Senin, 24 September 2012

You

“Ya?” ucapku cuek.
Saranghae” ujarnya pelan, lesu, sepertinya menyesal.
“Segampang itu?” batinku.

Ah, mari kita flash back sebentar ke belakang. Semalam dia sibuk bersama kawan-kawannya seperti layaknya anak-anak cowok pada umumnya. Sudah pasti bisa ditebak bahwa dering handphone tak setiap kali dihiraukannya. Jadi, aku harus ekstrasabar, untuk menanti respon darinya. Aku sudah mencoba berulang kali untuk mengerti dan paham bahwa ada kalanya dia punya kesibukan seperti itu, dan kucoba berpikir hal-hal yang baik saja. Yaaaah… mau tak mau rasa kesal pasti ada, dan gelisah. Sebenarnya masih sabar sih, mengingat diriku kalau lagi hang out bareng temen-temen, memang terkadang seperti itu, walau aku tak secuek dirinya -__-. Mungkin karena dia laki-laki sih ya.

Meskipun sering tersendat, tapi aku sudah cukup senang dia memperhatikanku lebih hari ini. Bahkan berjanji tak akan pulang terlalu larut untuk menemaniku terlelap. Semoga saja dia menepatinya, amin.

Waktu itu jam 11. Oke, ini belum terlalu larut untuk ukuran anak cowok. Sabaaar… toh dia masih setia menemani via teks. Semakin larut hingga akhirnya aku terlelap. Aku sudah tak tahu apa yang terjadi dengan handphone-ku, aku letakkan begitu saja di sampingku.

“Nyesek,” kata anak zaman sekarang.

“Aku terbangun, tiba-tiba saja tentunya, dan langsung menyambar handphone-ku dan berharap dia mencariku. Tanpa disangka, nihil. Aku mencoba meneleponnya, tapi mungkin dia terlalu lelah sehingga tak menghiraukan handphone-nya lagi. Memang sesak rasanya tapi mau memaksa pun percuma, malah memperkeruh suasana. Aku putuskan untuk tidur lagi. Tentunya kecewa. Tentunya sangat susah untuk berpikir positif di saat seperti ini. Tapi, aku berusaha tak akan menangis. Ia saja bersikap biasa saja. Ia bisa seperti itu kenapa aku tak bisa cuek?

Matahari udah mulai menampakkan sinarnya meskipun masih malu-malu. Aku masih belum berani untuk menyambar handphone-ku cesepat kemarin begitu aku terjaga dari tidurku. Saat aku bisa tenang sejenak menghindarkanku dari rasa gelisah. Sebenarnya, apa yang ada di pikiranmu saat kau tak memberiku kabar dan menghilang begitu saja? Santai? Atau, gelisah sepertiku saat ini? Seingatku, aku selalu bingung seperti ini jika kau tak memberiku kabar. Tapi, kau tak pernah menghilang selama ini. Oke, aku harus menata perasaanku karena aku tak bisa mengawali pagi ini dengan perasaan yang berantakan seperti ini. Tuhan, apalagi ini, kenapa selalu ada saja yang datang lagi dan lagi. Tapi, aku yakin setelah semua ini pasti ada pelajaran yang memang harus aku dan dia pelajari lagi. Dan, apa yang Kau berikan tak akan melampaui batas kemampuanku. Itu saja yang kutanamkan pada diriku sendiri agar aku tetap bisa kuat meskipun sebenarnya tidak.

Tak ada kabar lagi darimu. Aku hanya bisa menghela napas. Oke, mungkin kau terlalu lelah, kau belum bangun, energimu belum terisi sepenuhnya, atau mungkin memang kau terlalu lelah untuk memperdulikanku? Ah, jangan hiraukan perkataanku yang terakhir. Berusaha berpikir positrif itu tak gampang, kadang malah seperti berusaha kuat padahal hanya berusaha berpura-pura kuat. Tapi, tetap saja, semuanya serba salah dan hari terasa begitu panjang, sangat panjang.

Aku ucapkan, “Selamat pagi.” Delivered.

Tapi, setelah kutinggal ini-itu, aku melirik layar ponselku, sama sekali tak ada respon. Oke, ini masih pagi jadi alas an-alasan tadi masih bisa dibenarkan dan masih bisa dicerna akal dan perasaan. Tapi, tetap saja gundah. Aku memutuskan untuk meneleponnya. Tersambung, tapi no answer. Ah, lelap sekali tidurnya tanpaku. Yah, memaksa pun tak akan mengubah keadaan. Pasti kalian tahu rasanya, kosong, hilang arah, dan tak tahu harus bercerita pada siapa, karena belum tentu mereka mengerti di mana letak permasalahannya.

Yah, aku juga punya kewajiban yang harus dijalankan. Meskipun sulit untuk berkonsentrasi, tapi memang harus dicoba. Ia saja bisa. Kembali lagi berpikir seperti itu. Mau dikatakan lebay pun memang seperti itu keadaannya. Atau, memang yang bisa berkata lebay itu kurang peka atau apa, tapi yang jelas aku lebih sensitive dari mereka. Ia menghilang tanpa kabar adalah hal yang tidak pernah bisa aku toleransi penuh seberapa keras aku mencoba. Tetap saja ujung-ujungnya badmood.

Hebat sekali mereka yang bisa bertahan, tertawa, dan berkata, “Ah, biarkan. Toh, aku juga sibuk di sini.”
Memang itu mudah ya? Atau, itu terlontar begitu saja?

Siang. Aku coba untuk menelepon kembali. Kali ini, provider menambah masalah. Aku emncoba untuk mengiriminya pesan, dan delivered. Sabar, itu yang bisa aku lakukan dan mencoba mengontrol emosiku. Beberapa kali, dan masih tak bisa di hubungi. Selang beberapa menit aku coba, masih tak bisa. Kantor provider ini ada di mana sih? Minta didemo. Aku coba bongkar handphone-ku , aku lepas baterai dan ­sim card-nya siapa tahu bisa kembali. Tapi, ternyata tetap nihil. Kantor provider seakan mengejekku minta dibakar. Semakin badmood. Rasanya ingin buru-buru pulang ke rumah. Yah, tentu kalian tahu apa yang aku rasakan. Ah, aku tinggalkan pesan saja, siapa tahu nanti dia akan merespon. Siapa tahu. Ya kan?

Ditunggu-tunggu, bagaikan menunggu Justin Bieber yang tak kunjung mem-follow-back  akun-akun fansnya, kemungkinannya kecil sekaliuntuk terjadi. Benar saja, sudah pukul 2 lebih, respon belum ada. Sesiang ini tak ada kabar darinya, kenapa entah itu selalu bisa membuatku tak bisa berfikir jernih dan badmood  berkepanjangan. Memang benar aku ketergantungan. Meskipun itu hanya sebuah kabar, aku yakinjika kau mencintainya, kau akan membutuhkannyadan merasa khawatir luar biasa saat ia menghilang seperti ini. Apalagi, jarak yang membentang tak bisa ditempuh dengan 5 langkah saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)