Selasa, 17 September 2013

Forbidden Love



Detik-detik kian berlalu dan aku masih memandangnya dari tempatku saat ini. Sengaja kupilih bangku panjang di depan ruang kelas bernuansa krem, memperhatikan sosok perempuan dengan bandana warna pink di atas rambut sebahunya. Gadis itu, Ayu Citra Kinara. Gadis yang perlahan menyita seluruh perhatianku padanya hampir satu tahun lamanya. Gadis manis lemah lembut yang awalnya hanya kukenal melalui akun facebook yang nge-trend di kalangan remaja.

Dia tak sedang duduk sendiri di atas gazebo taman sekolah, melainkan sedang bercanda mesra dengan kekasihnya yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatku, Brian El Fahmi. Namun, aku ingin terus memandangnya seperti ini. Menahan gejolak cemburu yang tak seharusnya terjadi. Mencoba menghindari berjuta-juta terkaman rasa yang salah untuk sosok yang kerap dipanggil Kinara, gadis yang berselingkuh denganku sejak tiga bulan yang lalu tentu tanpa sepengetahuan sahabatku.

“Aku tahu, aku salah. Kupikir dia bisa buat aku nyaman seperti saat di sampingmu, mas.” tertegun mendengar pengakuan Kinara yang tak kusangka-sangka sebelumnya.
“Nyatanya aku seakan hanya dipaksa mendengarkan setiap kata yang tak lepas dari klub bola favoritnya. Aku nggak bisa pacaran kayak gini terus. Aku lelah.” butiran air matanya perlahan menganak sungai lalu menetes melalui sudut mata yang kukagumi binarnya. Spontan kupeluk dia. Sosok Kinara yang sehari-harinya riang, ramah tamah dan selalu menampilkan senyum terbaiknya, di benaknya menyimpan kesedihan mendalam dibalik ketegarannya.
“Kalau saja Kinara tahu, mas sayang sama adik dari dulu. Jauh sebelum adik pacaran sama sahabat mas. Sampai saat ini pun masih tersimpan rasa itu, utuh. Jika diizinkan, mas akan selalu sayang sama adik” Glek! Seketika mulutku bereaksi lebih cepat daripada otakku. Right person but wrong time. Sial.
Aku tak mampu membendung perasaan ini lagi, dan dalam waktu sepersekian detik aku telah mengkhianati sahabatku sendiri. Sejak saat itu pula, aku dan Kinara terkadang merencanakan kencan diam-diam yang sampai saat ini – tiga bulan setelah pengakuan Kinara yang ternyata juga menyimpan rasa padaku – belum ada yang curiga.

“Mahardika! Tengah hari gini ngelamun jorok aja sih. Hayo, ketahuan. Hahahaaa.” suara tertawa berisik Brian mengagetkanku di tengah lamunanku membayangkan hubungan gelapku dengan pacarnya.
“Ngagetin aja. Mana si Kinara, kayaknya tadi berduaan sama lo?”
“Tahu tuh. Akhir-akhir ini kayaknya sikapnya ke gue berubah, Dik.”
“Ah, perasaan lo aja kali.”

Penyesalan terdalam rasanya semakin menghantam bertubi-tubi. Otak menjadi tak waras akibat hubungan tak sehat antara aku dan Kinara yang makin lama makin membuatku tak enak hati menatap wajah sahabatku yang kian sendu. Seharusnya sahabat itu saling mendukung, saling menjaga tawa diantara keduanya. Bukan saling menusuk dari belakang dan tak seharusnya aku merebut kebahagiaan sahabatku sendiri, terlebih merebut belahan jiwanya.
Kita kawan bukan lawan. Kita teman bukan preman. Dan kita sahabat tak seharusnya saling embat. ARGH!

**
Malam ini aku berjanji akan mengajak Kinara untuk menyaksikan “Semarang Night Carnival” acara tahunan yang digelar untuk menyambut HUT ke-466 kota Semarang. Event tersebut mengangkat tema Semarang semarak warna, dimana para peserta pawai ada yang mengenakan kostum unik khas Kota Semarang, parade drum band, serta pertunjukan lain.
“Sudah siap berangkat, tuan putri?” candaku menggoda Kinara yang sangat cantik malam itu. Celana jeans yang dipadukan dengan blus kembang-kembang ungu muda, positif menambah keanggunannya. Satu lagi keindahan yang tertangkap sorot mata. Senyum menawan khas cewek feminimnya itu lho yang bikin hati rasanya mendadak ingin mencopotkan diri dari tempat persembunyiannya.
“Siap, komandan Dika.” Celetuknya mantap.
Segera kupacu kendaraanku mengarungi arteri beraspal menuju pusat kota, lebih tepatnya menuju tempat Tugu Muda berdiri kokoh di tengah-tengah hiruk pikuknya ibu kota provinsi. Kuoper persneling ke gigi terendah, jalanan sudah mulai sesak dengan kendaraan. Padat merayap pun berhenti tak masalah bagiku asalkan ada Kinara. Oh ya, bagaimana dengan Kinara yang memboncengku? Dia melingkarkan tangannya ke pinggangku, mendekap tubuhku erat. Rasa hangat seketika menyusuri sel-sel tubuh bersamaan dengan aliran darah yang setia menjalankan aktivitasnya dan tak pernah mogok kerja. Memang ini bukan yang pertama kalinya, tapi aku sangat menikmati pelukannya dalam hingar bingarnya kendaraan yang berlalu lalang melintasi kami. Antusias warga untuk menonton event tahunan ini juga sangat besar, akibatnya kami harus berdesak-desakan untuk menyaksikan warna-warni gemerlapnya peserta karnaval yang mayoritas anak perempuan.
“Wah, keren mas. Itu tuh yang pakai gaun kupu-kupu, cantik.” Celotehnya dalam riuh kegembiraan saat menyaksikan kebolehan tari peserta Semarang Night Carnival dalam gaun yang lekat di tubuhnya.
“Mana ada yang lebih cantik daripada kamu, dik.” Jawabku datar. Aku memang suka menggodanya hingga rona merah pada pipinya semakin melebar. Make up alami khas gadis malu-malu.

**
Tuhan, mengapa kau ciptakan bidadari seindah ini di hidupku dalam cinta yang terlarang? Mengapa aku tak bisa utuh memilikinya tanpa merasa bersalah telah mencintainya? Mengapa tak dari dulu saja aku menyatakan perasaanku padanya sebelum termiliki sahabatku sendiri? Terlambat. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Waktu pun juga tak akan bisa diulang, tidak akan pernah bisa. Penyesalan memang akan tetap terjadi selama masih dihadapkan pada sebuah pilihan.
“Bertahan atau melepaskan.”
Pilihan tersulit yang sangat mengganggu konsentrasi belajarku akhir-akhir ini. Lalu kuputuskan hari ini aku akan memilihnya, meski sulit. Aku akan menjawab semua pertanyaan hati yang semakin menggema. Rasa bersalah yang kian menggerogoti aliran napas menjadi sesak. Ya, aku putuskan untuk memilih. Aku akan melepaskannya, aku tak akan mengusik kebahagiaan sahabatku lagi.

**
“Brian, tumben makan sendirian? Biasanya sama Kinara.” Aku memposisikan diri duduk di samping Brian yang sedang melahap makanannya setelah memesan siomay favoritku pada ibu penjaga kantin.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit.
Kami diam satu sama lain. Brian belum juga menjawab pernyataanku tadi. Beberapa sendok siomay kini sudah memasuki perutku. Rasanya aku sedang tak memiliki selera untuk menghabiskannya.
“Malam Minggu yang lalu kamu kemana aja, Dik?” Tanyanya yang spontan membuat aku tersedak kentang rebus yang baru saja kukunyah.
“Kenapa kaget? Aku tahu, kamu jalan sama Kinara kan?”
“Tahu dari mana kamu? Jangan sembarangan.” Ungkapku seakan menyembunyikan rapat-rapat semua hal tentang perselingkuhanku dengan Kinara. Aku tahu aku salah, Tuhan. Tapi, aku tidak ingin hubungan persahabatan ini menjadi runyam hanya karena kami mencintai satu wanita yang sama. Tuhan, aku mohon jangan biarkan Kinara atau Brian terluka atas tindakanku yang keterlaluan ini.
“Sudahlah, Dik. Aku sudah mengetahui semuanya. Tadi pagi Kinara sudah memutuskan hubunganku dengannya. Tolong bahagiakan dia.” Lalu pergi.
Aku tak mengerti apa yang dikatakannya barusan, tapi kulihat matanya semakin layu. Aku tak mengejar penjelasannya, hanya ada satu tanya di benakku. Kinara.

**
“Ra, apa maksud kamu bilang mau putus dari aku?”
“Jawab, Ra. Jangan diem aja. Aku minta maaf kalau aku banyak salah sama kamu. Aku bisa kok, coba perbaiki semuanya. Tolong, aku masih ingin menikmati masa indah bersamamu, Kinara.”
“Maaf, Brian. Kurasa kita tak bisa menentukan kemana arahnya hati akan memutuskan untuk jatuh cinta. Kita tak bisa menduga pada pelabuhan hati sebelah mana rasa cinta akan tertambat. Terima kasih sudah mengizinkanku singgah di hatimu. Tidak semua rasa cinta akan membuahkan hasil kemenangan.”
“Baiklah, jika itu yang bisa membuatmu bahagia. Lalu apakah kau sudah menemukan tambatan hati yang baru, Ra?”
“Kurasa sudah.”
“Siapa?”
“Mahardika.”

Kata demi kata yang mengalir dari penjelasan Kinara semakin membuatku terperanjat pada sosoknya. Nada-nada sendu melesat seakan memberikan pilihan lagi padaku antara bertahan atau melepaskan. Namun, sekejap aku teringat pada janji yang telah kuungkap pada diriku sendiri. Aku harus melepaskannya, demi sahabatku, demi kebahagiaannya.
“Aku memang sayang sama kamu, Kinara. Tapi aku nggak sanggup terus-terusan jadi bayang-bayang orang ketiga antara kamu sama Brian. Tak semua cerita cinta berakhir sempurna seperti yang kita impikan, Ra. Maaf, aku maunya kita terlepas.” Aku membalikkan punggungku, menahan air mata yang rasanya ingin muncul dari persembunyiannya.
“Apa mas nggak sadar, aku udah perjuangin kejelasan hubungan kita. Aku udah ngaku semuanya di depan Brian. Tapi, mas nggak hargai yang kulakukan ini lalu pergi begitu saja ninggalin aku? Aku bukan boneka yang bisa dipermainkan begitu saja, mas. Aku punya hati.” Ah, aku tak tega melihatnya bercucuran air mata. Aku tak tega meninggalkannya, mengingat aku juga sangat menyayanginya. Terkadang air mata adalah kekuatan terakhir yang kita miliki.
“Mas Dika nggak bakal ninggalin adik, janji.” Bisikku sembari menenangkan tangis Kinara di pundakku.
Taman sekolah, gazebo, dan rerumputan seolah menjadi saksi kebahagiaan hubunganku dan Kinara yang sempat terganjal pada status cinta terlarang. Di tempat ini, aku biasa menyaksikan Kinara dan Brian bercengkerama dalam status berpacaran. Kini aku telah mengambil alih posisi Brian dan menggantikannya untuk mendampingi Kinara. Lalu bagaimana dengan Brian?

“Ciyee, yang baru jadian. Senyum-senyum aja dari tadi, Ra?” Tanya Brian sambil tersenyum ke arah kami.
“Yang nampak tersenyum ini sebenarnya sudah puas menangis, tauk.” Celetuk Kinara yang membuatku geli.
“Dijaga tuh, Dik. Jangan sampai kecolongan orang lain. Jaga baik-baik ya hubungan kalian.”

Rasanya aku tak perlu mengkhawatirkan sahabatku, kurasa dia sudah bisa menerima posisiku sebagai pacar Kinara. Mungkin aku akan mengenalkan Brian dengan adik sepupuku pecinta klub sepakbola Chelsea F.C juga. Kurasa tidak ada salahnya menjodohkan mereka.

Kepada siapapun yang sedang jatuh cinta diam-diam, tell him/her soon, before it’s too late.
Menjadi orang ketiga bukanlah keinginan yang sudah diniatkan oleh hati. Status tersebut datang dengan sendirinya, mengalir bersama perasaan-perasaan yang melekat erat pada seseorang. Cinta terlarang, kata kebanyakan orang. Lalu bagaimana dengan kata nyaman yang tersirat dalam sebuah rasa? Sekali lagi kutegaskan.
“Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh.” – Perahu Kertas.


#LoveatSchool
Author : Neni Safitri
Facebook : Neni Safitri
Twitter : @nhenie

source picture : http://bit.ly/199Gp2V 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)