Senin, 03 Oktober 2016

Sebuah Kesempatan dan Kota Solo


Perjalanan ini saya rencanakan sejak jauh-jauh hari. Dengan mengajak 2 orang sahabat saya – Mr. and Mrs. (not) on time – saya harap perjalanan ini akan menyenangkan dan makin seru. Kami akan naik KA Kalijaga dari Stasiun Semarang Poncol pukul 08.45 dan berhenti di Stasiun Solo Balapan sekitar pukul 11.30 di hari Minggu tanggal 25 September 2016.

Foto ini diambil pada bulan April 2016

Sebuah Perjuangan
Saya sengaja memilih naik kereta api karena menghindari jam berangkat yang molor-molor. Eh nggak taunya setelah saya menunggu di stasiun sampai jam 08.30 mereka berdua belum nongol. Sempat kirim message ke mereka, katanya masih di rumahnya. WOW!!! 15 menit lagi kereta berangkat dan kalian belum perjalanan ke stasiun? *oke calm down*

Antrian di Stasiun Semarang Poncol

Detik menuju menit kian melaju, dan saya masih menunggu. Kenapa nggak ditinggal aja naik keretanya? Karena tiketku ada sama mereka. Kalaupun inisiatif beli tiket lagi nggak bakal cukup waktunya, antrinya beuuh kayak ular. Oke kembali menyabarkan diri menunggu hingga 2 menit terakhir dan belum nongol juga batang hidung mereka berdua. Antara kesel, pengen marah, dan yaudah sih mau gimana lagi.

Dan akhirnya kereta pun berangkat dari Stasiun Poncol…
Dan saya masih berdiri menunggu di luar peron…
Dan teman-teman saya datang 2 menit kemudian setelah kereta berangkat…

Apakah akhirnya saya gagal ke Solo? Kalau gagal ya artikel ini mungkin nggak akan tayang di blog :D

Yang terjadi kemudian adalah saya nyetop taksi yang masuk stasiun (mungkin habis bawa penumpang) untuk membawa kami bertiga ke Stasiun Tawang. Saya bilang ke sopirnya “5 menit bisa sampai, pak?”. Saya yakin bapaknya bisa, 2 kilometer aja jaraknya. *berasa nantangin pak sopir, ya? hahaa*

Alhamdulillah kami bisa ngejar kereta di Stasiun Tawang. Meskipun harus lari-lari pada saat check in dan nyari gerbong tempat kami duduk :D




Dari Stasiun Mampir Dulu, Boleh!
Saya sudah beberapa kali singgah di stasiun ini, namun kedua teman saya baru pertama kalinya. Dari Stasiun Solo Balapan kami berencana jalan kaki sampai di tempat tujuan yaitu Taman Balekambang, karena menurut saya letaknya ya nggak jauh-jauh amat.

Stasiun Solo Balapan

Tapi sebelum melanjutkan perjalanan, kami mampir dulu di sebuah warung yang sudah populer. Sekitar pukul 12.15 kami sampai di VIEN’S Selat Segar & Sup Matahari di Jl. Hasanuddin No. 99 B, D, dan E – searah sama perjalanan yang akan kami tempuh.

Warung ini rame banget dan sepertinya nggak pernah sepi. Pelayannya pun banyak sehingga pengunjung tidak perlu menunggu pesanan terlalu lama. Yang unik di sini adalah ketika pengunjung setelah memesan makanan, diharuskan untuk membayarnya ke kasir terlebih dahulu. Kalau belum bayar ya mungkin nggak bakal di kasih tuh makanannya.

Saya sendiri pesan seporsi sup matahari (sebelumnya sih sudah pernah nyobain selat daging cacah). Sementara kedua teman saya agak khilaf, masing-masing pesan 2 menu yang berbeda. Atik pesan seporsi selat daging cacah dan seporsi nasi soto ayam (aslinya mau pesan gado-gado tapi habis), sedangkan Handoyo pesan seporsi selat daging cacah dan seporsi nasi timlo. Mungkin mereka lapar habis adegan ketinggalan kereta, wkwk :D

Seporsi selat daging cacah berisi daging sapi yang dicacah lalu dibentuk bulat, dengan pelengkapnya satu butir telur utuh, potongan wortel rebus, buncis, dan kentang goreng, acar mentimun, serta daun selada. Kuahnya cokelat encer yang rasanya manis, asem, seger.
Cuma dibanderol harga Rp 9.500,-  mau coba lagi? YES!


Seporsi sup matahari berisi daging ayam cincang yang dibungkus kulit lumpia – tapi kulitnya ini ada kayak rasa telurnya gitu, tebel pula – dibentuk seperti matahari. Bagian atasnya diberi serutan dan potongan wortel, pipilan jagung rebus, dan keripik kentang. Kuahnya sendiri seperti kuah sup pada umumnya. Untuk menambah cita rasa bisa dicampur dengan sambal yang sudah disediakan di atas masing-masing meja. Dengan harga Rp 7.500,- kalau ditawari buat coba lagi? Boleh!


Seporsi / semangkuk nasi timlo berisi nasi yang diatasnya diberi potongan wortel, sosis solo, irisan telur, suwiran ayam, soun, dan taburan seledri. Kuahnya seperti sup (atau soto?). Dengan harga Rp 7.500,- saja mungkin saya lebih memilih untuk makan di Timlo Sastro. Karena lebih lengkap tentu saja, dan ini selera aja sih.


Dan makanan terakhir adalah semangkuk nasi soto ayam yang isinya ya seperti nasi soto pada umumnya. Ada nasi, soun, suwiran ayam, taburan seledri, dan tambahan keripik kentang. Saya nyicip sedikit rasa kuahnya yang bening, sayang sekali rasa jeruk di soto ini sangat kurang. Dengan harga Rp 7.000,- saya lebih milih makan nasi soto Pak Wito di Semarang, meskipun mangkuknya kecil. Mungkin cita rasa soto di Solo dan Semarang emang beda kali ya?


Nah, setelah makan dan kenyang, kami melanjutkan kembali jalan kaki sampai di Taman Balekambang. Bener-bener jalan kaki di siang bolong (enggak ding, mendung kok, dikit) menyusuri Jl. Hasanuddin, nyebrang rel kereta api di Jl. RM. Said, nyebrang di perempatan Jl. RM. Said, nyebrang lagi di perempatan, dan akhirnya sampai di depan pintu gerbang Taman Balekambang yang saat itu seperti lautan manusia. Mereka berjejal dengan banyak aktivitas, ada yang jalan masuk, ada yang mau pulang, dan tak sedikit diantara mereka yang mengabadikan diri bersama payung-payung yang tergantung di langit-langit dan pintu masuk Taman Balekambang. Ya, hari itu adalah hari terakhir Festival Payung Indonesia, dimana antusias pengunjung sangat tinggi.


Apa aja sih yang ada di Festival Payung Indonesia kali ini? Selengkapnya ada di link ini yaa :)

3 komentar:

  1. Wah menu nya menggoda selera banget, trus murmer juga

    BalasHapus
  2. Wah datang ya mbak ?? :D
    ane nggak ada libur kemarin jadi nggak bisa dateng. Huhuhu..

    BalasHapus
  3. Wahwah kalau di buat film pppasti menegangkan deh, mungkin itu bapak sopirnya aktor dari pemain "film taxi' dari jepang ya ? Hebat kok berani balap sama kereta api :-D

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)