Kamis, 18 Agustus 2016

Liburan yang Berakhir Tragis :(


Pantai merupakan salah satu tempat yang tepat untuk mengusir penat. Tak hanya itu, semilir angin pantai selalu menyiratkan kesejukan tersendiri bagi pengunjungnya. Riuhnya ombak memecah keheningan. Birunya lautan memikat siapa saja yang menikmatinya. Tak luput pula, pasir putihnya yang setia meski terinjak dan diterjang air laut.

…Dan aku tetap menjadi pantai. Hanya bedanya aku sedang berusaha menunggu lautku. Entah kau, entah yg lain, entah siapa…


Empat hari setelah Hari Raya Idul Fitri – tepatnya tanggal 10 Juli 2016 – mumpung masih di Jogja, aku merencanakan untuk jalan-jalan ke pantai sebelum akhirnya pulang ke Semarang. Niatku ini disambut baik oleh kedua orang temanku, Atik dan Tius yang juga sedang berkunjung ke Jogja. Kami memutuskan untuk mengunjungi salah satu pantai di Gunung Kidul.

Pukul 09.00 kami janjian untuk bertemu di rumah saudara yang aku tumpangi. Ngaret itu nggak pernah bisa hilang dari kebiasaan, nyatanya pukul 10.00 kami baru akan memulai perjalanan dari rumah saudaraku di daerah Dlingo, Bantul. Butuh waktu satu jam lebih sedikit untuk sampai di kawasan pantai dengan mengendarai 2 sepeda motor. Aku berboncengan dengan Atik di belakang dan keponakanku yang berumur 10 tahun di depan. Gilaaa, motor matic-ku semoga nggak kapok, wkwk. Sementara Tius menaiki motornya sendiri.

Untuk memasuki kawasan pantai, kami diminta untuk membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000,- per orang. Pantai Drini menjadi tujuan pertama (dan akhirnya menjadi tujuan satu-satunya) hari ini. Aku yang mengusulkannya pada mereka. Kenapa? Pertama, karena sebelumnya belum pernah ke sana dan tergiur Puncak Kosakora-nya. Kedua, karena mantanku pernah ke sana, dan dia bilang bagus. Yang ketiga, karena dia pernah janji mau ngajakin ke sana tapi… ah sudahlah, aku juga bisa ke sana sendiri tanpa dia. Hahaa :D
 

Matahari bersinar sangat terik ketika kami sampai di Pantai Drini. Sepertinya ombak di pantai selatan juga masih besar. Di bibir pantai, terdapat beberapa warung makan dilengkapi dengan tempat duduk dari kayu yang diberi payung. Ada juga puluhan kapal nelayan yang tertambat di atas pasir pantai.


Beberapa pengunjung memilih tempat yang teduh. Kami pun menaiki sebuah bukit dengan membayar Rp 2.000,- per orang. Cukup mudah untuk mencapai puncak bukit tersebut, karena pengelola membuatkan tangga dari bambu dan kayu.

Pantai Drini dan bukitnya

Setelah sampai di puncak, aku baru tahu kalau nama bukit ini adalah Bukit Adrika. Seperti nama orang ya? Suasana di atas bukit cukup ramai, maksudnya banyak orang yang naik ke bukit ini sekedar berfoto-foto atau istirahat sejenak di gazebo-gazebo yang telah disediakan. Angin bertiup sangat kencang sampai mau foto aja susah, rambut terbang kemana-mana susah diatur.


Ternyata oh ternyata, bukit ini memisahkan Pantai Drini dengan Pantai Watu Kodok yang lumayan sepi. Beberapa warung didirikan di atas Bukit Adrika, hal itu pula yang menyebabkan kami tak bisa menahan nafsu untuk tidak menikmati segarnya es kelapa muda. Kami memilih sebuah tempat duduk yang menghadap ke Pantai Watu Kodok.

Pantai Watu Kodok

Puas beristirahat, kami berencana untuk melanjutkan ke pantai berikutnya. Maka dipilihlah Pantai Pok Tunggal sebagai tujuan selanjutnya. Dari Pantai Drini kami harus memacu kendaraan ke arah timur.


Sayangnya, nasib tidak mengijinkan kami untuk mengunjungi Pantai Pok Tunggal. Di tikungan jalan dekat dengan Pantai Krakal, tiba-tiba motor oleng dan jatuh. Sepertinya ban motor masuk ke jalan yang berlubang dan aku kesusahan kontrol stangnya. Kecelakaan pun tak bisa dihindari lagi. Aku dan Atik terlempar dari motor. Atik keseleo di tangan kiri (waktu itu katanya susah buat gerak), aku luka di kedua tangan, lutut, dan kaki kiri. Sementara keponakanku nasibnya lebih tragis karena nggak pakai helm, kepalanya bocor dan harus dijahit. (waktu nulis ini rasanya masih kebayang-bayang).

Aku yang nggak paham sama sekali daerah Gunung Kidul, minta tolong mas-mas yang jaga tikungan untuk diantar ke Puskesmas terdekat. Sayangnya puskesmas yang katanya paling dekat aja jarak tempuhnya sangat jauuuuuh sekali. Dari puskesmas masih dirujuk ke RSUD Wonosari. Nggak mau ambil resiko lebih banyak, aku minta tolong ambulance untuk mengantarkan ke rumah sakit. Huft, baru pertama kali ini naik mobil ambulance dan ngerasain suasana UGD. Jangan lagi-lagi deh, kapok!

Alhamdulillah dibantu mas-mas yang jaga di tikungan dekat Pantai Krakal. Terima kasih banyak mas. Aku nggak sempet kenal dan ngobrol banyak sama masnya, karena pas udah sampai di rumah sakit, aku langsung masuk UGD buat nemenin keponakan sekaligus mengobati lukaku sendiri. Semoga masnya diberi berkah oleh Allah. Amiiin.


Dan aku baru bisa lega ketika sampai di rumah, orang tua keponakanku alias om dan bulik nggak mempermasalahkan lebih lanjut. Aku minta maaf dan beliau cuma bilang nggak apa-apa. Alhamdulillah banget. Besok-besok biar bisa jadi pelajaran kalau naik kendaraan harus sangat hati-hati. Dan harapan terbesarku adalah semoga nggak trauma dengan kejadian ini  :’)

Masih heran kenapa dua-duanya spion bisa lepas :D

3 komentar:

  1. Waduh mbak, turut berduka cita, semoga cepet sembuh, nggak kapok ke Gunungkidul lagi, dan lancar jodoh (eh)

    BalasHapus
  2. Walah mbak, pertama tak kira curhat ew.
    Ew, bagian terakhirnya kok tragis gitu,,,, Ya cukup serius juga mbak lukanya bisa sampai bocor gitu kepala keponakannya sampean,,,, semoga cepat sembuh ya, ew ini kan udah sebulan yang lalu dan semoga sekarang udah sembuh, Amien

    BalasHapus
  3. Semoga lekas sembuh ya mbak :-)
    lain kali ati-ati, tapi jangan sampai kapok ya ?? :D

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)