Kamis, 26 Desember 2013

[Non-fiksi] It's my first love

Holaa, selamat datang di blog gado-gado milikku ini. Selamat berlibur buat kalian-kalian yang hari ini menikmati liburan hari Natal. Dan selamat bertugas jika Anda sedang menyelesaikan sebuah pekerjaan atau apalah itu namanya.

Seperti yang udah tertulis dalam judul blog di atas, aku mau bahas mengenai “Cerita Pertama Kali Jatuh Cinta”. Tulisan ini aku ikutkan dalam #giveaway blogmamad yang bisa dibuka di link ini nih. Hmm… Awalnya sih aku mau bahas tentang “Tips Jomblo Biar Bahagia” tapi berhubung aku nggak bisa jadi kocak seperti tulisan yang udah dikirim buat lomba, yaudah deh aku bahas tema satunya aja. Biar beda aja gitu.


Pertama kali jatuh cinta…

link

Ah, rasanya udah lama sekali waktu berlalu. Terlalu singkat rasanya pertemuanku dengannya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, itu yang kusebut sekitar 9 tahun yang lalu pada saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Aku mengenalnya dari seorang sahabatku. Sebut saja Mr. A (inisial sebenarnya) :p

Hmm… Jika menyebutkan inisial “A” rasanya bukan hanya 1 saja yang berlomba mendapatkan hatiku (ini serius). Masa-masa sekolah dasar adalah waktu yang tepat menginjak pubertas, dimana salah satunya ditandai dengan hadirnya perasaan menyukai lawan jenis. Cinta monyet, cinta pada anak-anak. Klasik.

Kembali lagi pada sebuah cerita tentang Mr. A. Terdapat 4 orang berinisial “A” yang berusaha memasuki celah hatiku pada saat itu. Ah, ini cerita yang sangat memalukan untuk pembaca remaja maupun dewasa. *Malu-malu kucing* Kok bisa? Ya bisa aja. Siapa yang menyangka, 9 tahun yang lalu diriku dikelilingi 4 manusia puber yang menjanjikan kenyamanan cinta monyet. Tinggal pilih mana yang menurutku nyaman dan terbaik diantaranya. (Eh, tau nggak sih padahal jaman dulu banget itu aku bukan cewek populer. Bukan pula gadis lemah lembut langganan juara kelas. Aku hanya perempuan pemalu, biasa-biasa aja, simple, dan cuek soal penampilan.)
Nggak kayak sekarang, Jomblo! Hikz. Tapi jomblo bukan berarti nggak bahagia lho, kadang jomblo itu adalah alasan terbaik untuk terlalu dini merasakan sayatan akibat patah hati yang menghujam terlalu dalam. Aw aw aw… Sekarang sih udah nggak jamannya galau-berkelanjutan-akibat-ditinggalin-pacar. Lhoh?? Iya, lagian si mantan aja bisa bahagia tanpa diriku, masa’ aku nggak bisa bahagia tanpa dia? Ya nggak?? *curcol sambil merem netesin air mata*

Alamaaaak! Kebiasaan nih suka ngoceh-ngoceh nggak jelas. Maap ya. Dimaafin kan kan?? :D
Lanjut…
Mr. A – yang pertama namanya A***. Dia temen sekelasku. Katanya temen deketku sih dia suka gitu sama aku. Ya emang sih suka usil, cari perhatian banget, lagaknya memuakkan, *maklum jaman SD dulu masih pada cupu* panggil-panggil diriku dengan sebutan ‘kelinci’. OMG ini sebutan yang paling aku inget banget sampai sekarang.

Mr. A – yang kedua namanya A*****, panggil aja Al (bukan anaknya Ahmad Dhani, bukan). Kukenal dia dari seorang teman. Al ini beda sekolah sama diriku. Ceritanya waktu itu dia terpesona padaku saat acara pesta siaga (acara pramuka anak SD). Dapat kabar begitu otomatis aku seneng banget lah. Kapan lagi coba, ditaksir sama anak laki-laki? Hahaa. Berkali-kali dapat kiriman salam lewat seorang teman, ya cuma kirim salam doang sih. Padahal berharapnya dikirimin cokelat (kecil-kecil matre :p)

Mr. A – yang ketiga namanya A*******. Dia juga beda sekolah sama aku, beda dengan Mr. A – yang kedua juga. Beda keyakinan juga sih, terlihat dari namanya. Aku kenal dia tentu saja dikenalkan dengan tetangga. Hampir mirip sih ceritanya dengan si Al tadi, sebatas kirim salam doang. Eh, pernah sih kirim cokelat kecil lewat temen, tapi ya namanya diriku baik hati dan suka berbagi, ya akhirnya dibagi buat 3 orang.

Mr. A – yang keempat namanya A****. Dia beda sekolah juga denganku dan kedua Mr. A yang lain. Aku sering lewat depan rumahnya, sering lewat depan sekolahnya, otomatis sering juga ketemu dia. Noraknya anak jaman dulu itu suka panggil-panggil sewaktu aku lewat di depannya. Kebayang banget malunya nggak sih? Tapi, entah rasa apa yang merasuki hatiku hingga aku terpanah asmara dengan lelaki ini. Lupa gimana cara pacaran kita dulu, tapi yang jelas sangat malu-maluin buat diceritain. Garing kayak krupuk, nggak seru. Ya gitu deh bikin absurd banget. Salah satu hal yang kuingat, kencan pertama di belakang sekolah dia. Aku diluar gerbang belakang sekolah, dan dia di dalam gerbang. Lupa ngomongin apa aja. Memalukan ya? Namanya juga masih anak-anak :p
Oh ya, aku inget waktu itu diriku sempat nyanyi dalam hati lagu nge-hits jaman dulu, Kisah Kasih di Sekolah-nya Marshanda.

link

Resah dan gelisah. Menungu di sini. di sudut sekolah. Tempat yang kau janjikan ingin jumpa denganku walau mencuri waktu. Berdusta pada guru.
 
Arrghh! Kisah kasih di sekolah emang indah. Indah banget. Saking sukanya diriku dengan dia, aku pernah kirim surat cinta 2x kalau nggak salah, tapi nggak dibales :(
Aku pernah juga kasih cokelat valentine, yang ini nggak berharap dibales sih, ikhlas aku berikan sebagai tanda cinta *cinta monyet, keleeeus*

Dengan Mr. A – yang keempat ini aku pernah bahagia, aku pernah kecewa, dan aku pernah sangat-sangat terluka. Ceritanya aku udah lulusan nih, da masuk ke SMP. Tiba-tiba aja ada cewek yang ngelabrak gitu. Maksudnya apa coba? Cewek itu bertiga dan diriku hanya seorang diri. Woi, nggak imbang mbak-mbak. Beraninya keroyokan nih. Bagaimana kisah seru selanjutnya??
Alhamdulillah, cuma bicara selow agak sengak dikit aja. Katanya si dia itu pacarnya Anton. Jeder!! Hatiku mendidih seketika, tapi tetep aman kok. Aku bilang “santai aja, aku nggak ada apa-apa kok sama dia”. Sejak saat itu pula, aku benci banget sama dia. Air mata pertama kali yang kuteteskan ketika aku menangis karena seorang laki-laki. Biasalah, anak zodiak ‘Leo’ yang kalau suka, sukanya kebangetan dan kalau benci, bencinya juga bisa kebangetan banget. *Ngomong apaan sih?*

link

Perlahan aku mencoba mengobati perihnya hati sejak pengkhianatan itu. Mungkin waktu itu aku yang terlalu GR karena perhatiannya padaku terlalu berlebihan. Mungkin juga dia yang memang brengsek, berani-beraninya mematahkan hatiku. Kukumpulkan lagi serpihan hati yang tercecer, kumulai langkah tanpanya. Tegar banget ya diriku di masa kecil, pantesan aja sekarang juga sabar banget menghadapi pacar yang suka menghilang tanpa pamit *upss*

“Dari sini aku belajar, terkadang seseorang yang baru kamu kenal nggak layak sepenuhnya untuk memiliki rasa sayangmu.”

Aku ingetin juga nih, cinta itu nggak melulu tentang bahagia, nggak melulu tentang bersenang-senang. Ada kalanya kita berada di titik depresi dan bagaimanapun juga kita harus kuat dan bangkit. Masa’ kalah sama keadaan? “Hai masalah besar, aku punya Tuhan yang lebih besar” kata Ayse dalam film 99 cahaya di langit Eropa. Jadi nggak usah khawatir buat yang lagi patah hati / cintanya nggak kesampaian, Tuhan masih nyimpen jodoh kita kok. Dia bakalan kasih yang terbaik buat kita. Percaya deh. Karena bahagia dan sedih kadang datangnya satu paket.







UPDATE : 9 Januari 2014
Terima kasih bang Mamad udah milih ceritaku menjadi Juara 3. Hadiah sudah mendarat mulus di kamar :D
Update pemenang #GiveawayBlogMamad bisa lihat di link ini


2 komentar:

  1. Selamat ya udah menang giveawaynya :)
    Ceritanya bagus nih, ada qoutesnya gitu :D

    BalasHapus
  2. Hai, terima kasih. kamu juga selamat ya juara 1 nya :)

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)