Senin, 26 Desember 2016

[Review Film] : "Hangout"


Seperti sebelum-sebelumnya, karya Raditya Dika selalu laris manis. Entah itu novelnya, entah dia pemeran utamanya, pun ia sebagai sutradara. Begitu pula saat film Hangout tayang perdana di layar bioskop, 22 Desember 2016. Bisa dipastikan seluruh teater yang menyajikan film ini, tak ada satu pun kursi yang kosong. Begitu yang saya alami ketika hari Kamis yang lalu menyambangi bioskop Citra XXI di Mall Ciputra Semarang. Padahal waktu itu masih pukul 16.00 sementara 5 jam tayang di hari yang sama sudah ludes, cuy...

Source: 21cineplex.com

Saya balik ke bioskop lagi keesokan harinya. Film Hangout sudah nambah layar *jejingkrakan*. Horeee... akhirnya bisa nonton, walaupun harga tiketnya lebih mahal Rp 5.000,- daripada hari Senin – Kamis. Nasib baik bagi saya yang menonton sendirian karena bisa nyempil di kursi atas :D


Hangout adalah film pertama Raditya Dika yang ber-genre thriller komedi, biasanya kan komedi romantis gitu ya? Sebagai orang yang nggak begitu suka nonton film thriller *oke, ini terlalu jujur* tentu saja saya penasaran dong gimana sih serunya.

Film ini diawali ketika Raditya Dika, seorang actor, mendapatkan undangan untuk HANGOUT dari seorang pengirim yang tak dikenalnya bernama Toni P. Sacalu. Iming-iming sejumlah uang membawanya untuk mengikuti HANGOUT tersebut ke sebuah pulau terpencil. Ternyata tak hanya ia saja yang diundang, tetapi juga beberapa public figure seperti Prilly Latuconsina, Surya Saputra, Titi kamal, Gading Marten, Soleh Solihun, Dinda Kanya Dewi, Bayu Skak dan Mathias Muchus. Kesembilan pemeran film Hangout tersebut memang memerankan sebagai diri mereka masing-masing. Sembilan orang yang memenuhi undangan HANGOUT itu memiliki karakter yang berbeda, seperti Surya yang ribet tapi penakut, Dinda yang jorok abis, Bayu Skak yang suka nge-vlog, Soleh dan Raditya yang sedang tidak akur, dan lain-lain.

Sesampainya di sebuah pulau, mereka diarahkan ke sebuah villa tak berpenghuni. Pada malam harinya, Om Muchus diracun pada saat makan malam. Mereka semua terkejut, lalu sadar jangan jangan mereka dijebak. Oleh teman-temannya yang masih hidup, Om Muchus yang sudah meninggal ditempatkan di gudang.

Hari pertama, mereka mencari makanan di hutan untuk bertahan hidup. Satu per satu yang tersisa dibunuh dengan sadis. Mereka yang tersisa dan masih hidup saling mencurigai sebagai pembunuh teman-temannya. Pada saat Bayu Skak mengetahui cara untuk mencari tahu siapa pembunuhnya dengan kunci yang ada di tas yang mereka bawa, tiba-tiba Bayu juga dibunuh.

Apakah benar jika pembunuh teman-teman mereka sendiri adalah salah satu dari kesembilan orang yang memenuhi undangan HANGOUT? Adakah yang bisa selamat dari pembunuhan berantai di sebuah villa di pulau terpencil itu?

Sepanjang film, penonton diberikan kesan untuk menebak-nebak siapa pembunuhnya. Memang benar nggak tertebak padahal kalau ditelusuri sampai film selesai, konfliknya cuma gitu doang. Salah paham *upsss spoiler deh* :D 
Komedi yang disajikan juga masih fresh. Serius, bikin ngakak banget. Layak deh dapat seratus dua puluh ribu sekian penonton di hari pertama!



Oh ya, ciri khas yang ada di filmnya Raditya Dika adalah penyelesaian konflik dan quotes di akhir film:
Kita kan sahabatan udah lama, tapi gua sempet marah sama lo. Padahal kan lo cuma mau jagain gua dari keputusan-keputusan buruk.”
Namanya juga sahabat, kadang salah dari kita berakhir buruk tapi kan niatnya baik.”
Sahabat selalu melakukan yang terbaik buat sahabatnya ya?”

9 komentar:

  1. Waduuuhh belum sempet-sempet nonton film ini. Jadi tambah kepingin hehe:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mbak nonton, mumpung masih rame :D

      Hapus
  2. baru liat iklannya di tv. ternyata penontonnya banyak. hebat ya raditya dika

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa banyak banget, udah tembus satu juta penonton :)

      Hapus
  3. Dari film ke film selalu ada yang bilang film Radit kali ini beda. Setiap gue mutusin buat nonton eh sama aja. Jadi bingung. 😑

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo ini beneram beda kak, beda genre hehee :D

      Hapus
  4. Belum nonton, jadi pengen soalnya ini emang beda sama film-film sebelumnya. Yang kemaren-kemaren kan biasanya diangkat dari bukunya. Eh katanya cek toko sebelah juga bagus... Pengen maraton nontonnya. Haha

    BalasHapus
  5. Mungkin saya punya pendapat beda ya disini, film ini banyak ditonton karena hype yang ditimbulkan saja kalau menurut saya.
    Secara cerita dan eksekusi, sangat buruk kalau boleh saya nilai. Cerita sudah bisa ditebak dan bahkan belum setengah jam saya udah tahu siapa pembunuhnya, yang sering nonton film thriller pasti ngerti.
    Eksekusi? Sama dengan cerita yang dibawa, eksekusi humornya cenderung maksa dan cenderung aneh. Sama kok seperti film Dika sebelumnya, eksekusi humor yang sulit dicerna oleh orang yang bukan fansnya alias tidak semua orang akan bisa tertawa.

    BalasHapus
  6. asyik jalan ceritanya dan penontonnya banyak juga ternyata, keren dech

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)