Rabu, 19 Februari 2014

Dear you,,,




Untuk kamu,
seseorang yang belum bisa kusebut namanya,

Cinta itu asin ya? Aku merasakannya, aku mencicipinya malam ini, aku… Argh, entahlah seperti menyesap air garam yang harus kutelan mentah-mentah.
Bukan, bukan air garam beneran, ini hanya air mata. Lelehannya seolah meruntuhkan kekesalan besar yang ada di hati. Setiap tetesannya seolah penyegar disaat kekeringan dalam benak dada.

Cinta? Sedini inikah kubilang cinta padamu? Seharusnya tidak. Percaya atau tidak, itu hak kamu.
Tapi, egoiskah aku jika aku ingin mendapatkan jawabanmu? Aku hanya ingin jawaban yang pasti, bukan keadaan yang menggantung seperti ini. Perih.
Kau bilang, kau ragu untuk semua ini, tapi apakah kau memberiku kesempatan untuk memperbaikinya? Tidak. Apa kamu tidak menginginkanku (lagi)? Katanya masih ada 'rasa' itu? Seharusnya kamu jujur saja. Daripada memberikan harapan yang seolah nyata namun hampa?

Untuk kamu,
seseorang yang masih belum bisa kusebutkan namanya,

Mungkin terlalu GR jika kusebut kamu dengan istilah ‘istimewa’ setidaknya untuk saat ini. Aku tak pernah tahu apa yang kamu mau dan kamu inginkan (karena aku bukan Tuhan yang Maha Mengetahui) aku tak pernah bisa menembus jauh dalam lubuk hatimu, karena kamu sangat-sangat tertutup, terkunci, rapat.

Ah ya, seharusnya aku realistis sama keadaan yang ada di kamu. Seseorang yang baru saja mengutarakan perasaannya kepada perempuan lain. Harusnya aku mundur tanpa membiarkan langkahku maju sejengkal pun, tapi aku terlalu penakut, aku terlalu takut kehilanganmu. Klasik memang, tanpa aku sadar kalau sebenarnya kamu memang sudah pergi, meninggalkanku bersama semua kenangan.

Ini yang pertama kalinya setelah beberapa bulan terakhir aku tak membasahi mata serta wajahku dengan air mata. Ya, ini air mata pertama tahun ini yang sepertinya mendesak begitu saja ingin keluar dari persembunyiannya.
Sepaket air mata, tulus, doa, dan sedikit perih.
Dedikasi untuk kamu, lagi-lagi untuk kamu. Seseorang yang tak bisa ku eja namanya dalam sebuah kata, tapi selalu kuteriakkan dengan lantang dalam hati.

Aku nggak tau sejak kapan rasa ini muncul dan hinggap di benakku. Aku pernah menikmati bahagia bersamamu, aku pernah memilikimu, ya kita memang pernah saling memiliki.
Oh ya, ini bukan surat cinta lho, bukan. Ini hanya sekedar penggalauanku di malam ini saja. Jangan baca di label postingan ini, Jangan!!

Back to the topic. Jadi gimana? Tidakkah kau ingin segera mengakhiri kegundahan hatiku?
Silakan jawab “ya” lalu kita sama-sama menemukan kebahagiaan yang pernah tertunda,
atau silakan jawab “tidak” untuk menghengkangkanku dari pandanganmu, membiarkan harimu tenang tanpa aku yang mengusikmu.

Tolonglah, aku tidak ingin menunggu lama. Tapi, aku juga sepertinya tak pantas membicarakan hal-hal semacam ini yang seolah tidak ada artinya untukmu.

“Jika membuka kembali hati kepada seseorang adalah sebuah kesalahan, mungkin apa yang sedang kulakukan saat ini adalah kesalahan terbesar. Namun, aku tak tahu apakah aku punya kesempatan untuk membatalkan perasaanku agar tidak terlalu liar melangkah atau malah sebaliknya, aku terlalu berani mengambil resiko besar. Entahlah.”


NB:
·         Terima kasih untuk secarik kertas dan pulpen tempatku mengadu tanpa gaduh, menemaniku menulis kegundahan malam ini, kamu memang sungguh sahabat terdekatku.
·         Terima kasih untuk kipas angin yang dengan cepatnya mengeringkan air mata yang meluncur melalui pipi, kalau saja kamu bahu pasti tak menunggu lama akan kupeluk.
·         Terima kasih untuk whatsapp beserta percakapan hangat bersama sahabat.
·         Terima kasih untuk setetes darah dari hidung yang membuatku benar-benar berhenti menangis, menyadarkanku bahwa ada yang lebih perlu dikhawatirkan selain memikirkanmu, ada hal yang perlu diperhatikan lebih seksama selain rasa ini untukmu.
·         Dan terima kasih untuk kamu, pengabaian yang cukup menyakitkan ini menjadikanku pelajaran untuk tak menyakitimu (lagi).

2 komentar:

  1. temanku pernah berbicara padaku..
    jika ada seorang yang kau cintai,,dan dia tidak menggubris percayalah segera tinggalkan dia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mengingatkan :)

      Hapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)