bisa mengatakan sepatah katapun.

Harus segera diralat nih. Pemilik suara itu. Dia yang hanya mampu kupandang dibalik bahunya. Senyum khas yang sudah jelas kukagumi hampir satu tahun lamanya dan kali ini aku sudah  mengetahui siapa namanya, Banyu Prima Saputra.

Tepat satu hari setelahBanyu memperkenalkan dirinya, aku sengaja datang bersama Nada dalam prosesi purna wiyata. Kusaksikan melalui sebuah layar, secara khidmat satu persatu wisudawan-wisudawati menerima samir dari bapak Kepala Sekolah. Tak ada yang lebih menarik perhatianku daripada Banyu. Senyumnya masih mewakili kekagumanku padanya. Ternyata aku benar-benar jatuh cinta padanya. Bahagia sekaligus haru berkecamuk dalam dadaku.

“Jingga, kamu serius datang? Makasih ya. Boleh ngobrol sebentar?”
“Iya.” Bagaimana mungkin aku bisa berbicara banyak kata sementara tepat di depanku ada sosok yang begitu menawan.
“Aku ada sesuatu buat kamu nih.” Sambil merogoh saku celana mengeluarkan sebuah benda berwarna merah muda.
“Semoga hari ini bukan terakhir kalinya kita bertemu. Aku janji bakal nemuin kamu di sini. Tempat pertama kali aku kenal kamu.” nada bicaranya tiba-tiba sendu.
“Maksudnya?” aku benar-benar nggak ngerti apa yang dia bicarakan padaku tadi.
“Udah, nggak usah banyak nanya. Baca dulu, baru tahu jawabannya nanti.”
“Oke.” kujawab singkat.

**

Dear Jingga,
Aku tahu ini terasa mustahil untukmu. Mungkin kamu pikir ini hanya mimpi, tapi jelas semuanya nyata. Apa perlu kucubit pipi tembemmu biar kamu merasa tidak sedang dalam bunga tidur? Hehee.
Aku suka namamu, Jingga. Kau tahu, aku sangat suka memandang langit sore hari dimana warnanya sangat memikat hati? Seperti kamu. Seseorang yang memikat hatiku ketika pertama kali aku mendapatkanmu berdiri di deretan depan saat masa orientasi siswa.
Maaf aku baru berani mengajakmu bicara kemarin, itu pun atas desakan teman-temanku. Aku terlalu malu untuk berbicara denganmu. Salahkah kalau aku menyatakan aku menyukaimu? Berdosakah jika aku merasakan jatuh cinta padamu?
Aku tunggu jawabannya kalau kita ketemu lagi ya? Aku janji bakal nemuin kamu di depan kelasmu, tepatnya di tikungan saat pertama kali aku mengenalmu. Terima kasih, Jingga.

Pengagum warna senja yang ciut nyali,
-Banyu-

**

Begitu isi surat beramplop merah muda yang diberikan Banyu sekitar 2 tahun yang lalu. Kubaca setiap hari dan tak pernah berubah isinya. Hanya saja kertas pada surat itu sudah mulai lusuh, bekas tetesan air mata.

Aku sudah menginjak ditahun keempat menuntut ilmu, dan lusa aku akan diwisuda. Tidak terasa sudah 2 tahun pula aku menanti janji indah sosok Banyu dalam suratnya. Kugenggam erat amplop merah muda yang menjadi alasanku menunggu disini. Tikungan. Tempat pertama kali aku mampu memandang sosok nyata Banyu dalambeberapa jengkal tepat di depan mataku.

“Udahlah, Jingga sayang. Realistis aja. Dia nggak bakal datang.” rayu Nada setiap hari tanpa lelah menghiburku.
“Aku tahu.”

Aku tahu dia tak akan datang, tidak akan pernah. Seminggu yang lalu, aku menemukan akun sosial media bernama Banyu Prima Saputra dengan foto senyum khasnya. Banyak kiriman dari teman-temannya berupa ucapan berbela sungkawa. Mendadak rasanya ingin pingsan setelah aku tahu ternyata dia mengidap penyakit leukemia dan meninggal dunia 2 tahun lalu, tepat di hari setelah gelar wisudawan terbaik dia dapatkan.

Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Teringat janjinya pada selembar kertas yang mulai usang. Semoga ini mimpi. “Apa perlu kucubit pipi tembemmu biar kamu merasa tidak sedang dalam bunga tidur? Hehee.” Kata-kata yang terekam jelas dan ingin kutolak kenyataan yang ada.

Namun apa dayaku. Semua takdir sudah ada yang mengatur. Banyu, pria dengan murah senyum di hidupnya ternyata menyimpan kerapuhan di dalamnya. Seperti namanya, Banyu. Mengalir ibarat air dalam cerita bersama pena di setiap halaman buku harian yang sudah kumantapkan tekad untuk mengakhirinya. Mulai hari ini, di tikungan ini, kuputuskan untuk bangkit dari sebuah kenangan. Rasa cinta ini tidak bertepuk sebelah tangan, namun ketetapan Tuhan tak bisa ditolak. Berpisah sebelum bersatu.


Cerpen #Loveatschool
Author : Neni Safitri
Facebook : Neni Safitri
Twitter : @nhenie
Blog : http://kisahklasikduniaku.blogspot.com/

5 komentar:

  1. bagus banget nen, tenene kui kwe gawe dewe?
    # sedikit ragu :p

    BalasHapus
  2. semangat trz editing biar sempurna q bantu support comment hhhehe koment yg membangun tentunya Ne, :D

    BalasHapus
  3. coba nek pertama dikasih suasana di pagi hari kota semarang mesti bs lbh nyatu sama cerita keterlambatanmu wkwkwkwk :p
    tapi apik bgt nen critane

    BalasHapus
  4. Kerenn cerpennya... di ahir cerita hampir saja aku mengeluarkan air mata....
    ceritanya hampir mirip dengan novel "Pudarnya Pesona Cleopatra" karya Kang Abik

    Lanjutkan nulisnya ya :)

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)