Kamis, 09 Juni 2016

Karnaval Dugderan 2016 - Bukan Mengkritik, Hanya Penonton yang Menginginkan Lebih Baik


Seperti yang sudah terlaksana di tahun-tahun sebelumnya, karnaval budaya dugderan yang diadakan di kota Semarang terbagi menjadi 2 hari. Di hari pertama (Sabtu, 4 Juni 2016) kirab budaya dugderan dengan rute Balaikota Semarang – Masjid Agung Semarang – Masjid Agung Jawa Tengah sudah berjalan dengan lancar. Saya sudah posting di blog ini, kalau mau baca-baca bisa mengunjungi link berikut ini.


Di hari kedua, karnaval budaya dugderan diselenggarakan pada Minggu tanggal 5 Juni 2016. Untuk peserta kali ini mayoritas anak-anak. Mereka adalah pelajar tingkat TK / RA, SD / MI, dan SMP / MTS. Untuk rute relatif lebih singkat daripada kirab budaya, yaitu start dari Lapangan Simpang Lima Semarang – Jalan Pahlawan – Taman Menteri Supeno (Taman KB). Meski kenyataannya mereka hanya finish di bundaran air mancur Jalan Pahlawan.

Pelaksanaan karnaval budaya dugderan di hari Minggu yang bertepatan dengan Car Free Day (CFD) kali ini, menurut saya nggak teratur. Mungkin panitia bermaksud baik supaya penonton karnaval banyak (karena tahun lalu karnaval diselenggarakan hari Senin pagi jadi nggak banyak yang nonton). Saya pun sempat berpikiran demikian, hingga Minggu pagi saya nonton karnaval merasa ‘kok jadi gini sih acaranya?’.

Saya yang udah terlanjur kesel duluan karena dimana-mana macet dan susah cari tempat parkir (mana motor ditabrak dari belakang pula), makin nggak semangat pas lihat suasana di sekitar rute yang akan dilalui untuk karnaval. Aslinya males juga nulis di blog, tapi yaudahlah ditulis aja. Tapi kali ini saya nggak akan panjang lebar cerita tentang ‘ada apa aja sih di karnaval dugderan bagi anak-anak?’, tapi saya akan menguraikan betapa ini adalah kabar buruk bagi saya, sebagai penonton yang sejak tahun 2013 menyempatkan nonton.

Pukul 8.25 peserta karnaval sudah sampai di depan Gedung Pramuka Jalan Pahlawan Semarang. Ini menurut saya sudah terlalu kesiangan karena menurut baliho-baliho yang tersebar di area Kota Semarang, karnaval dimulai pukul 06.00. It’s ok ada upacara pembukaan, tapi apa upacara butuh waktu satu jam? Saya juga melihat banyak rombongan peserta yang datang lebih dari pukul 07.00. Mohon di acara-acara berikutnya bisa dikoordinasikan untuk kedisiplinan panitia dan peserta.


Yang saya nggak habis fikir adalah ada event lain yang diselenggarakan di Jalan Pahlawan. Sama-sama menggunakan badan jalan raya yang sama. Di waktu yang sama pula. Kok  bisa? Kalaupun event lain ini memang harus diselenggarakan di hari yang sama, kenapa diberi izin menempati jalan yang akan digunakan sebagai rute karnaval? Kan bisa tuh menempati di sisi selatan bundaran air mancur. Nggak ada koordinasinya kah?


Saya nggak akan membahas ini kalau saja event yang diberi nama Pagi-pagi Disko tidak mengganggu berlangsungnya karnaval. Namun pada kenyataannya, event tersebut mengganggu sekali. Sound system besar-besar tentu saja menimbulkan suara yang Subhanallah menggelegar sekali. Sementara para peserta karnaval yang tampil misalkan saja marching band, sampai suaranya nggak terdengar sama sekali. Mana peserta karnaval harus jalan berdesak-desakan dengan penontonnya Pagi-pagi Disko. Kan kasihan.

Saya bukan bermaksud membela Karnaval Dugderan. Kegiatan ini kan hanya dilaksanakan setahun sekali untuk memperingati datangnya bulan Ramadhan. Mbok ya dihargai, ini tradisi lho.

Lama-lama saya bisa menikmati karnaval dugderan di beberapa menit awal. FYI, peserta karnaval berjalan dari Lapangan Simpang Lima Semarang menuju bundaran air mancur Jalan Pahlawan lewat sebelah timur dari median jalan (belok persis di depan Living Plaza). Hingga akhirnya saya sadar jarak antara satu rombongan dengan rombongan lain semakin lama. Saat itu saya balik badan, ternyata beberapa rombongan karnaval sudah lewat dari sisi barat median Jalan Pahlawan. Beberapa menit kemudian ada yang lewat lagi di sisi timur. Woii, ini maksudnya gimana??
Merasa sudah terlalu kesal, saya memutuskan mengambil sepeda motor dan pulang.

Pantomim! Lucu!

Kecil-kecil naik kuda sendiri. Keren!

Sekitar pukul 10.00 jalan raya yang awalnya ditutup untuk kegiatan Car Free Day (CFD) sudah dibuka lagi. Otomatis banyak kendaraan berseliweran. Padahal peserta karnaval dugderan waktu itu belum selesai seluruhnya. Masih ada beberapa rombongan yang berada di lapangan Simpang Lima dan beberapa yang masih berjalan di seputar Jalan Pahlawan. Bagaimanakah selanjutnya nasib mereka? Saya tidak tahu, dari awal sudah terasa sekali keruwetannya.

Harapan saya sebagai penonton, semoga di acara-acara yang akan diselenggarakan di kemudian hari, tolonglah koordinasi diutamakan, kerja sama, kedisiplinan ditingkatkan. Bukan bermaksud mengajari lho, hanya saja saya juga senang kalau melihat sebuah event digelar dengan sukses.

2 komentar:

  1. Wah Semarang ramai banget ya mbak :D
    kemarin nggak dateng ke acara ini, ke Kaliwungu aja yg deket dari rumah,,
    Hehehe

    BalasHapus
  2. Seru ya walau terasa malah sumpek hahahahha. Katanya ada acara Sam Po Kong ya akhir bulan ini?

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)