Minggu, 11 Januari 2015

[Review] : "Marmut Merah Jambu"


Hari ini “Marmut Merah Jambu” tayang di televisi. Entah kenapa pengen nulis reviewnya, padahal dulu waktu habis nonton di bioskop nggak sempat-sempat bikin reviewnya.


Marmut Merah Jambu adalah sebuah film dari sutradara Raditya Dika. Diadaptasi dari bukunya dengan judul yang sama. Sebuah film yang mampu mengingatkan pada masa muda, masa-masa indah di bangku sekolah. Persahabatan, keegoisan, bahkan cinta pertama. Masa SMA yang identik dengan pencarian jati diri, kenakalan yang masih bisa dibilang lucu, bandel, tapi gemesin. Merupakan kenangan indah tersendiri yang akan selalu membekas di hati.

Berawal dari Dika dewasa (Raditya Dika) yang membawa rangkaian burung bangau kertas ke rumah Ina dan bertemu dengan Ayah Ina (Tyo Pakusadewo). Kedatangan Dika seolah mengingatkan tragedi ulang tahun Ina sewaktu SMA. Bekas luka di perutnya memaksa Dika menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi. Disaat itulah Dika mulai mengingat kembali masa-masa SMA nya. Teka-teki yang belum sempat terjawab selama 11 tahun.


“Yang bukan siapa-siapa, mana bisa dapat apa-apa?”

Dika remaja (Christoffer Nelwan) dan Bertus remaja (Julian Liberty) adalah sahabat yang ingin populer di sekolah, seperti Michael (Axel Matthew Thomas) yang jago basket dan wangi. Jarang ada yang mengenal mereka berdua, bahkan Kepala Sekolah pun tidak mengenalnya. Muncullah sejumlah ide yang absurd dan salah satunya adalah membentuk grup detektif.

Kasus pertama adalah misteri hilangnya bola basket di sekolah. Dari situlah Dika dan Bertus mendapatkan anggota baru yang pintar, Cindy (Sonya Pandarmawan). Berkat bantuan Cindy juga mereka bisa mengungkap beberapa kasus sekaligus.

Tiga Sekawan itu pun mendadak populer dan naik status sosialnya. Dika, Bertus, dan Cindy kini menjadi sahabat dekat. Tetapi persahabatan itu sempat hancur saat Dika menyukai Ina (Dina Anjani) dan memanfaatkan grup detektif untuk menjebak Michael atas tuduhan gambar graffiti di sekolah.

Oh ya, kasus paling berat yang diterima oleh grup detektif adalah ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah. Sebuah gambar yang berada di dinding sekolah, menurutnya adalah iblis yang tidak suka terhadap kepala sekolah. Entah bagaimana bisa kepala sekolah menjadi GR gara-gara gambar tersebut, yang ternyata adalah….
*Tonton filmnya aja deh biar nggak penasaran :D





Film yang menurutku bagus dari karya Raditya Dika, jika dibandingkan dengan sebelumnya – Cinta Dalam Kardus. Mengangkat sisi remaja banget. Karena setiap masa remaja pasti ada konflik tentang cinta yang egois di dalamnya. Juga persahabatan. Terkadang dalam hidup ini orang terdekat kedua setelah orang tua adalah sahabat. Sahabat adalah orang yang berkata menyakitkan untuk kebaikanmu, bukan dia yang selalu membenarkan langkahmu. Sahabat itu sekecil atau sebesar apapun masalah yang ada, ia akan selalu memaafkan dan merindukan kehadiran satu sama lain.




 “Cinta itu kayak marmut lucu warna merah jambu yang berlari di sebuah roda seakan dia udah berjalan jauh padahal dia nggak kemana-mana. Nggak tahu kapan harus berhenti.”


By the way, suka sama soundtracknya Marmut Merah Jambu dan Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)