Kamis, 25 Juli 2013

Bila kau tak di sampingku


Tak seharusnya kita berpisah
Tak semestinya kita bertengkar
Karna diriku masih butuh kau

“Jangan diam terus, ngomong dong. Ngomong. Punya mulut buat bicara di telepon kan? Punya tangan buat sms kan?”
Entah setan apa yang seharusnya tak merasuki pikiranku untuk mengirimkan pesan singkat di nomor ponselmu. Ya, meskipun aku tahu mungkin tak akan terkirim. Mendadak isi dalam pikiranku ingin meledak begitu saja jika aku mengingat kejadian sepuluh minggu yang lalu. Dan sepertinya alam mengajakku murka bersama kenangan itu, dengan desiran hawa panas di siang yang terik. Kucoba sekuat tenaga untuk menahan amarah yang sepertinya sangat bergejolak.

Maafkanlah sikapku
Lupakanlah salahku itu


Aku tak tahu pasti kenapa selama sepuluh minggu kau tak memberiku kepastian tentang kabarmu. Komunikasi yang sangat membuatku muak. Ingin rasanya menukar tambah hati ini biar tak ada lagi tentang kamu yang selalu membayang di setiap atap kamar tidurku. Biar tak ada lagi tentang kamu yang menyusup dalam mimpi malamku.
Sungguh, aku ingin segera memperbaiki hubungan ini, hubungan aku dan kamu.


Terlalu bodoh untuk diriku
Menahan berat jutaan rindu
Apalagi menahan egoku



Semarang – Kalimantan dengan ratusan kilometer di dalamnya. Entah perasaan apa yang ada pada dirimu. Sekeras batu yang enggan menengok keberadaanku yang pernah hadir nyata di sisimu. Sekokoh itukah ego untuk meninggalkanku sendiri? Tanpa isyarat yang jelas.
Padahal jelas-jelas kau janjikan aku kata yang manis sebelum perpisahan itu.

Tak’kan kubiarkan kau menangis
Tak’kan kubiarkan kau terkikis
Terluka perasaan oleh semua ucapanku


Oke, memang aku pernah punya kesalahan sama kamu. Manusiawi kan? Kamu pun juga punya kesalahan dan aku rasa aku cukup sabar memendam semuanya. Hingga detik ini. Hingga kamu pun tak tahu sebenarnya aku tahu tentang sebuah rahasia pada kehidupan social mediamu.
Kupikir setelah aku mengalah dengan egomu yang tinggi, aku bakal seterusnya sama kamu. Tapi nyatanya kamu tetap pergi. Entah kembali entah tidak.

Maafkanlah semua sifat kasarku
Bukan maksud untuk melukaimu
Aku hanyalah orang yang penuh rasa cemburu
Bila kau tak di sampingku

Aku nggak bisa basa-basi buat minta maaf sama kamu. Aku nggak minta hal lain selain kebahagiaanmu denganku atau kebahagiaanmu dengan yang lain (yang belum kurelakan).
Dan, maaf aku cuma bisa menulis lewat ini, sebuah dunia dimana aku bisa mengutarakan semua perasaan dan konspirasi hati. Dunia yang nggak seramai twitter, facebook ataupun social media lainnya.
Namun, jika dalam tulisan ini tak bisa untuk meminta maaf, aku tak tahu harus dengan cara apa lagi agar aku bisa menemukanmu dalam duniaku yang sedang abu-abu. Tolong bawakan cahaya terang seperti tahun lalu, saat semuanya indah.

Dear my lovely ‘S’
Kapan pulang? Kapan kasih kabar?
Forgive me, please :’)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)