Selasa, 25 Februari 2014

Untuk sebuah kenangan yg pernah ada


Untuk:

Segelas susu cokelat hangat bersama kenangan yang (pernah) menguap bersamanya.


Menunggu adalah salah satu hal paling menyebalkan yang tidak ingin seseorang alami dalam hidupnya. Namun secara tidak sadar, ia mampu dan ia bisa. Hanya saja ‘keluhan’ semacam itu yang biasanya membuat orang itu menyerah atau pasrah akan kemampuan dirinya sendiri. Dan ngomong-ngomong soal menunggu, sebaiknya kedua belah pihak sama-sama saling memahami karakter antar keduanya – yang menunggu dan yang ditunggu – karena bagaimana pun juga, kalau nggak saling memahami, bisa bentrok.
Eh, ngomong apaan sih aku ini? Bingung ya? Hehee sama… :p

Karena ini bukan surat cinta. Sekali lagi, ini bukan surat cinta yang sarat akan makna indah dan penuh taburan bunga. Ini hanya sebuah tulisan tak bermakna apa-apa dari seseorang yang menghabiskan malamnya hanya untuk menunggu sesuatu yang disebut “KETIDAKPASTIAN”. Kenapa disebut ketidakpastian? Mungkin karena aku tahu bahwa menunggu hal “itu” (dalam tanda kutip) adalah hal yang bodoh, dan nggak seharusnya dijalani. Masih ada kegiatan lain yang bisa dilakukan tengah malam begini, tidur misalnya. Tetapi bagaimana mungkin aku bisa memejamkan mata saat rasa tak bisa sedikit saja berhenti menggetarkan hati? Bagaimana bisa aku menenangkan perasaan yang makin lama makin berkobar tak tentu arah? (Fix, ini bohong). Ah ya, sekali lagi ini bukan surat cinta. Aku hanya ingin berbagi melalui tulisan yang mengalir begitu saja melalui jemari, berteman dengan segelas susu cokelat hangat yang sampai saat ini masih selalu aku suka (meski tanpa kenangan di dalamnya).

Aku nggak bisa gombal, aku nggak bisa bilang sayang sama kamu. Tapi, aku tahu, rasa itu ada. Aku nggak bisa bilang kangen kamu, aku nggak bisa bilang pengen ketemu kamu. Tapi, aku yakin kamu nggak tahu kalau setiap saat aku mengunjungimu dalam heningku. Meski hampa, meski kosong, meski tak berucap, tapi aku bersyukur karena rasa ini selalu menenangkanku atas apa yang terjadi. Semoga aku masih mampu mengagumi dalam diamku. Kalaupun aku tak mampu, semoga segalanya cepat berlalu. Entah memilikimu atau melupakanmu. Aku siap.

Siapalah aku ini? Hanyalah seseorang yang sempat meluluhlantakkan hatimu. Tidakkah kau tahu kalau seumur hidupku menyesalinya? Tentu saja kau tidak tahu, karena yang kau tahu aku hanya berbahagia atasnya. Kamu salah, aku tidak seperti itu. Aku pun sudah berkali-kali memohon maaf, berulang-ulang entah berapa kali. Kebekuan hatimu memaksaku untuk mencoba bersabar, menerima semua balasan yang mungkin telah kulakukan padamu. Entah kau maafkan atau tidak kesalahan yang pernah kuperbuat padamu, awalnya aku tak peduli, hingga saat ini sepertinya aku sudah mulai peduli jika ingin kau maafkan dan mengulang kisah yang pernah indah. Ya, hanya pernah indah. Maaf.

Kupikir, kamu sekarang sedang mengulur-ulur waktu untuk memberi jawaban atas pertanyaanku. Lalu kau akan membuatku jenuh? Ya, kamu berhasil membuatku jenuh dan ingin memaki diriku sendiri yang terlampau menyakitimu. Aku yang bodoh selalu menunggu hal yang tak pasti atau kamu yang terlalu jahat telah mengacuhkanku? Segala sesuatunya memang sawang sinawang, dilihat dari segi mana masalah itu dipusatkan. Tetapi, bukankah sekali lagi kukatakan kalau aku sudah minta maaf dan mengakui kesalahanku? Tidakkah kau sanggup memaafkannya? Tuhan saja Maha Mengampuni kok, mengapa kamu tidak?

Sakit tetaplah sakit jika rasa ini sepihak adanya. Namun, jika bisa diminimalisir tanpa harus mengundur-undur waktu yang telah memberinya kesempatan, kenapa harus dipersulit? Itulah kesalahan manusia yang baru saja kutemukan dari seorang teman. Dia mengirimiku gambar ini:



Mungkin bagimu ini hanya omong kosong, tapi untukku inilah kenyataan. Jika aku boleh bertanya, apakah memang diammu itu hanya mencari cara untuk menolak?

Eh, malah makin mellow. Kayaknya udah cukup segini dulu yang mau aku tulis. Lain kali disambung lagi dalam bahasa yang lebih sempurna, Hehee..

Terima kasih untuk:
Segelas susu cokelat hangat bersama kenangan yang (pernah) menguap bersamanya.
Inspirasi ini tercipta saat aku menunggumu…


Sambil nonton 5CM. Sambil baca novel JOMBLO. Sambil stalking timeline. Menunggu pernyataanmu. 25 Februari 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)