Sabtu, 08 Februari 2014

Analogi bahagia

Bahagia itu seperti meneguk air es di kala terik panas matahari menyengat kulit. Seperti merasakan kehangatan cokelat panas yang mengalir melalui tenggorokan saat hujan deras mengguyur. Sederhana.


Tetapi, bahagia kadang tak sesederhana yang kita kira sebelumnya. Misalnya, merelakan kekasih yang pergi meninggalkan kita entah kemana, meski dengan alasan demi kebahagiaannya, rasanya ‘bahagia’ cuma sebagai kedok. Bukankah bahagia itu ketika kita saling berbagi rasa, baik suka ataupun duka? Bukankah bahagia itu tidak saling meninggalkan satu sama lain?


Tetapi, bahagia kadang juga tak semudah membalikkan telapak tangan. Tak mudah seperti mengubah sebuah kesalahan menjadi seolah tak pernah terjadi apa-apa. Seperti analogi paku yang ditancapkan pada kayu, walaupun paku tersebut sudah dicabut tetapi masih ada sisa goresan bahkan lubang yang membekas pada kayu. Sama halnya dengan hati, karena meskipun sakit hati telah termaafkan, tetapi bisa saja masih membekas.


Bahagia itu nggak ada patokannya. Mengalir terus menerus seperti air di sungai pada musim hujan. Ada kalanya air itu bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari, mencuci misalnya. Ada kalanya juga merusak pemukiman dengan banjir bandang. Toh itu juga akibat ulah manusia yang tidak menyadari betapa pentingnya keseimbangan alam.
Begitu juga dengan bahagia, terkadang seseorang begitu terlena dengan kebahagiaannya sehingga melupakan apa yang harus dicapai untuk lebih baik lagi di kemudian hari.

Mari kita jadikan kebahagiaan yang telah diraih dengan mensyukuri segala hal tentang hidup. Tentang cinta yang hakiki, cinta kepada Allah dan Rosulnya serta kepada orang tua. Juga tentang cinta hanya sekedar mampir, hanya sementara.

Sekali lagi, bahagia itu sederhana. Kita hanya tak boleh lengah dan selalu bersyukur atasnya. 

3 komentar:

  1. selalu bersyukur dan berbagi. supaya kita dapat merasakan indahnya kebahagiaan.
    keren artikelnya

    kalau ada waktu main ke blogku juga ya

    BalasHapus
  2. Karena bahagia itu terkadang hanya satu dimensi sehingga kita mudah terlena lalu melupakan dimensi yang lain

    Salam blog walking! :)

    BalasHapus
  3. Neni Safitri, sebuah nama yang indah dan bagus..
    Aku setuju sekali, bila kebahgiaan dianalogikan seperti air. Mengalir tanpa henti dan bermanfaat, namun kadang merusak seperti banjir.

    Keren nih.. nice post Neni...salam kenal ..

    BalasHapus

Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak.
Terima kasih dan selamat datang kembali :)