Senin, 30 Juni 2014

Ramadhan di seberang pulau


Hai hai… Apa kabar bulan Ramadhan kalian? Ngomongin soal bulan Ramadhan, pasti erat hubungannya sama puasa dan traweh. Apa kamu masih kuat berpuasa hingga akhir atau jangan-jangan udah ada yang bolong di tengah jalan nih? Hehee.

Kali ini aku mau share pengalamanku pada bulan Ramadhan empat tahun silam saat aku masih berada di sebuah tempat terasing. Bagaimana nggak terasing tuh, kalau disekelilingnya cuma ada pohon-pohonan. Penasaran? Baiklah akan aku ceritakan.

Saat itu tahun 2010 aku bersama beberapa teman sedang menjalani magang / praktik kerja industri (jaman SMK) di sebuah pulau yang terkenal dengan nama Borneo. Tepatnya di sebuah tambang site Senakin. Tau nggak kamu? Dijamin deh, kebanyakan orang pada bilang nggak tau :p
 
Workshop + mess Senakin

Selama 21 tahun hidup di dunia, baru pertama kali itu menjalani puasa Ramadhan jauh dari kampung halaman, jauh dari orang tua, jauh dari pacar juga *eh. Rasanya terharu banget, kangen sama masakan Ibu sih pasti tapi nggak jadi soal utama karena di mess perusahaan disediakan makan untuk karyawan termasuk yang magang juga. Lumayan, ngirit cuyy. Trus apa sih yang bikin susah? Bangun sahur. Karena sekamar berempat tidurnya kebo semua, hehee. Gimana nggak kebo? Tiap jam sahur jarang ada yang bisa bangun tanpa gedoran pintu dari orang kamar sebelah. Terima kasih untuk SPV Engineering yang bersedia membangunkan kami para perempuan-perempuan yang kesiangan. Oh ya, dibawakan makan sahur pula dari kantin. Jadi kami makan sahur sambil merem *seriusan ini pernah banget* :D
 
Penghuni JS2H

Ya namanya kerja di tambang, nggak ada yang namanya leyeh-leyeh. Setelah sahur nggak lupa sholat Subuh dan antri kamar mandi karena cuma ada 1 di dalam kamar yang isinya 4 manusia. Otomatis pada rebutan tuh ya, apalagi ada yang mandinya lamaaaaa banget berasa pengen gedor-gedor aja. Oh ya FYI aja sih, kami berempat dalam kamar itu nggak tidur berbarengan lho, tapi ada 2 ranjang tingkat yang masih menyisakan space di kamar yang cukup luas. Kembali ke aktivitas pagi hari, giliranku selalu dapat antrian mandi terakhir karena emang aku orangnya selow. Ngalah aja deh sama penunggu-penunggu lama.

Berangkat kerja nggak boleh lupa pakai APD (Alat Pelindung Diri) yang berupa rompi, helm, sepatu boot, serta kacamata dan masker (yang ini untuk jaga-jaga aja kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan). Kehidupan tambang itu keras, meeeen. Jarak antara mess dan office bisa dibilang lebih dari 500 meter, dan itu harus jalan kaki kalau nggak punya SIMPER (SIM untuk pertambangan) atau ditumpangi LV. Terima kasih untuk MT PGA yang selalu menemaniku jalan kaki pagi hari. Belum lagi kalau semalaman hujan, pasti becek banget tuh tanahnya, kalau nggak hati-hati bakalan kepleset atau sepatunya masuk lumpur. Aku sih udah berkali-kali mengalami :( Dan tau nggak sih, kalau udah di office bawaannya udah haus. Tapi tetep dipaksa buat puasa dong, malu sama umur.
 
Office Portacamp

Sebagai siswa IT magang, pasti kerjaannya ya seputar IT, entah itu perangkat komputer atau masalah jaringan. Kalau pas trouble perangkatnya tuh yang susah. Siang-siang harus jalan kaki ke workshop atau warehouse yang letaknya nggak deket, bikin ngos-ngosan. Kadang ada client yang nyolot juga, kadang ada yang baiiiik banget. Ya gitu itu manusia, karakternya beda-beda.

Dan hal yang paling ditunggu-tunggu adalah buka puasa. Jelas!
Kadang diajakin jalan-jalan ke pasar Geronggang beli berbagai macam wadai. Jalan-jalannya kami naik LV. Keren nggak tuh mau ke pasar aja naik mobil. Ya karena emang tempatnya jauh boooo’ kalau nggak salah 20-an kilometer. Mau jalan kaki? Seminggu juga nggak bakalan sampai.
Karena masakan Padang Kuring melulu setiap hari, pasti ada rasa bosen juga. Kadang nitip makanan sama orang yang mau ke desa Batu Besar. Aku paling seneng sama masakan ikan asin bumbu pedas, serius enak banget di Semarang belum pernah nemu yang selezat di tambang.
Kadang sering juga dibeliin jajanan seperti cokelat, cemilan, minuman, bahkan pernah ada yang ngasih seloyang kue. Baik ya? Terima kasih kalian semua, spesial thanks untuk Adm. Survey.

Masalah buka puasa udah beres, saatnya siap-siap sholat taraweh. Di kawasan mess terdapat 1 buah masjid imut yang bisa digunakan untuk sholat berjamaah. Para perempuan cuma kebagian 1 saf paling belakang (karena emang manusia perempuan cuma sedikit) sisanya penuh dengan orang-orang bersarung dan berpeci. 20 rakaat taraweh + 3 rakaat witir dijabanin meski ngantuk-ngantuk kecapekan.

Malam-malam itu emang waktu yang tepat untuk merindukan seseorang. Kangen sama orang tua, kangen sama temen, kangen sama pacar juga, kudu sabar karena susah signal disono. Cuma ada Telkomsel aja, itupun nggak lancar kadang dapat signal kadang sama sekali nggak ada. Oh kejamnya kau pendiri operator seluler…

Semua itu jadi penting buatku. Terlebih mengetahui tradisi masing-masing tempat. Di desa Geronggang aku sempat buka bersama IT Senakin dan menyaksikan takbir keliling. Karena boleh libur, waktu lebaran aku mengunjungi Kotabaru. Dari Senakin naik bus perusahaan sampai di pelabuhan milik PT. Arutmin kurang lebih 30 kilometer, menyeberang menggunakan speedboat perusahaan selama 1 jam sampailah di Kotabaru. Aku memutuskan menginap di rumah teman. Oh ya, pengalaman pertama juga waktu di Kotabaru karena pas hari raya Idul Fitri, nggak ada tuh yang namanya opor ayam. Adanya soto banjar. Makannya nggak pakai nasi kayak kebanyakan soto, tapi pakai lontong atau ketupat. Ada juga laksa, tapi aku nggak doyan. Nggak berasa lebaran deh. Kangen sama opor ayam dan sambal goreng buatan Ibu. Hiks! :’(

Gambar minjem disini yes :D

Hari kedua lebaran, kami jalan-jalan dong ke Sarang Tiung, pantai kebanggaan masyarakat Kotabaru. Meskipun berpasir tidak putih, banyak karang, dan panas banget tempatnya, tapi lumayanlah buat refreshing. Disini bisa melihat langsung 2 keajaiban Tuhan yang berdampingan yaitu laut dan bukit (jadi inget lagu ‘Kotabaru gunungnya Bamega’). Ada juga beberapa cottage yang disewakan untuk istirahat keluarga yang berkunjung. Mumpung di area Kotabaru, nggak lupa numpang eksis di Siring Laut, yang ada patung ikan gede tuh dan beli amplang di pasar Limbur. *Masih dalam suasana lebaran lhoo*

Berdiri di tempat yg sama
 
Atas : numpang eksis di speedboat | Bawah : berpose di Siring Laut


Terima kasih Borneo untuk kenangan indah Ramadhan tahun 2010. Banyak hal yang bisa aku dapatkan selama 6 bulan menginjak di tanahmu. Aku jadi ngerti sedikit-sedikit bahasa Banjar :)
Yang bilang 'pantes gaji gede, lha wong kerjanya di tambang batu bara'. Kalian emang kudu ngerasain betapa susahnya dulu baru boleh nyeletuk! Cuti 3 bulan sekali aja susah ngaturnya, meeeeeen!

Another view


**Sampai aku selesai menuliskan kisah Ramadhanku ini, sampai detik ini pula, aku (selalu) rindu Senakin. Walaupun site kabar-kabarnya sudah akan tutup, tapi kenangan disana bersamanya tidak akan pernah tutup dari hati dan ingatan. Missing all the moments :')



Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway 28 Juni 2014…

www.betasmind.com/2014/06/give-away-28-juni-2014.html


4 komentar:

  1. Lebaran GakAda opor ayam haha kasian :D

    BalasHapus
  2. wehee anak IT toh.
    sukses buat GA nya yaaaa

    BalasHapus
  3. Semangat buat jalanin puasanya di pulau seberang...

    BalasHapus
  4. ooo. di kotabaru ternyata... bisa bepandir bahasa banjar sadikit lo, haha

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)