Selasa, 28 Januari 2014

[Review] "Remember When"



“Hidup juga kayak cuaca. Hari ini bisa hujan, besok bisa cerah. Tapi, lo nggak akan punya hujan selamanya, atau kemarau selamanya.” – (halaman 41)


Ini cerita tentang masa abu-abu, katanya masa-masa paling indah dalam hidup. Masa-masa SMA yang patut dikenang. Berawal dari Adrian yang suka dengan teman seangkatannya bernama Gia. Dia berniat menembaknya dan jika ditolak, Adrian akan berlari keliling lapangan sambil berteriak “Giaaaa I love youuu…..”. Hal tersebut yang menjadi awal taruhan bersama Moses. Oh ya, Moses ini juga sedang mengagumi teman sebangkunya bernama Freya, dan juga berniat menembaknya di hari yang sama dengan Adrian menembak Gia.

Kedekatan Adrian dan Moses pun tak perlu diragukan lagi. Mereka berteman sejak lahir karena ibu mereka bersahabat. Freya dan Gia pun bersahabat sejak SMA. Kata orang, mereka seperti langit dan bumi. Beda jauh, tapi keduanya merasa nyaman satu sama lain. Perlu diketahui, Freya adalah perempuan antisocial yang pendiam, malas bicara sih sebenarnya. Kebanyakan teman-temannya bilang kalau dia itu freak.

Adrian menembak Gia dan jawabannya, diterima! Dengan tantangan 10x berturut-turut memasukkan bola basket ke dalam ring. Dan tanpa Adrian sadari, sebenarnya Gia juga menyimpan perasaan yang sama dengan yang Adrian punya. Begitupun Moses, ia juga diterima oleh Freya.

Dengan berbekal persahabatan yang seperti itulah yang membuat keempatnya sering double date (Freya dan Moses, Adrian dan Gia). Tak lupa juga kadang mengajak Erik. Nonton film di bioskop, atau sekedar nongkrong di kafe. Erik ini sahabat Freya juga karena rumah mereka berdekatan, sahabatan sejak lama dan tahu persis bagaimana Freya. Sepertinya Erik tidak menyukai hubungan Freya dengan Moses dan hubungan Gia dengan Adrian. Karena menurutnya, cinta itu seperti permainan roller coaster, bukan datar-datar aja. Life is indeed wonderful.

Segalanya berubah setelah Adrian dan Freya bisa ngobrol seru mengenai hobi mereka yang kebetulan sama. Dan hanya Freya yang bisa mengerti tentang kehilangan semenjak ibunya Adrian meninggal karena kecelakaan. Perasaan mereka yang mulai berubah pun tak disadari oleh pasangan masing-masing, Gia dan Moses. Tetapi Erik menyadarinya. Hingga akhirnya Adrian pun sadar dengan rasa yang akhir-akhir ini berubah kepada Gia dan Freya.


“Apakah tiba-tiba menyukai seseorang karena dia mengerti itu salah? Apa menyimpan perasaan yang lain untuk seseorang yang selama ini nggak gue perhatikan itu mungkin?” – (halaman 118)


Mengkhianati sahabat, lebih tepatnya. Ya, novel ini ternyata bercerita tentang cinta, persahabatan, lalu pengkhianatan. Bukan salah Adrian yang kemudian jatuh cinta kepada Freya, pacar sahabatnya sendiri karena merasa lebih nyaman dengannya, dan bukan salah Freya pula jika ia adalah orang yang tepat yang datang pada waktu yang salah. Memang, sepertinya keadaan juga tak perlu disalahkan, tetapi hati berbicara lain.

Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya? Akankah Freya tetap menyayangi Moses seperti sebelumnya dan Adrian mencoba menghilangkan rasa cintanya kepada Freya lalu meneruskan hubungan dengan Gia? Lalu bagaimanakah kisah persahabatan mereka?

Novel ini sangat bikin terharu. Complicated dengan tokoh karakter yang berpindah-pindah. Ada kelebihannya juga sih menggunakan penokohan ini, salah satunya yaitu pembaca bisa mengetahui isi hati semua tokoh yang terlibat dalam novel tersebut, bukan hanya sang pemeran utamanya aja.

Dari novel ini aku sadar, nggak semua lelaki harus menuruti semua yang kita mau. Kadang mereka juga butuh sendiri, berdamai dengan jiwanya sendiri.

Meski di Bab 3 rasanya udah janggal. Freya bilang sudah 5 hari tak bertemu dengan Moses yang sibuk dengan acara OSIS, padahal di bab awal-awal sudah disebutkan kalau mereka sekelas, satu bangku malah. Kok aneh ya? Kenapa nggak bisa ketemu? Padahal nggak ada penjelasan pula dari penulisnya kalau Moses nggak mengikuti pelajaran di kelas atau apalah itu. Kekurangan yang hampir tidak nampak sih.

Kupikir ending nya sederhana, alurnya mudah ditebak, ternyata aku salah. Bahkan nggak kepikiran bakal berakhir seperti itu. Salut deh buat mbak Winna Efendi.
Semoga filmnya keren juga ya. Still waiting…

I give 4 / 5 stars  :)


Keterangan buku:
Penulis                    : Winna Efendi
Editor                     : Samira & Gita Romadhona
Proofreader            : Christian Simamora
Penata letak             : Wahyu Suwarni
Desainer sampul       : Dwi Anissa Anindhika
Penerbit                  : Gagasmedia
Cetakan                  : Kesembilan, 2013
ISBN                       : 979-780-487-9

 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)